Humaniora

BPBD: Tiga desa di Aceh Barat mulai terendam banjir luapan

mulai terendam banjir luapan BPBD - Wilayah Kabupaten Aceh Barat, khususnya di Kecamatan Pante Ceureumen, tengah menghadapi ancaman banjir akibat intensitas

Desk Humaniora
Published June 15, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

BPBD: Tiga desa di Aceh Barat mulai terendam banjir luapan

BPBD – Wilayah Kabupaten Aceh Barat, khususnya di Kecamatan Pante Ceureumen, tengah menghadapi ancaman banjir akibat intensitas hujan yang tinggi selama dua hari terakhir. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah menggerakkan personel untuk memantau kondisi air dan memberikan bantuan kepada warga yang terdampak. Tiga desa, yaitu Gampong Canggai, Gampong Lawet, dan Gampong Seumantok, melaporkan genangan air yang mulai merendam sebagian wilayah mereka. Tinggi air mencapai antara 20 hingga 49 sentimeter, menyebabkan keterbatasan aksesibilitas di beberapa area.

Kondisi Cuaca yang Memicu Banjir

Teuku Ronal Nehdiansyah, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Aceh Barat, menjelaskan bahwa banjir luapan ini dipicu oleh curah hujan ekstrem yang terjadi sejak dua hari belakangan ini. “Banjir luapan terjadi karena tingginya curah hujan yang melanda wilayah Aceh Barat, baik di bagian hulu maupun hilir,” katanya kepada wartawan Minggu malam. Menurut Ronal, kondisi ini memperparah aliran air di Sungai Krueng Meureubo, yang akhirnya meluap dan menyebabkan genangan di beberapa desa.

“Banjir luapan ini terjadi akibat tingginya curah hujan sejak dua hari belakangan ini,” kata Teuku Ronal Nehdiansyah.

Sebelumnya, empat desa di sekitar Kecamatan Pante Ceureumen tercatat mulai terendam banjir sejak Minggu sore. Selain tiga desa yang disebutkan, wilayah lain di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Krueng Meureubo juga terkena dampak. Menurut informasi yang diperoleh, tingkat kecuraman hujan mencapai rekor tinggi, sehingga memicu lonjakan debit air di sungai-sungai yang menjadi sumber banjir. Fenomena ini tidak hanya memengaruhi daerah pemukiman, tetapi juga berpotensi mengganggu kegiatan pertanian dan perikanan di sekitar kawasan aliran sungai.

Ronal menegaskan bahwa banjir luapan saat ini belum mengancam kehidupan warga secara serius. Tinggi air yang tercatat di berbagai titik masih berada dalam kisaran yang relatif terkendali, yaitu setinggi mata kaki hingga betis orang dewasa. Meski demikian, genangan air telah menyentuh pekarangan rumah warga dan sebagian bangunan, termasuk tempat tinggal. Situasi ini memaksa masyarakat untuk tetap waspada, meskipun belum ada laporan kehilangan nyawa atau kerusakan berat.

BPBD Aceh Barat telah menyiapkan langkah-langkah antisipasi untuk mengurangi risiko kecelakaan. Tim darurat sedang berada di lapangan, melakukan pemeriksaan terhadap titik-titik rawan dan menghimpun data mengenai volume air serta jumlah warga yang terkena dampak. Ronal menjelaskan bahwa pihaknya menargetkan pembaruan informasi secara berkala, termasuk luasan wilayah yang tergenang dan jumlah keluarga yang mengalami kerugian.

Penyesuaian Tindakan dan Peringatan

Kondisi cuaca yang masih berpotensi hujan ekstrem memperbesar risiko peningkatan air di wilayah yang sudah terdampak. Dalam upaya mencegah kerusakan lebih besar, BPBD mengimbau warga di sekitar DAS Krueng Meureubo untuk tetap berhati-hati, terutama di daerah yang rawan banjir. Ronal menyebutkan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi dengan pihak terkait, termasuk instansi pemerintah setempat, untuk memastikan respons cepat terhadap kondisi yang terjadi.

Dalam beberapa jam terakhir, pemerintah setempat juga melibatkan masyarakat dalam upaya mitigasi. Warga yang tinggal di area yang berpotensi banjir secara aktif mengumpulkan barang berharga dan membangun sistem pengendalian air sederhana. Sejumlah lansia dan ibu-ibu muda menjadi garda depan dalam kegiatan ini, memastikan bahwa anak-anak dan keluarga besar tetap aman dari ancaman banjir. Meski tidak ada warga yang mengungsi ke posko darurat, sejumlah orang memilih tinggal di tempat tinggal mereka sambil menunggu kondisi membaik.

Ronal menambahkan bahwa BPBD Aceh Barat sedang mengumpulkan data tentang tingkat kerusakan yang terjadi, termasuk volume tanah yang tererosi dan jumlah rumah yang terkena genangan. Data ini akan digunakan sebagai dasar untuk menentukan langkah-langkah penanganan lebih lanjut, seperti penyaluran bantuan logistik dan konsultasi dengan pihak terkait. Selain itu, pihaknya juga berupaya mencegah penyebaran penyakit akibat genangan air, dengan memeriksa kebersihan lingkungan dan memastikan akses ke tempat sampah serta air bersih.

Bencana banjir ini menyoroti pentingnya kehati-hatian terhadap perubahan iklim yang semakin ekstrem. Sejumlah ahli meteorologi menyatakan bahwa wilayah Aceh Barat memiliki potensi hujan tinggi di musim hujan, sehingga masyarakat harus terbiasa dengan risiko seperti ini. Dengan persiapan yang lebih baik, baik dari pemerintah maupun masyarakat, kejadian banjir dapat diminimalkan dampaknya. Namun, karena intensitas hujan belum menurun, situasi tetap membutuhkan pengawasan ketat.

Sebagai langkah tambahan, BPBD juga meminta masyarakat untuk mengawasi perubahan tingkat air di sekitar rumah mereka. Warga diminta untuk segera melaporkan peningkatan genangan kepada petugas yang menunggu di posko. Selain itu, petugas darurat juga memberikan instruksi untuk menghindari aktivitas di bawah pohon besar atau di area yang rawan

Leave a Comment