Pakistan Nilai Kemitraan Rakyat sebagai Pilar Utama Penguatan Hubungan Dengan Indonesia
Key Discussion – Jakarta – Dalam wawancara dengan media di Kedutaan Besar Pakistan di Jakarta, Jumat lalu, Duta Besar Pakistan, Zahid Hafeez Chaudhri, menekankan bahwa kekuatan hubungan masyarakat adalah faktor penting dalam meningkatkan kemitraan bilateral antara Islamabad dan Jakarta. Ia menyatakan, “Hubungan yang erat antara kedua negara tidak hanya bergantung pada kebijakan luar negeri, tetapi juga pada interaksi langsung antara rakyat yang terus meningkat.”
Sumber Daya Manusia Sebagai Motor Pertumbuhan Ekonomi
Chaudhri menjelaskan bahwa Indonesia dan Pakistan memiliki keunikan yang bisa menjadi keuntungan bersama. Kedua negara mewakili lebih dari 25 persen populasi Muslim global, menjadikannya mitra strategis dalam isu-isu yang melibatkan komunitas Muslim di berbagai belahan dunia. Ia menambahkan, Indonesia dan Pakistan juga memiliki kepopulasian muda yang besar, di mana sekitar 65 persen penduduk Pakistan berusia di bawah 30 tahun, sementara Indonesia juga tidak kalah dalam hal demografi yang dinamis.
“Sumber daya manusia di kedua negara akan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi di masa depan, karena mereka memiliki potensi dan semangat untuk berkontribusi pada perekonomian regional,” ujar diplomat tersebut.
Dalam konteks ini, Chaudhri menyatakan bahwa rakyat Indonesia dan Pakistan harus menjadi pusat perhatian dalam upaya membangun kerja sama yang lebih kuat. Ia menggarisbawahi pentingnya kesadaran kolektif masyarakat untuk saling memahami dan menghargai budaya, nilai, serta kepentingan satu sama lain. “Jika hubungan masyarakat terjalin dengan baik, maka kepercayaan antar negara akan tumbuh secara alami,” tegasnya.
Peran UMKM dalam Pembangunan Ekonomi
Chaudhri juga menyoroti potensi sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai kunci dalam menciptakan peluang kerja. Menurutnya, UMKM di Indonesia dan Pakistan berperan sentral dalam mengurangi pengangguran dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. “Sektor ini adalah pilar utama perekonomian kedua negara, terutama di tengah tantangan global yang semakin kompleks,” kata diplomat itu.
“Kedua negara perlu bekerja sama lebih erat di sektor UMKM untuk meningkatkan produktivitas, menghadirkan inovasi, dan memperkuat daya saing di pasar internasional,” ujarnya.
Dalam rangka mengembangkan kemitraan ini, Chaudhri menyoroti kerja sama yang telah terjalin dalam berbagai bidang, termasuk pengembangan usaha kreatif dan pengolahan sumber daya lokal. Ia menilai bahwa perusahaan-perusahaan UMKM kecil dan menengah bisa menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat dalam menciptakan kebijakan yang lebih inklusif.
Kunjungan Prabowo Subianto sebagai Langkah Historis
Chaudhri memaparkan bahwa kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Pakistan pada bulan Desember tahun lalu menjadi momen penting dalam memperkuat hubungan bilateral. Ia menegaskan bahwa kunjungan tersebut melambangkan penghormatan terhadap kepemimpinan Prabowo sebagai pemimpin negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.
“Dalam kesempatan tersebut, kami menganugerahkan penghargaan sipil tertinggi Pakistan kepada Presiden Prabowo Subianto sebagai bentuk apresiasi atas perannya dalam membangun kemitraan global yang inklusif,” kata Chaudhri.
Ia juga menyebutkan bahwa kehadiran Prabowo di Islamabad menjadi tanda komitmen Indonesia untuk memperkuat kerja sama dengan Pakistan, terutama dalam bidang ekonomi dan pertahanan. Chaudhri menambahkan bahwa komunikasi antar kepala negara memainkan peran kritis dalam menjaga kestabilan hubungan bilateral, serta menjadi langkah awal untuk menghadapi tantangan masa depan.
Perkembangan Kerja Sama Ekonomi
Dalam bidang ekonomi, Chaudhri menyatakan bahwa nilai perdagangan bilateral antara Indonesia dan Pakistan telah mencapai sekitar 4,5 miliar dolar AS. Ia menegaskan bahwa komitmen untuk meningkatkan hubungan ekonomi tidak hanya berhenti pada angka tersebut, tetapi juga pada upaya memperluas kemitraan melalui Perjanjian Perdagangan Preferensial (PTA) yang sudah terjalin. “Kedua negara sedang menyiapkan langkah-langkah untuk mengubah PTA menjadi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA), yang rencananya selesai pada tahun depan,” ujarnya.
CEPA diharapkan mampu meningkatkan akses pasar, menurunkan hambatan tarif, serta mendorong investasi antar kedua negara. Chaudhri menekankan bahwa transisi ini memerlukan kerja sama yang intensif, termasuk koordinasi antara instansi pemerintah dan sektor swasta. “CEPA akan menjadi fondasi baru untuk pertumbuhan ekonomi bersama, terutama dalam mendorong inovasi dan penguatan ekosistem bisnis,” jelas diplomat tersebut.
Kerja Sama Pertahanan dan Kesiapan Menghadapi Tantangan
Di bidang pertahanan, Chaudhri menyebutkan bahwa Pakistan sedang memberikan pelatihan kepada perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk meningkatkan kemampuan militer. Ia juga menyampaikan bahwa keduanya sedang berdiskusi tentang kerja sama produksi alat pertahanan, yang menjadi pilar dalam menghadapi ancaman keamanan regional. “Kemitraan ini tidak hanya memperkuat kapasitas militer, tetapi juga membangun kepercayaan antar negara dalam menghadapi situasi krisis,” tambahnya.
Chaudhri menyoroti bahwa keterlibatan masyarakat sipil dalam bidang pertahanan bisa menjadi daya tarik baru bagi kemitraan bilateral. Ia menegaskan bahwa pelatihan dan kolaborasi dalam produksi alat pertahanan tidak hanya berdampak pada kekuatan militer, tetapi juga pada kemampuan negara-negara untuk bersinergi dalam menghadapi ancaman global, seperti perubahan iklim dan ketidakstabilan politik.
Potensi Masa Depan Kemitraan Pakistan-Indonesia
Dengan basis populasi Muslim yang besar dan sumber daya manusia yang berpotensi, Chaudhri meyakini bahwa Pakistan dan Indonesia bisa menjadi model kerja sama antar negara beragama Islam. Ia menilai bahwa kebijakan ekonomi dan sosial yang didasari oleh hubungan masyarakat akan memperkuat daya tahan keduanya di tengah dinamika politik internasional yang berubah cepat.
“Kedua negara harus terus membang
