Ekonomi

Main Agenda: Titiek minta stok beras usia simpan di atas satu tahun dijadikan pakan

Titiek Minta Stok Beras yang Usia Simpan Melebihi Satu Tahun Diubah Jadi Pakan Main Agenda - Jakarta – Dalam rapat kerja Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat

Desk Ekonomi
Published June 11, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Titiek Minta Stok Beras yang Usia Simpan Melebihi Satu Tahun Diubah Jadi Pakan

Main Agenda – Jakarta – Dalam rapat kerja Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dengan Menteri Pertanian dan Kepala Badan Pangan Nasional (BPN) Andi Amran Sulaiman, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto mengungkapkan kekhawatiran terkait kualitas stok beras nasional yang sudah disimpan lebih dari satu tahun. Ia menyarankan agar beras berusia simpan antara satu hingga satu setengah tahun digunakan sebagai bahan pakan, bukan lagi untuk bantuan pangan, agar kualitasnya tetap terjaga. “Saya minta supaya (stok CBP) di atas satu tahun, 1,5 tahun, itu sudahlah buat pakan ajalah Pak. Jangan buat bantuan pangan lagi,” ujar Titiek, Rabu, dalam rapat tersebut.

Kebutuhan Percepatan Perputaran Stok

Titiek menekankan pentingnya percepatan perputaran stok beras nasional untuk memastikan cadangan tetap memenuhi standar kualitas. Menurutnya, Komisi IV sejak awal telah mendorong agar beras yang disimpan di gudang tidak memiliki usia simpan melebihi enam bulan. Namun, data yang ia peroleh menunjukkan bahwa masih ada beras dengan usia simpan antara satu hingga satu setengah tahun dalam jumlah yang signifikan. Dari total stok beras pemerintah yang mencapai sekitar 5 juta ton, sekitar 1,3 hingga 1,5 juta ton diperkirakan sudah berusia lebih dari setahun. “Ini saya baru minta nih ke staf bapak juga nih yang jawab, bukan saya ngarang-ngarang. Yang umur satu tahun sampai 1,5 tahun itu cukup tinggi. Ada 1,3 juta (ton). Bapak punya stok 5 juta tapi yang warnanya putih tua itu ada 1,5 juta ton,” jelas Titiek.

Permasalahan di Jawa Timur dan Jawa Barat

Selain itu, Titiek menyoroti kondisi stok beras di Jawa Timur yang menurut data yang diterimanya menunjukkan sebagian cadangan telah berusia lebih dari satu tahun. Dari total stok sekitar 1,4 juta ton di daerah tersebut, sekitar 400 ribu ton di antaranya memiliki usia simpan yang melebihi ambang batas. Situasi serupa juga terjadi di Jawa Barat, sehingga diperlukan langkah-langkah percepatan distribusi agar stok lama segera berputar dan digantikan oleh beras baru. “Ini tolong diperhatiin Pak supaya perputarannya cepat. Jadi enggak terjadi lagi hal-hal yang tidak diinginkan, jangan kasih sasaran tembak. Jadi tolong diperhatiin lagi stoknya Pak, supaya berputarnya lebih cepat lagi,” pinta Titiek.

Respons Menteri Pertanian dan BPN

Dalam responsnya, Menteri Pertanian sekaligus Kepala BPN Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa pihaknya telah meminta Perum Bulog melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas stok beras pemerintah yang disimpan di gudang. Amran mengungkapkan bahwa dirinya telah memanggil Direktur Utama Perum Bulog sehari sebelum rapat untuk mendapatkan penjelasan rinci mengenai kondisi stok beras, termasuk potensi kerusakan yang terjadi di sejumlah gudang penyimpanan. “Kami sudah panggil Dirutnya kemarin dan tadi pagi baru tiba dari China. Saya katakan, Pak Dirut ini pasti ditanya besok. Ini jangan jangan Bapak yang berbuat, masalahnya ke saya. ‘Oh siap Pak Menteri’,” tulis Amran dalam menirukan percakapan dengan Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani.

Hasil Evaluasi Perum Bulog

Dari hasil laporan Perum Bulog, jumlah beras yang mengalami kerusakan mencapai 3.619 ton, atau hanya sebagian kecil dari total cadangan beras pemerintah yang saat ini sekitar 5,3 juta ton. Amran menyebutkan bahwa selain beras yang rusak, ada sekitar 93.488 ton beras yang memerlukan perhatian khusus. Namun, sebagian besar dari stok tersebut masih dapat diperbaiki dan diolah kembali agar layak digunakan. “Kalau ada sebagian yang tidak bisa dipulihkan kualitasnya, beras masih bisa diolah jadi tepung sehingga tetap punya nilai ekonomi dan tidak terbuang percuma,” terang Amran.

