Internasional

Special Plan: Parlemen Iran: Serangan AS akan sebabkan kemunduran dan penyesalan

emunduran dan Penyesalan Special Plan - Istanbul, Sabtu — Seorang anggota dewan Iran senior, Ibrahim Azizi, mengkritik serangan militer Amerika Serikat yang

Desk Internasional
Published June 27, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Parlemen Iran: Serangan AS akan Sebabkan Kemunduran dan Penyesalan

Special Plan – Istanbul, Sabtu — Seorang anggota dewan Iran senior, Ibrahim Azizi, mengkritik serangan militer Amerika Serikat yang dilakukan saat negosiasi tengah berlangsung. Menurut Azizi, tindakan Washington menunjukkan kurangnya komitmen terhadap diplomasi dan perjanjian gencatan senjata. Ia menegaskan bahwa serangan tersebut merusak upaya negara-negara lain untuk mencapai kesepakatan damai.

Azizi, yang memimpin Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri, mengatakan dalam pernyataannya bahwa AS “kembali menyerang Iran di tengah proses negosiasi.” Ia menambahkan bahwa presiden Amerika Serikat “telah membuktikan ketidakmampuannya menjaga prinsip diplomasi atau kesepakatan gencatan senjata.” Menurutnya, serangan sembrono ini akan “menyebabkan kemunduran dan penyesalan bagi pihak AS,” karena mengganggu upaya pembangunan kembali hubungan internasional.

“Presiden AS yang gagap telah menunjukkan bahwa dia tidak memiliki komitmen terhadap prinsip-prinsip negosiasi atau gencatan senjata,” kata Azizi. “Pelanggaran sembrono terhadap gencatan senjata akan, seperti biasa, menyebabkan kemunduran dan penyesalan bagi pihak AS.”

Pernyataan Azizi muncul setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan bahwa pasukan angkatan lautnya telah menargetkan posisi militer AS di berbagai wilayah. Tindakan ini diambil sebagai respons atas serangan AS di selatan Iran, yang menurut Teheran adalah pembalasan terhadap kebijakan negara tersebut. “Permainan saling menyalahkan tidak lagi efektif,” tambah Azizi, menyoroti bahwa kesenjangan dalam dialog harus diatasi dengan langkah konkret.

Respons Korps Garda Revolusi Islam

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa pasukan angkatan lautnya telah mengambil tindakan langsung terhadap posisi militer AS. Menurut pernyataan resmi, serangan ini dilakukan sebagai bentuk balasan atas serangan AS yang menargetkan Iran di wilayah selatan. “Kami merespons tindakan agresif Washington dengan kekuatan yang kami miliki,” jelas IRGC, menegaskan bahwa tindakan tersebut adalah bagian dari strategi pertahanan negara.

Sebelumnya, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengungkapkan bahwa pasukan AS melakukan serangan terhadap situs rudal, drone, dan radar Iran. Tindakan ini dilakukan setelah menuduh Teheran berada di balik serangan terhadap kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz. “Amerika Serikat berhak mengambil tindakan tegas untuk melindungi kepentingannya di kawasan ini,” ujar sumber dari CENTCOM, menjelaskan bahwa serangan AS dilakukan sebagai upaya membalas serangan teroris.

“Presiden AS yang gagap telah menunjukkan bahwa dia tidak memiliki komitmen terhadap prinsip-prinsip negosiasi atau gencatan senjata,” kata Azizi. “Pelanggaran sembrono terhadap gencatan senjata akan, seperti biasa, menyebabkan kemunduran dan penyesalan bagi pihak AS.”

Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital untuk perdagangan minyak global, menjadi perhatian utama dalam konflik ini. Pernyataan bahwa Iran disebut sebagai pelaku serangan terhadap kapal dagang menimbulkan ketegangan yang semakin tinggi. Para ahli mengingatkan bahwa serangan AS di daerah tersebut dapat memicu respons lebih lanjut dari Iran, termasuk potensi serangan terhadap fasilitas militer AS di luar wilayah Iran.

Perkembangan Politik dan Diplomasi

Penyerangan AS terhadap Iran terjadi dalam konteks hubungan yang tegang sejak beberapa bulan terakhir. Meskipun negosiasi gencatan senjata sedang berlangsung, tindakan militer Washington dianggap sebagai langkah yang tidak kooperatif. Azizi menekankan bahwa serangan ini menunjukkan bahwa AS lebih memilih kekuatan daripada dialog, yang bisa mengancam kesepakatan yang belum selesai.

Sementara itu, para anggota parlemen Iran mengapresiasi tindakan IRGC sebagai bentuk pertahanan nasional. Mereka menilai bahwa serangan AS memberikan peluang bagi Iran untuk menegaskan posisi tegas dalam diplomasi. “Kami tidak akan diam saat negara-negara lain mengancam kepentingan kami,” tambah Azizi, menyoroti bahwa Iran tetap siap melakukan langkah balasan jika dibutuhkan.

“Presiden AS yang gagap telah menunjukkan bahwa dia tidak memiliki komitmen terhadap prinsip-prinsip negosiasi atau gencatan senjata,” kata Azizi. “Pelanggaran sembrono terhadap gencatan senjata akan, seperti biasa, menyebabkan kemunduran dan penyesalan bagi pihak AS.”

Konflik ini juga menghadirkan dampak global. Beberapa negara di kawasan Timur Tengah mengapresiasi upaya Iran untuk melindungi kepentingan nasionalnya, sementara lainnya khawatir akan meluasnya konflik ke level yang lebih besar. “Kami mengharapkan Washington menjaga kesabaran dan tetap terbuka dalam negosiasi,” kata seorang diplomat dari negara Arab, yang menilai serangan AS mungkin merusak momentum kesepakatan.

Di sisi lain, anggota parlemen Iran menilai bahwa tindakan AS dianggap sebagai kebijakan luar negeri yang tidak konsisten. Mereka menekankan bahwa serangan ini bisa mengganggu upaya internasional untuk menyelesaikan konflik dengan cara damai. “Amerika Serikat harus memahami bahwa serangan militer saat proses negosiasi berlangsung dapat merusak kepercayaan negara-negara lain,” ujar Azizi, yang menekankan perlunya keseriusan dari pihak AS.

Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengungkapkan bahwa serangan terhadap Iran dilakukan setelah menuduh Teheran terlibat dalam aksi teroris. “Serangan tersebut adalah tanggapan terhadap ancaman yang terus-menerus dari Iran,” jelas sumber dari CENTCOM, menegaskan bahwa tindakan AS adalah langkah pencegahan untuk melindungi keamanan dan kepentingan strategis di Selat Hormuz.

Leave a Comment