Ekonomi

Meeting Results: Titiek minta bawang putih capai swasembada secepatnya tanpa impor

Titiek Soeharto Minta Pemerintah Fokus pada Swasembada Bawang Putih Meeting Results - Di Jakarta, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi, yang akrab

Desk Ekonomi
Published June 11, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Titiek Soeharto Minta Pemerintah Fokus pada Swasembada Bawang Putih

Meeting Results – Di Jakarta, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi, yang akrab dikenal dengan nama Titiek Soeharto, menyoroti kebutuhan pemerintah untuk mempercepat program swasembada bawang putih. Ia menekankan bahwa impor bawang putih tetap menjadi poin utama yang perlu diperbaiki, karena ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku tersebut masih cukup signifikan. Dalam rapat kerja yang dihadiri Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan jajaran Badan Pangan Nasional, Titiek mengingatkan pentingnya komitmen bersama dalam mengurangi ketergantungan pada impor.

Peran Kementerian Pertanian dalam Pengembangan Bawang Putih

Titiek mengemukakan bahwa hingga saat ini, program pengembangan bawang putih belum tercantum secara eksplisit dalam dokumen program kerja prioritas nasional. Hal ini menurutnya menimbulkan pertanyaan mengapa bawang putih tidak dianggap sebagai prioritas utama. “Pak Menteri, kenapa bawang putih tidak termasuk dalam program prioritas nasional?,” tanyanya selama sesi pendalaman. Titiek berharap pemerintah dapat menyusun strategi yang lebih konkret agar kebutuhan bawang putih dapat dipenuhi secara mandiri.

“Kita harus sepakat semua nih, harus swasembada. Bapak (Menteri Pertanian) harus bikin targetnya kapan mau swasembada?,” tegas Titiek.

Menjawab pertanyaan Titiek, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa pemerintah telah melakukan revisi anggaran untuk mendukung pengembangan bawang putih. Menurut Amran, program ini sudah termasuk dalam rencana perencanaan dan tidak ditunda hingga tahun depan. Ia menyatakan bahwa Kementerian Pertanian telah mengalokasikan dana sebesar Rp260 miliar tahun ini khusus untuk pengembangan bawang putih. Langkah tersebut, menurutnya, adalah respons atas masukan yang diberikan oleh Komisi IV DPR RI.

Kesalahan Dokumen dan Komitmen Pemerintah

Titiek kembali mengingatkan bahwa masalah utama bukan hanya soal anggaran, melainkan juga prioritas nasional yang belum terlihat jelas. Ia mempertanyakan keberadaan bawang putih dalam dokumen yang diserahkan kepada Komisi IV. Menurutnya, angka 80 hingga 85 persen kebutuhan bawang putih yang dipenuhi dari impor menunjukkan bahwa program ini belum memiliki dampak nyata. Amran mengakui adanya kemungkinan kesalahan penulisan dalam dokumen dan menegaskan bahwa pengembangan bawang putih tetap menjadi bagian dari agenda pemerintah.

Amran menjelaskan bahwa keberhasilan program swasembada bawang putih tergantung pada beberapa faktor. Salah satunya adalah karakteristik benih bawang putih yang memiliki masa dormansi cukup panjang, sekitar enam hingga delapan bulan. Kondisi ini membuat proses peningkatan produksi lebih lambat dibandingkan komoditas lain seperti padi. “Masa dormannya itu memang menjadi tantangan utama, bukan hanya karena masalah produksi,” tambahnya.

Sentra Produksi dan Target Swasembada

Dalam upaya mengatasi tantangan tersebut, pemerintah telah menunjuk beberapa daerah sebagai sentra pengembangan benih bawang putih. Daerah yang ditetapkan antara lain Sembalun di Nusa Tenggara Barat, Temanggung di Jawa Tengah, dan Humbang Hasundutan di Sumatera Utara. Melalui penguatan sentra benih ini, Amran yakin bahwa produksi bawang putih akan meningkat secara bertahap. “Kita juga menargetkan perluasan areal tanam hingga 18.000 hektare pada tahun depan,” ujarnya.

