Wamenperin: Industri Tekstil Indonesia Tetap Kuat Meski Rupiah Melemah
Solution For – Dari Jakarta, Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, menyatakan bahwa penurunan nilai tukar rupiah serta ketidakstabilan pasar modal tidak secara signifikan mengganggu sektor industri tekstil. Meski ada isu-isu yang menyebutkan bahwa kenaikan mata uang asing dan pelemahan rupiah berdampak besar pada industri, Faisol menegaskan bahwa sektor ini justru menemukan peluang dalam situasi yang tidak menentu. “Tidak semua kondisi ekonomi global membuat industri tekstil kita goyah, justru sekarang ini mereka mengalami peningkatan,” ujarnya dalam pernyataan resmi yang dikutip pada hari Kamis lalu.
Kunjungan ke Bandung untuk Evaluasi Sejumlah Sektor
Sebagai bagian dari upaya mengecek kinerja industri, Faisol melakukan kunjungan ke PT Gajah Angkasa Perkasa di Bandung. Tujuan utama dari kunjungan tersebut adalah untuk mengamati proses produksi serta mengukur kemampuan industri tekstil dalam menghadapi tantangan ekonomi global. “Dari hasil observasi, industri tekstil Indonesia memiliki fondasi yang kuat, bahkan terlihat mampu bertahan di tengah krisis mata uang dan fluktuasi pasar modal,” kata Wamenperin Riza.
“Fundamental industri tekstil kita tidak tergoyahkan oleh pelemahan rupiah atau ketidakstabilan pasar. Saya juga yakin sektor ini memiliki daya tahan tinggi terhadap perubahan eksternal,” ujar Faisol dalam wawancara terpisah.
Dalam konteks ini, Faisol menyoroti peran pemerintah dalam memastikan dukungan yang memadai bagi industri. “Presiden sudah memberikan arahan agar bea cukai menjadi instrumen utama dalam memperkuat ekonomi nasional, dengan fokus pada pengurangan barang ilegal, tidak memenuhi standar, dan yang mengancam pasar dalam negeri,” tambahnya.
Ekspor dan Penargetan Pasar Baru
Dalam rangka meningkatkan daya saing, Faisol mendorong industri tekstil untuk memanfaatkan dinamika geopolitik global sebagai peluang baru. Salah satu langkah strategis yang diusulkan adalah melalui perjanjian dagang dengan Eropa, yang memberikan keuntungan berupa bea masuk 0 persen untuk produk tekstil Indonesia. “Ini adalah kesempatan emas bagi industri nasional kita untuk menembus pasar ekspor yang lebih luas,” kata Wamenperin Riza.
PT Gajah Angkasa Perkasa, salah satu perusahaan yang dikunjungi, saat ini mampu memproduksi sekitar 3 juta meter produk garmen per bulan. Produksi ini tidak hanya memenuhi permintaan di pasar dalam negeri, tetapi juga untuk ekspor, khususnya seragam militer dan pemerintahan di negara-negara seperti Malaysia, Jepang, dan India. Direktur Gajah Group, Dedy Zein, mengungkapkan bahwa perusahaan tersebut memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai 85 persen, yang menunjukkan komitmen terhadap penggunaan bahan lokal.
“Kami optimis bisa menambahkan negara tujuan ekspor, termasuk Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Prancis, Inggris, Spanyol, Korea Selatan, Vietnam, Papua Nugini, dan Kanada,” ujar Dedy Zein.
Selain produk seragam, PT Gajah Angkasa Perkasa juga melibatkan diri dalam produksi berbagai macam produk garmen, seperti sepatu, tanda pangkat, kain batik, hingga busana kasual. Dedy menekankan bahwa perusahaan terus berupaya meningkatkan variasi produk untuk memenuhi kebutuhan pasar yang semakin beragam. “Dengan TKDN yang tinggi, kami percaya bahwa produk Indonesia bisa bersaing secara internasional, baik dalam hal kualitas maupun harga,” tambahnya.
Daya Tahan Ekonomi dan Kontribusi Industri
Faisol Riza juga menyoroti kontribusi industri tekstil terhadap perekonomian Indonesia. “Industri ini tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi juga menjadi motor penggerak ekspor, yang memperkuat ketergantungan ekonomi negara,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pemerintah terus berkomitmen untuk menjaga kualitas produk dan meningkatkan efisiensi produksi agar industri tetap kompetitif di tingkat global.
Menurut data yang dihimpun, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) menjadi salah satu sektor yang berkontribusi signifikan pada nilai tambah ekspor. Dengan tingkat produksi yang stabil, industri ini dianggap sebagai pelaku utama dalam mengurangi risiko inflasi dan meningkatkan daya tahan ekonomi nasional. Faisol menyampaikan bahwa kerja sama antara pemerintah dan industri menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan ekonomi yang terus berubah.
“Kami percaya bahwa daya tahan industri tekstil Indonesia tidak hanya tergantung pada kondisi pasar, tetapi juga pada kebijakan yang tepat dan inovasi dari produsen lokal,” kata Wamenperin Riza.
Dedy Zein menegaskan bahwa PT Gajah Angkasa Perkasa terus berupaya mengembangkan pasar ekspor, termasuk ke negara-negara yang memiliki permintaan tinggi terhadap produk tekstil berkualitas. “Tujuan kami adalah tidak hanya menyuplai seragam, tetapi juga bahan baku serta produk khusus seperti uniform militer di luar negeri,” tambahnya. Ia menyoroti peran penting industri dalam membangun ekosistem ekonomi yang mandiri.
Dalam pandangan Faisol, keberhasilan industri tekstil bukan hanya soal produksi, tetapi juga tentang adaptasi terhadap dinamika pasar. “Peningkatan ekspor yang terukur menunjukkan bahwa sektor ini mampu menyesuaikan diri dengan perubahan ekonomi global, yang merupakan indikator kuatnya fundamental industri,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa pemerintah akan terus berupaya memberikan dukungan teknis dan finansial untuk menjaga kinerja industri dalam jangka panjang.
Dengan berbagai upaya yang telah dilakukan, industri tekstil Indonesia diharapkan bisa menjaga posisi dominannya di pasar internasional. Faisol Riza yakin bahwa sektor ini akan terus berkembang, terutama dalam meningkatkan inovasi dan kualitas produk, serta memanfaatkan peluang perdagangan bebas bea masuk. “Industri tekstil harus terus bergerak maju untuk menghadapi tantangan masa depan,” pungkasnya.
