Video

Key Discussion: BI Jatim jelaskan lima langkah kebijakan penguatan rupiah

skan Lima Strategi untuk Memperkuat Rupiah Key Discussion - Rabu (10/6), pimpinan Bank Indonesia (BI) Perwakilan Jawa Timur melakukan pertemuan dengan

Desk Video
Published June 11, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

BI Jatim Jelaskan Lima Strategi untuk Memperkuat Rupiah

Key Discussion – Rabu (10/6), pimpinan Bank Indonesia (BI) Perwakilan Jawa Timur melakukan pertemuan dengan kelompok mahasiswa dari Cipayung Plus di Surabaya. Pertemuan ini bertujuan untuk menjelaskan langkah-langkah yang diambil oleh BI dalam upaya memperkuat nilai tukar rupiah, yang beberapa hari sebelumnya terpantau mengalami pelemahan hingga mencapai Rp18.000 per dolar AS. Hadir dalam pertemuan tersebut adalah Hanif Nasrullah, Denno Ramdha Asmara, dan Arsy Fitriady, yang turut memberikan perspektif lokal terkait kebijakan tersebut.

Perubahan Kurs Rupiah dan Tindakan BI

Kurs rupiah yang sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar AS mencerminkan ketidakstabilan pasar keuangan akibat berbagai faktor ekonomi global. Dalam sesi dialog, BI Jatim menekankan pentingnya keterlibatan pihak-pihak yang peduli terhadap kebijakan moneter. Para demonstran yang hadir menyampaikan kekhawatiran akan dampak inflasi dan pengaruh nilai tukar yang turun terhadap daya beli masyarakat.

“Penguatan rupiah memerlukan koordinasi yang lebih intensif antara institusi keuangan dan masyarakat,” ujar Hanif Nasrullah, salah satu perwakilan BI Jatim.

Menurutnya, upaya memperkuat rupiah tidak hanya bersifat teknis tetapi juga memerlukan pemahaman dari berbagai pihak, terutama dalam konteks krisis ekonomi yang terjadi saat ini. BI Jatim menyatakan bahwa kelompok mahasiswa Cipayung Plus menjadi bagian dari upaya mencari solusi bersama untuk mengatasi tantangan tersebut.

Kebijakan BI dalam Masa Kritis

Dalam pertemuan tersebut, BI Jatim juga mengungkapkan tindakan yang diambil setelah Rapat Dewan Gubernur pada 9 Juni lalu. Kebijakan yang diperkenalkan mencakup lima strategi kunci untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Kebijakan ini merupakan respons terhadap kondisi pasar yang fluktuatif dan tekanan eksternal dari perubahan kebijakan keuangan internasional.

Langkah pertama melibatkan penyesuaian suku bunga acuan BI untuk menarik aliran modal asing. Dengan peningkatan suku bunga, bank-bank dalam negeri diharapkan dapat meningkatkan imbal hasil investasi dan menurunkan permintaan mata uang asing. Selain itu, BI juga menekankan peran pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekspor dan mengurangi defisit neraca perdagangan.

Langkah kedua berupa pengoptimalan kebijakan fiskal pemerintah daerah. BI Jatim menyarankan pemerintah lebih selektif dalam pengelolaan anggaran, terutama dalam memastikan alokasi dana yang efektif untuk sektor strategis. Kebijakan ini bertujuan mengurangi risiko peningkatan inflasi dan memperkuat daya saing ekonomi lokal.

Langkah ketiga melibatkan peningkatan daya tarik investasi dari dalam negeri. BI Jatim mengatakan bahwa memperkuat kepercayaan investor domestik menjadi salah satu kunci dalam mengimbangi aliran dana dari luar negeri. Dengan memperbaiki iklim investasi, ekonomi Jawa Timur diharapkan dapat menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan produktivitas.

Langkah keempat adalah penguatan sektor keuangan melalui pengawasan lebih ketat terhadap kebijakan moneter dan keuangan. BI Jatim menyoroti perluasan akses perbankan kepada masyarakat pedesaan dan pedagang kecil, sehingga distribusi keuangan bisa lebih merata. Hal ini dipercaya dapat memperkuat stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Langkah kelima mencakup peningkatan koordinasi antarinstansi dalam menghadapi tekanan eksternal. BI Jatim mengungkapkan pentingnya kerja sama dengan Bank Sentral Indonesia, Kementerian Keuangan, dan lembaga lainnya untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah. “Kita harus bergerak secara bersamaan dan selaras, agar kebijakan yang diambil tidak terpisah dari tujuan jangka panjang,” tambah Denno Ramdha Asmara, anggota tim BI Jatim.

Perspektif Masyarakat dan Tantangan Mendatang

Dalam sesi tanya jawab, para demonstran menyampaikan harapan bahwa kebijakan BI bisa lebih transparan dan mampu mencerminkan kebutuhan masyarakat. Arsy Fitriady, seorang mahasiswa yang juga anggota Cipayung Plus, menegaskan bahwa kebijakan moneter harus diukur dari dampaknya pada kehidupan sehari-hari warga.

Mengenai tantangan ke depan, BI Jatim mengatakan bahwa pelemahan rupiah tidak bisa diatasi hanya dengan langkah moneter semata. Kebijakan lain seperti peningkatan kapasitas industri dalam negeri dan penurunan biaya produksi menjadi faktor penting. “Kita perlu memperkuat sektor ekonomi sebelum fokus pada kurs rupiah,” jelas Hanif Nasrullah.

Sementara itu, pihak BI juga menyoroti peran masyarakat dalam mendukung kebijakan tersebut. Para pemangku kepentingan diharapkan bisa memahami bahwa langkah-langkah yang diambil bersifat sistematis dan membutuhkan waktu untuk menunjukkan hasil. Namun, BI Jatim tetap optimis bahwa dengan kombinasi kebijakan yang tepat, rupiah bisa kembali ke level yang lebih stabil.

Kebijakan penguatan rupiah yang diumumkan ini merupakan bagian dari upaya lebih besar BI dalam menjaga keseimbangan ekonomi. Dengan lima langkah yang telah ditetapkan, BI Jatim berharap dapat mencapai target stabilitas nilai tukar dalam waktu dekat. