Internasional

Meeting Results: Indonesia- China bahas potensi kerja sama AI dan ekonomi digital

Indonesia-China Tandatangani Kerja Sama Strategis di Bidang AI dan Ekonomi Digital Meeting Results - Beijing, Antara – Forum Ekonomi Digital Indonesia-China

Desk Internasional
Published June 13, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Indonesia-China Tandatangani Kerja Sama Strategis di Bidang AI dan Ekonomi Digital

Meeting Results – Beijing, Antara – Forum Ekonomi Digital Indonesia-China yang diadakan di Jakarta pada Rabu, 11 Juni, menjadi platform penting bagi dua lembaga pemangku kebijakan untuk mendiskusikan peluang kolaborasi di bidang kecerdasan buatan (AI) dan transformasi digital. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Lembaga Kerja Sama Ekonomi, Sosial, dan Budaya Indonesia-China (AICCC) serta China Development Institute (CDI) dari Provinsi Guangdong, Tiongkok. Acara ini menandai langkah konkret dalam membangun hubungan bilateral yang fokus pada inovasi teknologi dan perekonomian digital.

Peran Pemangku Kebijakan dalam Mendorong Kemitraan

Ketua AICCC, Sudrajat, menekankan bahwa forum tersebut merupakan bagian dari implementasi visi ekonomi digital di masa depan. Menurutnya, AI tidak hanya tentang pengembangan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana mengintegrasikan solusi digital ke dalam kehidupan masyarakat untuk menciptakan peluang kerja dan memperkuat inklusivitas dalam pertumbuhan ekonomi. “Kita harus memperhatikan bagaimana teknologi ini bisa memberdayakan masyarakat, membuka peluang baru, dan membentuk masa depan yang berkelanjutan,” jelas Sudrajat dalam pernyataannya yang diterima Antara, Jumat.

“Hari ini adalah implementasi dari aspek ekonomi dan kontak antarmanusia. Fokusnya adalah ekonomi digital, tetapi bukan hanya teknologi, melainkan bagaimana menggerakkan masyarakat, menciptakan peluang, serta membentuk masa depan yang inklusif dan berkelanjutan.”

Sudrajat juga menyoroti bahwa jumlah pengguna digital di Indonesia sangat besar, sehingga menjadi peluang besar untuk tidak hanya mengeksploitasi pasar, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui inovasi. “Indonesia memiliki basis pengguna digital yang luas, dan ini adalah salah satu keuntungan strategis yang bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan perekonomian berbasis teknologi,” ujarnya.

Potensi Sinergi Digital di Tiongkok-Indonesia

Wakil Presiden CDI, Guo Wanda, menambahkan bahwa pertumbuhan populasi muda di Indonesia dan peningkatan penetrasi internet secara signifikan memperkuat kebutuhan transformasi digital di berbagai sektor. “Kondisi ini menciptakan peluang luas untuk sinergi digital antara kedua negara, khususnya dalam menyediakan solusi inovatif yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan lokal Indonesia,” katanya.

“Kebutuhan transformasi digital di berbagai sektor di Indonesia sangat besar, dan hal ini memberikan ruang untuk kolaborasi yang saling menguntungkan antara Tiongkok dan Indonesia.”

Dalam konteks ini, Guo Wanda menyoroti bahwa Tiongkok memiliki kebijakan strategis yang mendukung pengembangan AI sebagai salah satu pilar utama pembangunan ekonomi. “Kecerdasan buatan akan menjadi alat utama dalam mendorong efisiensi dan kinerja sektor-sektor kritis, termasuk lembaga pemikir seperti CDI,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa AI tidak hanya menjadi bagian dari kebijakan nasional Tiongkok, tetapi juga bisa menjadi jembatan untuk mempercepat progres teknologi di Indonesia.

Perkembangan Teknologi dan Peluang Kolaborasi

Sebagai bagian dari diskusi, Fanny Liao, Direktur Komunikasi Strategis Tencent, mengungkapkan bahwa perusahaan teknologi Tiongkok memandang penerapan AI sebagai tujuan utama dalam mempercepat transformasi digital. “Ketika model bahasa besar (LLM) menjadi aksesibel dan praktis, para pengembang serta pengusaha akan secara alami mengadopsinya sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas,” ujarnya.

