BRIN uji coba penggunaan tepung singkong untuk pemadaman karhutla

17 hours ago  ·  4 min read
By Joseph Wilson - fukushimask.com

Tepung Singkong Masuk Radar Penanggulangan Kebakaran Hutan: BRIN dan Polri Validasi Metode Komunitas

Fukushimask.com – Setiap kali musim kemarau menyapa sebagian besar wilayah Indonesia, bayang-bayang asap pekat dari kebakaran hutan dan lahan kembali menghantui langit. Dari Riau hingga Kalimantan, dari Sumatera Selatan hingga Papua, api yang menjalar di atas gambut dan vegetasi kering kerap menjadi mimpi buruk tahunan bagi jutaan warga. Air bersih yang sulit dijangkau di titik-titik terpencil, biaya agen kimia pemadam yang membengkak, serta keterlambatan respons menjadi kendala struktural yang belum sepenuhnya terpecahkan. Di tengah kebuntuan itulah, sebuah gagasan sederhana yang selama ini dipraktikkan oleh masyarakat lokal kini mendapat pengakuan formal dari lembaga riset negara.

Validasi Ilmiah atas Pengetahuan Komunitas

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) resmi membuka jalur uji coba dan kajian ilmiah terhadap pemanfaatan tepung singkong sebagai bahan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Langkah ini bukan sekadar eksperimen laboratorium; ia merupakan pengakuan bahwa praktik turun-temurun yang telah dilakukan masyarakat di tingkat akar rumput memiliki landasan saintifik yang layak dipertanggungjawabkan.

Kepala BRIN, Arif Satria, menyampaikan pernyataan tersebut di Istana pada Jumat, 28 Agustus. Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa metode pemadaman menggunakan tepung singkong—yang sebelumnya dipraktikkan oleh masyarakat dan kemudian disampaikan oleh Kapolri—terbukti masuk akal secara saintifik. Pernyataan ini menandai pergeseran penting: pengetahuan lokal yang selama ini dianggap anekdotal kini memasuki koridor validasi akademik.

“Metode pemadaman Karhutla menggunakan tepung singkong yang sebelumnya dipraktikkan oleh masyarakat dan disampaikan oleh Kapolri terbukti masuk akal secara saintifik.” — Arif Satria, Kepala BRIN

Dasar Kimia di Balik Tepung Singkong

Tim ahli kimia molekuler BRIN telah melakukan kajian teoritis untuk memvalidasi efektivitas metode tersebut. Secara prinsip, pati singkong mengandung amilosa dan amilopektin—dua polimer glukosa yang mampu membentuk lapisan pelindung ketika terpapar panas. Lapisan ini berfungsi sebagai penghalang antara bahan bakar dan oksigen, sehingga memutus rantai reaksi pembakaran. Mekanisme ini sejalan dengan prinsip pemadaman berbasis “smothering” yang sudah lama dikenal dalam teknik pemadam kebakaran konvensional, namun di sini diwujudkan melalui bahan alami yang melimpah di sentra-sentra produksi singkong Indonesia.

Keunggulan pendekatan ini terletak pada ketersediaan bahan baku. Singkong (Manihot esculenta) merupakan komoditas pangan pokok yang ditanam secara luas di hampir seluruh pulau besar Indonesia, dari dataran rendah Jawa hingga lereng-lereng di Sulawesi dan Papua. Artinya, rantai pasok bahan pemadam tidak bergantung pada impor agen kimia sintetis yang harganya fluktuatif dan logistiknya rentan terganggu saat musim kemarau memuncak.

Dimensi Operasional dan Kerja Sama Lintas Lembaga

Keterlibatan Polri dalam skema ini bukan sekadar formalitas kelembagaan. Kepolisian memiliki jaringan komando di tingkat kecamatan dan desa, serta kapasitas mobilisasi cepat yang dibutuhkan saat titik api baru terdeteksi. Dengan mengintegrasikan tepung singkong ke dalam protokol respons awal, petugas di lapangan dapat melakukan tindakan pemadaman pertama sebelum api meluas ke area yang memerlukan helikopter atau armada air berskala besar.

Uji coba yang sedang berlangsung mencakup dua dimensi sekaligus: pengujian lapangan untuk mengukur efektivitas praktis di berbagai tipe lahan—gambut, semak, hingga perkebunan—dan kajian teoritis lanjutan untuk mengoptimalkan formulasi, dosis, serta metode aplikasi. Hasil kedua jalur ini akan menentukan apakah metode tersebut layak diadopsi secara luas atau memerlukan modifikasi teknis.

Konteks Lebih Luas: Mengapa Alternatif Pemadaman Mendesak

Indonesia secara konsisten menempati daftar negara dengan emisi karbon tertinggi akibat kebakaran lahan, terutama pada tahun-tahun El Niño yang memperpanjang dan memperparah musim kering. Asap Karhutla tidak hanya menghanguskan ekosistem dan mengancam keanekaragaman hayati; ia juga memicu krisis kesehatan pernapasan, mengganggu penerbangan internasional, dan menurunkan kualitas udara hingga ke negara tetangga. Setiap jam keterlambatan dalam memadamkan titik api berarti kerugian ekologis dan ekonomi yang berlipat ganda.

Metode pemadaman konvensional—penyemprotan air, busa kimia, atau pembajakan tanah—memiliki keterbatasan nyata di medan gambut yang dalam dan di lokasi yang jauh dari sumber air. Tepung singkong, sebagai bahan padat yang mudah diangkut dalam kemasan ringan, menawarkan solusi logistik yang jauh lebih sederhana untuk tahap respons awal. Ia tidak menggantikan armada udara atau sistem hidran, melainkan mengisi celah kritis antara deteksi titik api dan kedatangan sumber daya berat.

Implikasi Jangka Panjang

Jika uji coba menghasilkan data yang mendukung efektivitas dan keamanan lingkungan, adopsi tepung singkong dalam protokol Karhutla akan membawa konsekuensi positif berlapis. Petani singkong di sentra produksi memperoleh nilai tambah baru bagi hasil panen mereka. Masyarakat adat dan komunitas lokal yang selama ini mengandalkan praktik ini secara informal kini mendapat pengakuan institusional atas pengetahuan mereka. Sementara itu, negara mengurangi ketergantungan pada bahan kimia impor dan menurunkan jejak karbon dari operasi pemadaman berskala besar.

Yang terpenting, langkah ini menegaskan bahwa inovasi penanggulangan bencana tidak selalu harus lahir dari laboratorium berbiaya tinggi. Kadang-kadang, jawaban paling pragmatis sudah ada di dapur rumah tangga, di ladang, dan di tangan masyarakat yang selama puluhan tahun mengamati, mencoba, dan menyaring pengalaman secara turun-temurun. Tugas lembaga riset negara adalah menerjemahkan pengamatan itu ke dalam bahasa sains yang dapat diukur, diuji, dan direplikasi—dan itulah yang kini sedang dilakukan BRIN bersama Polri.

Frequently Asked Questions

What is BRIN uji coba penggunaan tepung singkong?

BRIN uji coba penggunaan tepung singkong is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does BRIN uji coba penggunaan tepung singkong matter?

BRIN uji coba penggunaan tepung singkong matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category