Kapolri Puji Kualitas SPPG Polri yang Mendapat Pengakuan Global
Topics Covered – Jakarta – Pada rapat koordinasi yang diadakan di Jakarta Utara, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menyampaikan apresiasi terhadap program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dikelola oleh Polri. Ia menegaskan bahwa kualitas program ini telah dikenalkan oleh Presiden Prabowo Subianto serta lembaga filantropi terkenal dari Amerika Serikat, yaitu Rockefeller Foundation. “Bukan hanya dari Bapak Presiden, tetapi juga Rockefeller Foundation yang secara langsung melakukan inspeksi untuk memahami langkah-langkah Polri dalam menyediakan layanan gizi,” jelas Listyo saat memberikan laporan dalam Rapat Koordinasi Pengawasan (Rakorwas) Komisi Polisi Nasional (Kompolnas), Rabu.
Pengakuan karena Konsistensi dan Pengelolaan Terbaik
Kapolri menjelaskan, pengakuan tersebut tidak terlepas dari upaya maksimal yang telah dilakukan oleh seluruh jajaran Polri dalam menjaga fasilitas SPPG. Dengan sistem pengelolaan yang terstruktur, Polri memastikan bahwa makanan yang dihasilkan dari program ini tetap memenuhi standar kualitas. “Kami berkomitmen untuk menjaga kebersihan dan keamanan makanan, sehingga SPPG Polri bisa menjadi contoh terbaik dalam pelayanan gizi,” tambahnya. Menurut Listyo, SPPG adalah bagian penting dari program Makanan Bantuan Gizi (MBG), yang merupakan salah satu inisiatif utama Presiden Prabowo Subianto.
“SPPG Polri tidak hanya dikenal oleh pihak dalam negeri, tetapi juga mendapat perhatian dari kalangan internasional karena kualitasnya yang unggul,” ujar Listyo dalam paparannya.
Program MBG telah memicu berbagai respons dari masyarakat. Ada pihak yang menyambut baik karena melihat manfaatnya dalam meningkatkan gizi anak-anak, sementara lainnya menganggap ada potensi pemborosan anggaran. Dalam suasana yang dinamis ini, Kapolri menegaskan bahwa SPPG Polri hadir sebagai solusi untuk menyelesaikan keraguan masyarakat terkait program MBG. “Dengan SPPG, Polri dapat menunjukkan bahwa layanan gizi tersebut aman dan bermutu, sementara SPPG lainnya masih tergolong kurang optimal,” tuturnya.
Program MBG: Tantangan dan Peluang
MBG dianggap sebagai langkah strategis dalam memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan nutrisi yang cukup. Namun, program ini juga menimbulkan kontroversi, terutama terkait penggunaan anggaran yang dinilai boros. Listyo mengakui adanya berbagai pandangan, namun ia yakin bahwa SPPG Polri mampu menjawab skeptisisme tersebut dengan bukti nyata. “Kami terus berupaya memperbaiki proses pengelolaan agar seluruh pihak puas dan mampu mendukung inisiatif ini,” papar mantan komandan polisi tersebut.
Kompolnas juga menyatakan bahwa SPPG Polri telah memperlihatkan progres signifikan. Dari hasil evaluasi, jumlah SPPG yang dioperasikan hingga saat ini mencapai 1.072 unit di seluruh Indonesia. Angka ini diperkirakan masih terus bertambah seiring percepatan implementasi program MBG. “Dengan berbagai inisiatif yang dijalankan, kami yakin jumlah SPPG akan meningkat dan memberikan dampak yang lebih luas,” jelas Listyo.
Pengembangan SPPG: Fokus pada Peningkatan Gizi Anak
Program SPPG menjadi bagian dari upaya mengatasi masalah gizi yang terjadi di berbagai daerah. Kapolri menegaskan bahwa keberadaan SPPG bukan sekadar layanan tambahan, tetapi menjadi alat penting dalam memastikan masyarakat, terutama anak-anak, mendapatkan makanan yang sehat. “SPPG Polri bertujuan untuk memberikan jaminan bahwa setiap anak yang menerima bantuan gizi benar-benar mendapatkan manfaat maksimal,” lanjutnya.
Menurut data terbaru, per tanggal 13 Februari 2026, Polri telah berhasil menyebarluaskan 1.072 SPPG di berbagai wilayah. Jumlah tersebut menunjukkan komitmen pihak kepolisian dalam memperluas akses gizi masyarakat. “Dengan pendekatan yang terencana, kami akan terus menjaga kualitas SPPG agar bisa menjadi benchmark bagi program serupa di negara lain,” kata Listyo.
Pengakuan dari luar negeri terhadap SPPG Polri dinilai sebagai bukti bahwa program ini mampu memenuhi standar internasional. Kapolri menjelaskan bahwa inspeksi langsung dari Rockefeller Foundation membuktikan bahwa SPPG memiliki sistem yang jauh lebih baik dibandingkan SPPG di daerah lain. “Kami juga terus memperbaiki proses distribusi dan pengawasan untuk memastikan setiap langkah dilakukan dengan transparan dan efektif,” terangnya.
Upaya Konsisten untuk Menghadirkan Manfaat Nyata
Sebagai institusi yang berperan dalam pembangunan sosial, Polri menyadari bahwa SPPG tidak hanya menjadi kebijakan pemerintah, tetapi juga kewajiban mereka untuk memastikan masyarakat memperoleh manfaat optimal. “Kami berupaya membangun sinergi dengan berbagai pihak agar SPPG bisa menjadi salah satu solusi utama dalam menangani masalah gizi di Indonesia,” tegas Kapolri. Ia juga menambahkan bahwa pengakuan dari luar negeri menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas layanan.
Dalam wawancara terpisah, Listyo menyampaikan bahwa program MBG dan SPPG tidak hanya berfokus pada distribusi makanan, tetapi juga pada pendidikan gizi. “Melalui SPPG, kami ingin memberikan kesadaran bahwa gizi yang baik adalah kunci untuk pertumbuhan anak yang optimal,” jelasnya. Dengan pendekatan holistik ini, Polri berharap SPPG mampu menciptakan dampak jangka panjang, terutama dalam mencegah stunting dan penyakit berbasis gizi.
Kapolri menutup paparannya dengan harapan bahwa kerja sama antara Polri dan lembaga filantropi seperti Rockefeller Foundation akan berlanjut. “Dengan pendukung internasional, kami yakin program ini akan terus berkembang dan memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat Indonesia,” tutup Listyo. Ia juga menyatakan bahwa Polri akan terus berupaya memperkuat sistem SPPG hingga mencapai target peningkatan kualitas gizi anak-anak secara nasional.
