Pertamina bidik Kilang Cilacap hasilkan bahan bakar hijau skala besar

2 hours ago  ·  4 min read
By Daniel Johnson - fukushimask.com
739fd821-2e63-4e63-92c1-71d16964c826

Kilang Cilacap Disiapkan Menjadi Pusat Produksi Bahan Bakar Hijau

Fukushimask.com – PT Pertamina Patra Niaga menempatkan Kilang Cilacap, Jawa Tengah, sebagai kandidat proyek green refinery pertama di Indonesia yang ditujukan untuk menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan dalam kapasitas besar. Arah pengembangan ini menghubungkan agenda pengurangan emisi dengan kebutuhan menjaga pasokan energi nasional.

Salah satu fokus utamanya adalah pengembangan sustainable aviation fuel atau SAF, yaitu bahan bakar penerbangan yang dirancang sebagai alternatif dengan jejak lingkungan lebih rendah. Kilang Unit IV Cilacap dipandang memiliki posisi penting untuk memperkuat pengembangan energi hijau dan kemandirian pasokan SAF di dalam negeri.

“Bagi kami, keberlanjutan dan ketahanan energi bukan dua hal yang berjalan sendiri-sendiri. Keduanya perlu dibangun secara bersamaan,”

Pernyataan VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora tersebut menggambarkan arah proyek yang tidak hanya berorientasi pada produk energi baru. Pengembangan fasilitas juga diharapkan memperluas rantai nilai energi melalui pemanfaatan bahan baku yang selama ini kerap diperlakukan sebagai limbah.

Minyak Jelantah Masuk Rantai Nilai Energi

Bahan baku berupa used cooking oil atau UCO, yang dikenal luas sebagai minyak jelantah, menjadi bagian penting dalam rencana produksi SAF. Pemanfaatan minyak bekas pakai tersebut membuka peluang untuk mengolah sumber daya sisa menjadi material bernilai tambah bagi sektor energi.

Skema ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, ketika material tidak langsung berakhir sebagai limbah, melainkan diproses kembali untuk kegunaan baru. Dalam konteks penerbangan, penggunaan bahan bakar yang lebih berkelanjutan menjadi relevan seiring kebutuhan industri terhadap pilihan energi yang lebih ramah lingkungan.

Pertamina Patra Niaga memandang pengembangan SAF sebagai bagian dari penyesuaian produk dan layanan energi terhadap perubahan kebutuhan industri. Sektor penerbangan memerlukan pasokan avtur, sementara transisi energi mendorong hadirnya opsi bahan bakar yang dapat menekan dampak emisi.

Target Proyek Dimulai pada 2027

Rencana pembangunan kilang bioavtur akan ditempatkan di area seluas 17,5 hektare yang berdekatan dengan Kilang Unit IV Cilacap. Nilai investasi proyek tersebut diperkirakan mencapai 1,1 miliar dolar AS, dengan sasaran fasilitas mulai beroperasi pada 2029.

“Kami target proyek itu jalan pada 2027,”

Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap Hermawan Budiantoro menyampaikan target tersebut saat meninjau pelaksanaan program Desa Energi Berdikari di Dusun Bondan, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap, pada Kamis. Tahap pembangunan yang direncanakan mulai berjalan pada 2027 akan menjadi awal menuju peningkatan kapasitas produksi bioavtur secara signifikan.

Saat ini, Unit Thermal Distillate Hydro Treating atau TDHT Cilacap telah memproduksi bioavtur sebesar 27 kiloliter per hari. Unit tersebut merupakan bagian dari fasilitas penghasil avtur di Cilacap. Setelah kilang bioavtur baru beroperasi, kapasitas produksi ditargetkan naik sebesar 860 kiloliter per hari.

Dengan tambahan tersebut, total kemampuan produksi SAF di Cilacap diproyeksikan mencapai 887 kiloliter per hari pada 2029. Kenaikan kapasitas ini menunjukkan skala proyek yang dituju, dari produksi yang telah berjalan menuju fasilitas yang mampu memasok volume lebih besar.

Dampak Ekonomi dan Lingkungan

Selain menopang pengembangan bahan bakar penerbangan yang lebih berkelanjutan, proyek kilang bioavtur di Cilacap diproyeksikan memberi dampak ekonomi yang besar. Kontribusinya terhadap produk domestik bruto diperkirakan dapat mencapai Rp199 triliun setiap tahun.

Proyek tersebut juga berpotensi menyerap sekitar 5.900 tenaga kerja. Kebutuhan tenaga kerja dapat muncul dari berbagai tahapan, mulai dari pembangunan fasilitas hingga aktivitas yang berkaitan dengan rantai pasok bahan baku dan operasional produksi setelah fasilitas berjalan.

Dari sisi lingkungan, produksi bahan bakar ramah lingkungan itu diproyeksikan dapat menurunkan emisi tahunan hingga 600 ribu ton setara karbon dioksida atau CO2e. Angka tersebut mencerminkan peran yang diharapkan dari penggunaan bahan bakar alternatif dalam mendukung upaya pengurangan emisi.

Kilang Cilacap sendiri memiliki arti strategis karena akan menjadi lokasi pengembangan produksi SAF skala besar di Indonesia. Apabila rencana ini berjalan sesuai target, fasilitas tersebut dapat memperluas kemampuan nasional dalam mengolah bahan baku seperti minyak jelantah menjadi produk energi untuk kebutuhan penerbangan.

Pengembangan ini juga memperlihatkan bahwa transisi energi dapat berkaitan dengan penguatan kapasitas industri di dalam negeri. Produksi SAF bukan sekadar menghadirkan pilihan bahan bakar baru, melainkan juga membangun keterhubungan antara pengelolaan sumber daya sisa, investasi industri, penciptaan pekerjaan, dan kebutuhan energi yang lebih berkelanjutan.

Dengan target pembangunan dimulai pada 2027 dan operasi komersial pada 2029, Kilang Cilacap diproyeksikan menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan pengembangan bahan bakar hijau nasional. Keberhasilan proyek akan ditentukan oleh kesiapan pembangunan fasilitas, keberlanjutan pasokan bahan baku, serta kemampuan menjaga produksi pada kapasitas yang telah ditargetkan.

Frequently Asked Questions

What is Pertamina bidik Kilang Cilacap hasilkan bahan?

Pertamina bidik Kilang Cilacap hasilkan bahan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Pertamina bidik Kilang Cilacap hasilkan bahan matter?

Pertamina bidik Kilang Cilacap hasilkan bahan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category