Amran menegaskan bahwa Kementerian Pertanian telah menetapkan target swasembada bawang putih dalam waktu tiga hingga lima tahun. Ia menjelaskan bahwa program ini memiliki potensi besar jika diberikan dukungan yang tepat. “Target tiga tahun paling cepat, paling lambat lima tahun. Karena benih bawang putih membutuhkan masa istirahat yang lebih lama dibandingkan benih padi, yang bisa selesai dalam dua tahun,” jelasnya.

Kebutuhan Nasional dan Tanggung Jawab Bersama

Titiek menyampaikan bahwa bawang putih bukan hanya kebutuhan wilayah tertentu, melainkan kebutuhan masyarakat secara nasional. Ia menekankan bahwa seluruh pihak, termasuk lembaga pemerintah dan legislatif, harus memiliki komitmen sama untuk mewujudkan swasembada. “Bawang putih digunakan setiap hari dalam berbagai kebutuhan konsumsi, seperti masakan dan kebutuhan sehari-hari. Jadi, swasembada itu penting untuk kestabilan pangan,” tegas Titiek.

Menurut Amran, keberhasilan swasembada bawang putih memerlukan kerja sama yang selaras antara pemerintah dan masyarakat. Ia menilai bahwa ekspansi areal tanam serta pengadaan benih berkualitas merupakan langkah krusial. “Dengan peningkatan produksi yang terukur, kita bisa mengurangi ketergantungan pada impor,” tambahnya. Amran juga menyebutkan bahwa perluasan tanam tersebut akan diiringi oleh kebijakan yang memastikan kelancaran distribusi dan harga bawang putih tetap terjangkau.

Langkah Strategis untuk Meningkatkan Produksi

Titiek menyetujui upaya Kementerian Pertanian, tetapi menekankan perlunya kejelasan dalam menetapkan waktu pencapaian swasembada. Ia meminta pemerintah untuk menyusun target yang terukur agar program ini tidak hanya menjadi wacana. “Kita perlu arah yang pasti dan evaluasi yang terstruktur,” kata Titiek. Pada kesempatan tersebut, ia juga menyoroti peran pendidikan dan pelatihan kepada petani dalam meningkatkan teknik budidaya bawang putih.

Amran menyatakan bahwa pemerintah sedang mengintegrasikan teknologi dan sumber daya lokal untuk mendukung pertumbuhan produksi. Ia menambahkan bahwa perluasan areal tanam akan dilakukan secara bertahap, dengan fokus pada daerah yang memiliki potensi pertanian yang baik. “Kita juga sedang mendorong keterlibatan lembaga penelitian dalam pengembangan varietas bawang putih yang lebih tahan terhadap hama dan cuaca,” ujarnya. Hal ini menjadi strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada impor.

Dalam kesimpulannya, Titiek menekankan bahwa swasembada bawang putih adalah kebutuhan mendesak. Ia berharap Kementerian Pertanian mampu mempercepat implementasi program tersebut. “Swasembada bawang putih adalah langkah untuk memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi tanpa harus bergantung pada luar negeri,” kata Titiek. Dengan dukungan anggaran dan partisipasi aktif semua pihak, ia optimis bahwa target tersebut bisa tercapai dalam waktu yang relatif singkat.

Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk mengkoordinasikan kebijakan antara legislatif dan pemerintah. Dengan memperkuat komitmen bersama, Titiek yakin bahwa Indonesia dapat mengurangi impor bawang putih hingga mencapai swasembada dalam waktu yang terbatas. “Swasembada bawang putih bukan hanya mimpi, melainkan tujuan yang bisa diwujudkan jika ada kerja sama yang intens,” tutupnya.

Leave a Comment