Program Terbaru: Perang AS-Israel Bangunkan “Macan Tidur”, Iran-Korut “Bersatu”
Perang AS-Israel Bangunkan “Macan Tidur”, Iran-Korut “Bersatu”
Jakarta, CNBC Indonesia – Para ahli mengatakan bahwa Iran dan Korea Utara (Korut) kemungkinan besar akan meningkatkan kerja sama militer mereka, terutama dalam bidang rudal dan teknologi nuklir. Hal ini diprediksi terjadi setelah konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel memasuki tahap remisi. Dalam beberapa tahun terakhir, Pyongyang diduga menyediakan bantuan teknis serta teknologi rudal bagi Teheran, yang juga membantu proses pengayaan uranium. Selama perang berlangsung, kedua negara terus membangun kepercayaan yang bisa memuncak saat infrastruktur militer Iran mulai dipulihkan.
Kerja Sama Militer yang Berpotensi Meningkat
Analisis yang dipublikasikan oleh laman Hong Kong, South China Morning Post (SCMP), menyebutkan bahwa hubungan militer Iran dan Korut bisa memperkuat pasca konflik. Seorang peneliti senior dari Korea Institute for National Security (KINU), Cho Han-bum, memperkirakan bahwa kerja sama ini akan berjalan lebih intensif. “Korea Utara dan Iran berpeluang kembali bersinergi dalam pengembangan rudal serta memperbaiki fasilitas pengayaan uranium, karena Iran ingin memiliki kemampuan untuk melakukan tindakan balasan besar,” ujarnya.
“Kemajuan teknologi Iran dalam bidang rudal dan nuklir sangat bergantung pada dukungan dari Korut, terutama ketika mereka menghadapi kesulitan memperoleh bantuan dari pihak lain,” tambah Cho.
Dukungan Korut dan Kritik terhadap Serangan AS-Israel
Saat konflik berlangsung, Korut juga menyatakan dukungan terhadap pemilihan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran. Melalui Korean Central News Agency (KCNA), Kementerian Luar Negeri Korut menghormati keputusan tersebut. “Rakyat Iran memiliki hak untuk memilih pemimpin mereka, dan kami menghargai pilihan tersebut,” tutur pihak berwenang.
“Serangan militer AS dan Israel terhadap Iran mengancam kestabilan kawasan serta menghancurkan fondasi perdamaian, yang bisa memicu ketidakstabilan global,” kata korut.
Uji Coba Rudal dan Latihan Militer Gabungan
Sementara itu, Kim Jong-un memantau uji coba rudal strategis dari kapal perusak baru Korut, yang dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan internasional. KCNA mengklaim bahwa Korut telah memasuki fase baru dalam kekuatan nuklirnya, dengan kemampuan “multi-peran” yang bisa mendukung ancaman militer. Kim Yo-jong, adik perempuan Kim, mengingatkan bahwa latihan militer gabungan AS-Korsel, Freedom Shield, bisa memicu konsekuensi serius.
“Serangan militer dari pihak yang bermusuhan di dekat wilayah kedaulatan kami akan menyebabkan kerusakan besar, bahkan tidak terduga,” pesannya.
Kerja Sama yang Berlangsung Selama Bertahun-Tahun
Menurut catatan sejarah, hubungan militer antara Iran dan Korut telah berlangsung lama sejak kedua pihak menjalin hubungan diplomatik pada 1973. Selama Perang Iran-Irak 1980-an, Korut menyuplai rudal Scud-B dan Scud-C kepada Iran sebagai bagian dari upaya membalas serangan Irak. Di dekade 1990-an, teknologi rudal Shahab Iran dikaitkan dengan pengembangan rudal Nodong dari Korut.
“Meski berlangsung secara rahasia, kerja sama antara Iran dan Korut tetap berjalan hingga kini, karena sanksi internasional membatasi pilihan Iran untuk mendapatkan teknologi militer,” jelas Oh Gyeong-seob, peneliti dari KINU.
Dalam beberapa tahun terakhir, peningkatan ketegangan global menyebabkan Iran dan Korut terus memperkuat sinergi mereka. Dengan akses terbatas ke sumber teknologi, Korut tetap menjadi mitra utama Iran dalam pengembangan senjata strategis.