“Teknologi AI akan memudahkan pengembangan model bahasa besar yang bisa diakses oleh berbagai sektor, termasuk ekonomi digital. Ini adalah peluang besar bagi kedua negara untuk saling berkontribusi,” kata Fanny.

Sementara itu, Trio Adiono, dosen ITB sekaligus ketua Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDEC), mengungkapkan bahwa semikonduktor dan AI sudah terintegrasi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Indonesia periode 2025–2029. “Kami fokus pada industri semikonduktor fabless, yaitu desain cip, yang memiliki potensi pasar jauh lebih besar dibandingkan sektor semikonduktor lainnya,” tambahnya.

“China dapat berkontribusi melalui algoritma AI dan perangkat keras IoT, sementara Indonesia memiliki keunggulan dalam menyediakan data tropis dan tenaga kerja untuk menerapkan teknologi tersebut,” ujar Trio.

Trio juga menyoroti tiga sektor utama yang menjadi peluang kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok. Pertama, pengelolaan baterai dan penyimpanan energi untuk mendukung perkembangan kendaraan listrik. Kedua, layanan kesehatan, karena masalah kesehatan di Indonesia masih memerlukan peningkatan dengan bantuan AI. Ketiga, pertanian cerdas untuk meningkatkan ketahanan pangan melalui penerapan teknologi berbasis AI.

Kolaborasi Berbasis Data dan Tenaga Kerja

Dalam bidang pertanian, Trio menekankan bahwa penerapan AI dapat meningkatkan efisiensi dalam produksi pertanian, terutama di wilayah tropis Indonesia. “Data besar tentang pertanian tropis bisa menjadi dasar untuk pengembangan solusi yang sesuai dengan kondisi lokal,” jelasnya. Selain itu, ia menyoroti bahwa tenaga kerja di Indonesia siap mendukung implementasi teknologi ini secara luas.

Sudrajat juga menambahkan bahwa forum ini tidak hanya membahas teknologi, tetapi juga memberikan kesempatan untuk membangun jaringan antar lembaga, industri, pemerintah, akademisi, dan komunitas. “Kolaborasi antar sektor sangat penting untuk menciptakan ekosistem digital yang solid dan berkelanjutan,” ujarnya.

Visi Masa Depan dan Langkah Konkret

Acara yang dihadiri oleh sekitar 40 peserta dari kedua negara ini menegaskan komitmen untuk mempercepat proses digitalisasi. Dalam diskusi, para peserta sepakat bahwa kecerdasan buatan dan ekonomi digital adalah kunci dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. “Kita harus menggabungkan kekuatan teknologi Tiongkok dengan potensi pasar Indonesia untuk menghasilkan solusi yang berdampak luas,” pungkas Sudrajat.

Kolaborasi ini juga diharapkan mendorong pertukaran ide dan praktik antar kedua negara. Dengan memanfaatkan sumber daya manusia dan infrastruktur yang ada, Indonesia dan Tiongkok bisa membangun kemitraan yang saling menguntungkan. “Pertukaran pengetahuan antara kita akan menjadi fondasi untuk inovasi yang bisa berdampak jangka panjang,” tambahnya.

Perkembangan Selanjutnya

Forum ini menjadi awal dari upaya jangka panjang untuk mewujudkan kerja sama di bidang AI dan ekonomi digital. Sudrajat menyatakan bahwa kolaborasi ini akan melibatkan berbagai pihak, termasuk lembaga think tank, perusahaan teknologi, dan pemerintah. “Kita harus membangun kerangka kerja yang terpadu agar proyek ini bisa berjalan secara efektif,” jelasnya.

Guo Wanda menegaskan bahwa Tiongkok siap memberikan kontribusi melalui keahlian di bidang algoritma AI dan perangkat keras pendukung. “Kita perlu membangun jaringan yang kuat antara kedua negara untuk menghasilkan solusi yang inovatif dan berkelanjutan,” katanya. Dengan perencanaan yang matang, kerja sama ini diharapkan bisa menjadi model kerja sama internasional yang berdampak positif dalam bidang teknologi dan ekonomi digital.

Kolaborasi Indonesia-China di bidang AI dan ekonomi digital menjadi momentum penting dalam menghadapi era transformasi teknologi. Dengan memadukan keung

Leave a Comment