Internasional

Solution For: Messi lagi, lagi, dan lagi

Messi lagi, lagi, dan lagi Solution For - Jakarta – Apakah Lionel Messi benar-benar telah kehilangan kemampuannya?

Desk Internasional
Published June 18, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Messi lagi, lagi, dan lagi

Solution For – Jakarta – Apakah Lionel Messi benar-benar telah kehilangan kemampuannya? Teka-teki ini terus berlanjut setelah dia mencetak tiga gol dalam pertandingan Argentina melawan Aljazair di babak grup Piala Dunia 2026, membuktikan bahwa usia tidak selalu menjadi penghalang bagi penampilannya yang luar biasa. Meski sekarang menginjak usia 39 tahun, bintang sepak bola yang tercatat sebagai salah satu pemain terhebat sepanjang masa ini masih menunjukkan kemampuan untuk memimpin timnya ke kemenangan.

Kemampuan yang Tak Pernah Berkurang

Banyak orang berpikir bahwa klimaks karier Messi adalah empat tahun lalu di Qatar, ketika ia membawa Argentina meraih trofi Piala Dunia untuk ketiga kalinya. Momen itu dianggap sebagai penutup sempurna dari perjalanan luar biasa yang telah mengantarkan dirinya ke hampir semua ajang bergengsi. Namun, para penggemar sepak bola mulai menyadari bahwa prestasi baru justru bisa muncul di era berikutnya. Di Piala Dunia 2026, Messi menghadapi tantangan yang berbeda: bukan hanya 11 lawan di lapangan, tapi juga tekanan dari suara-suara yang meragukan kemampuannya saat usia semakin bertambah.

“Semakin tua, semakin jadi,” kata Messi dalam wawancara sebelum pertandingan. Kalimat sederhana ini menjadi pemandangan baru bagi para penggemar, yang mulai melihat bagaimana dia beradaptasi dengan kemampuan yang tetap mengilhami.

Masa keemasannya memang sudah lalu. Messi tidak lagi menggiring bola dari tengah lapangan, melewati tiga atau empat pemain sebelum mencetak gol spektakuler. Namun, visinya dalam permainan, ketajamannya membaca situasi, dan peran sebagai sosok penentu tetap terjaga. Ia menunjukkan bahwa menjadi pemain hebat bukan hanya tentang kecepatan, tapi juga kecermatan dan kepercayaan diri.

Momen Spesial di Stadion Kansas City

Pertandingan melawan Aljazair di Stadion Kansas City, Kansas, Rabu pagi, menjadi bukti nyata kemampuan Messi yang masih terang. Dalam menit ke-17, Rodrigo de Paul menciptakan peluang berharga dengan melewati lini pertahanan lawan, lalu menyodorkan bola ke Messi di ruang sempit. Hanya dalam empat detik, Messi melakukan gocekan yang memperlihatkan keterampilannya, sebelum menyelesaikan dengan tendangan kaki kiri yang tak mampu dihentikan oleh Luca Zidane, anak dari legenda sepak bola Zinedine Zidane.

Pada menit ke-60, Messi tiba-tiba muncul di kotak penalti setelah memanfaatkan rebound tendangan keras Alexis Mac Allister. Pemain yang awalnya berada di posisi sayap kiri ini dengan tenang mengakhiri peluang tersebut melalui tendangan kaki kanan mendatar, membuat Zidane terkejut karena bergerak ke arah yang berlawanan. Gol ketiga datang pada menit ke-76, menyelesaikan permainannya dengan ciri khas penguasaan bola yang tak pernah berkurang.

Ini adalah hattrick pertama Messi di Piala Dunia, sebuah pencapaian istimewa mengingat ia baru saja memasuki usia 39 tahun. Keberhasilannya mencetak tiga gol dalam satu pertandingan juga menegaskan bahwa konsistensinya tetap terjaga meski usia semakin lanjut. Di sisi lain, capaian ini memperlihatkan perubahan dalam gaya bermainnya—lebih dari sekadar kecepatan, ia kini menunjukkan kemampuan untuk mengatur permainan dengan keakuratan dan kesabaran.

Rekor yang Tercetak

Dengan tiga gol yang dicetak, Messi sementara memimpin top skor Piala Dunia 2026. Ini juga menjadi bukti bahwa ia mulai menyamai rekor Miroslav Klose, legenda Jerman yang sempat menjadi top skor sepanjang masa dengan 16 gol. Setelah 20 tahun debutnya di Piala Dunia, Messi kini telah mengoleksi 200 penampilan bersama Argentina, membawa jumlah golnya mencapai angka yang mengejutkan.

Kemenangan Argentina dengan skor 3-0 melawan Aljazair memperkuat peran Messi sebagai bintang utama. Meski usianya menua, ia tetap mampu menjadi pemain yang mengubah arah pertandingan. Faktor lain yang membuat pertandingan ini spesial adalah penggunaannya dalam posisi yang berbeda, memberi kesan bahwa ia bisa beradaptasi dengan kebutuhan tim.

Misalnya, di menit ke-17, ia dianggap sebagai salah satu pemain yang memperoleh umpan dari de Paul. Di menit ke-60, Messi bergerak dari sayap kiri menuju tengah lapangan, menunjukkan fleksibilitas yang tak terduga. Gol ketiga tercipta setelah ia membaca pergerakan lawan dengan baik, lalu mengambil kesempatan dengan tenang. Tiga gol ini tidak hanya memberi kemenangan bagi Argentina, tetapi juga mengingatkan dunia bahwa Messi belum pernah kehilangan keunggulannya.

Pertandingan ini menjadi kisah baru dalam perjalanan karier Messi. Ia menunjukkan bahwa usia bukanlah penghalang, melainkan bagian dari perjalanan yang terus berkembang. Dengan 3 gol dalam satu pertandingan, Messi kembali menjadi sorotan, membuktikan bahwa karier terbaiknya masih berjalan meski usia semakin bertambah. Kemenangan Argentina memperkuat bahwa Messi masih mampu menjadi pilar utama, meskipun tampilannya berbeda dari masa keemasan.

Di sisi lain, prestasi ini juga menambah deretan nama dalam sejarah sepak bola. Messi, yang telah menghabiskan 20 tahun berkiprah di ajang Piala Dunia, kini berada di ambang rekor sepanjang masa. Jumlah golnya yang mencapai 16, sama dengan Miroslav Klose, menjadi tanda bahwa ia belum selesai menulis nama-namanya dalam buku sejarah. Kemenangan atas Aljazair menegaskan bahwa Messi tetap mampu menciptakan keajaiban, bahkan di usia yang tergolong lanjut.

Meski bermain dengan lebih pelan dan tidak lagi mengandalkan kecepatan, Messi menunjukkan bahwa keahlian dalam mengatur permainan bisa lebih bermakna. Dengan tiga gol, ia membuktikan bahwa penampilannya tetap bisa menjadi katalisator kemenangan, meskipun metode bermainnya berbeda dari masa lalu. Pertandingan ini menjadi bukti bahwa seorang pemain hebat tidak hanya diukur oleh kecepatan, tetapi juga oleh kemampuan untuk memimpin secara strategis.

Leave a Comment