Potensi Kerusakan di Lapangan

Amran juga mengakui bahwa dalam kunjungan lapangan ke daerah, pihaknya menemukan beberapa beras dengan kualitas kurang baik. Temuan ini langsung ditindaklanjuti dengan perintah kepada Bulog untuk mengganti beras tersebut pada hari yang sama agar tidak sampai diterima masyarakat. Meski demikian, ia meminta Bulog meningkatkan kewaspadaan dalam pengelolaan stok karena cadangan beras saat ini merupakan hasil produksi petani dalam negeri. “Karena stok yang melimpah harus diimbangi dengan pengelolaan yang baik agar kualitas tetap terjaga dan manfaatnya bisa dirasakan masyarakat,” tambah Amran.

Strategi untuk Mengoptimalkan Stok

Titiek menambahkan bahwa alih-alih menghabiskan beras berusia simpan lebih dari satu tahun untuk bantuan pangan, pemerintah lebih baik menggunakan stok tersebut sebagai pakan. Langkah ini, menurutnya, dapat mencegah penurunan kualitas beras yang berdampak pada program pangan sosial. “Karena beras yang diberi bantuan harus dalam kondisi terbaik agar masyarakat mendapatkan manfaat maksimal,” kata Titiek. Ia menegaskan bahwa stok beras yang sudah usang tidak hanya merugikan keberlanjutan program bantuan, tetapi juga bisa menjadi masalah ketika digunakan untuk keperluan konsumsi.

Peran Bulog dalam Pengelolaan Stok

Perum Bulog, sebagai badan yang bertugas mengelola stok beras pemerintah, diharapkan dapat memperbaiki sistem penyimpanan dan distribusi agar tidak ada stok yang terlalu lama disimpan. Titiek mengingatkan bahwa beras yang berusia lebih dari setahun tidak hanya kehilangan kualitas, tetapi juga bisa berubah warna dan aroma, yang membuatnya kurang diminati oleh masyarakat. “Karena itu, perlu ada kebijakan yang lebih tegas agar stok yang lama segera digunakan untuk tujuan yang lebih sesuai,” tambahnya.

Penyesuaian Kebijakan untuk Stabilisasi Pasokan

Dalam rangka menjaga stabilitas pasokan dan harga beras, Titiek menyarankan agar pemerintah menyesuaikan kebijakan penggunaan stok cadangan. Menurutnya, beras yang telah melewati usia simpan yang disarankan sebaiknya tidak lagi dipakai untuk bantuan, melainkan dialihkan menjadi pakan ternak. Dengan demikian, stok beras yang sekarang dalam kondisi baik tetap bisa digunakan untuk kebutuhan masyarakat. “Selain itu, kita juga perlu mempercepat distribusi agar stok tidak terlalu lama berada di gudang,” kata Titiek.

Impak pada Ketahanan Pangan Nasional

Kebijakan ini, menurut Titiek, dapat meningkatkan ketahanan pangan nasional karena stok beras yang baik akan lebih mampu menopang kebutuhan masyarakat saat terjadi krisis pasokan. Ia juga menekankan bahwa cadangan beras yang diusulkan diubah menjadi pakan tidak akan mengurangi jumlah pasokan untuk konsumsi, tetapi justru memperkuat efisiensi penggunaan stok. “Dengan mengalihkan beras lama ke pakan, kita bisa memastikan bahwa beras yang dibagikan kepada masyarakat tetap dalam kondisi optimal,” pungkas Titiek.

Kebutuhan Kolaborasi Pemerintah dan Bulog

Aminuddin, dalam diskusinya, menyatakan bahwa keberhasilan pengelolaan stok beras bergantung pada kolaborasi antara pemerintah dan Bulog. Ia menegaskan bahwa evaluasi yang dilakukan Perum Bulog adalah langkah penting untuk mengidentifikasi risiko kerusakan dan memperbaikinya sebelum stok tersebut digunakan untuk keperluan pangan. “Pemerintah harus terus memantau kondisi stok dan memastikan bahwa semua beras yang disimpan tidak melebihi usia simpan yang telah ditentukan,”

Leave a Comment