Humaniora

Key Discussion: Muhammadiyah dorong transformasi layanan sosial berbasis komunitas

Muhammadiyah Dorong Transformasi Layanan Sosial Berbasis Komunitas Key Discussion - Mataram, NTB – Muhammadiyah, organisasi keagamaan yang telah berdiri

Desk Humaniora
Published June 13, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Muhammadiyah Dorong Transformasi Layanan Sosial Berbasis Komunitas

Key Discussion – Mataram, NTB – Muhammadiyah, organisasi keagamaan yang telah berdiri selama 114 tahun, kini mengusulkan perubahan paradigma layanan sosial dari pendekatan tradisional menuju model berbasis komunitas. Tujuan utamanya adalah menjawab tantangan kesejahteraan masyarakat yang semakin kompleks, terutama dalam era di mana masalah sosial berkembang secara dinamis. Dalam rapat koordinasi wilayah Muhammadiyah di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu lalu, para pemangku kebijakan menggarisbawahi perlunya perluasan orientasi kerja organisasi tersebut, yang selama ini lebih dikenal sebagai pengelola panti asuhan.

Strategi Transformasi Layanan Sosial Muhammadiyah

Ketua Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Mariman Darto, menekankan bahwa pergeseran ini bukan sekadar perubahan nomenklatur, tetapi transformasi struktural yang memprioritaskan keterlibatan masyarakat dalam proses pemberdayaan. “MPKS tidak hanya memfokuskan pada panti asuhan, tetapi harus menjadi penggerak layanan sosial yang berbasis komunitas,” jelas Mariman dalam sesi diskusi. Ia menjelaskan bahwa pendekatan baru ini bertujuan meningkatkan responsivitas Muhammadiyah terhadap berbagai isu sosial seperti kemiskinan, kesenjangan pendidikan, dan kebutuhan psikologis masyarakat.

“Layanan sosial merupakan bagian penting dari misi Muhammadiyah dalam melayani umat, terutama masyarakat miskin dan kelompok rentan.”

Dalam konteks ini, MPKS diberikan tugas untuk membangun jejaring kerja yang lebih luas, melibatkan komunitas, lembaga swadaya masyarakat, serta pihak berwenang. Transformasi ini dirancang agar Muhammadiyah mampu menjadi mitra strategis dalam menjaga kesejahteraan sosial, bukan hanya sebagai penyedia layanan. Mariman juga menyampaikan bahwa model layanan yang lebih adaptif akan memungkinkan organisasi tersebut mencakup berbagai kelompok usia dan latar belakang, sehingga lebih efektif dalam menjangkau kebutuhan masyarakat secara holistik.

Penguatan Komunitas sebagai Pilar Utama

Transformasi ini menekankan peran aktif masyarakat dalam menjawab masalah sosial. Dengan berbasis komunitas, Muhammadiyah diharapkan mampu membangun kesadaran kolektif dan memperkuat kapasitas lokal. Mariman menjelaskan bahwa pendekatan ini tidak hanya memperluas lingkup layanan, tetapi juga menciptakan ekosistem yang lebih berkelanjutan, di mana masyarakat secara aktif terlibat dalam proses pemberdayaan. “Dengan model ini, kami ingin menciptakan keterlibatan yang lebih dalam dan partisipatif,” imbuhnya.

Selain itu, transformasi ini juga diharapkan mengurangi ketergantungan pada panti asuhan sebagai satu-satunya bentuk layanan sosial. Hal ini penting karena panti asuhan, meskipun memiliki peran penting, cenderung memiliki cakupan yang terbatas dan tidak mampu menjangkau semua lapisan masyarakat secara efektif. Dengan pendekatan komunitas, Muhammadiyah bisa mengembangkan program-program yang lebih beragam, seperti bimbingan konseling, pelatihan keterampilan, serta pendidikan nonformal, yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan daerah setempat.

Pusat Solidaritas Kesejahteraan Masyarakat

Sebagai bagian dari transformasi ini, Muhammadiyah menggagas pembentukan Pusat Solidaritas Kesejahteraan Masyarakat (PSKM). Institusi ini diharapkan menjadi pusat koordinasi dan pengembangan layanan sosial yang terintegrasi, dengan fokus pada penguatan kekuatan lokal. PSKM bertujuan memfasilitasi kolaborasi antar komunitas, lembaga pendidikan, dan organisasi lain dalam mewujudkan kesejahteraan bersama. “Pusat layanan ini dirancang agar bisa memperkuat fungsi sosial Muhammadiyah, yang sebelumnya lebih diwakili oleh lembaga panti asuhan,” kata Mariman.

Pembentukan PSKM juga dilihat sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas layanan sosial secara keseluruhan. Dengan model yang lebih adaptif, Muhammadiyah dapat merespons perubahan sosial yang terjadi di tengah masyarakat, termasuk isu-isu seperti pengangguran, kesenjangan pendidikan, dan kebutuhan psikologis anak-anak. Tidak hanya itu, PSKM juga diharapkan menjadi wadah untuk menyelaraskan berbagai program sosial yang telah ada, sehingga tidak ada kemubadzaban dalam penyaluran bantuan atau pelayanan.

Kualitas Pengasuhan Anak yang Ditingkatkan

Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah NTB, Falahuddin, menggarisbawahi pentingnya menjaga kualitas pengasuhan di lembaga-lembaga kesejahteraan sosial anak. Ia menekankan bahwa meskipun transformasi layanan sosial berbasis komunitas menjadi fokus utama, pengasuhan anak tetap memerlukan perhatian khusus. “Lembaga kesejahteraan sosial anak tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, pengasuhan, dan pemulihan bagi anak-anak yang membutuhkan perlindungan,” jelas Falahuddin.

“Layanan sosial merupakan bagian penting dari misi Muhammadiyah dalam melayani umat, terutama masyarakat miskin dan kelompok rentan.”

Falahuddin juga menyoroti perlunya penyusunan buku pedoman pengasuhan anak yang menjadi acuan bersama bagi seluruh lembaga yang ada di NTB. Buku ini diharapkan memberikan panduan tentang cara mengembangkan program yang lebih humanis dan berkelanjutan. Dengan adanya buku pedoman, dijelaskan Falahuddin, seluruh lembaga bisa memastikan bahwa layanan yang diberikan sesuai dengan prinsip Muhammadiyah, yaitu kesadaran, keadilan, dan kesejahteraan umat.

Latar Belakang Misinya

Muhammadiyah, yang berdiri pada tahun 1918, telah memiliki sejarah panjang dalam memberikan layanan sosial kepada masyarakat. Awalnya, organisasi ini memfokuskan pada penyelamatan anak-anak yang terlantar melalui panti asuhan. Namun, dalam era modern, tantangan sosial semakin beragam dan memerlukan pendekatan yang lebih menyeluruh. “Penolong Kesengsaraan Oemoem, yang merupakan proyek awal Muhammadiyah, adalah inspirasi untuk transformasi layanan sosial hari ini,” kata Falahuddin.

Dengan pendekatan berbasis komunitas, Muhammadiyah ingin menciptakan sistem layanan yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Transformasi ini tidak hanya berdampak pada organisasi, tetapi juga diharapkan mampu menginspirasi pihak lain untuk berperan aktif dalam menjaga kesejahteraan sosial. Falahuddin menegaskan bahwa keberhasilan transformasi ini bergantung pada kolaborasi yang solid antara seluruh elemen masyarakat dan lembaga terkait. “Kami percaya, dengan model ini, Muhammadiyah akan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar dalam mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera dan harmonis,” pungkasnya.

Leave a Comment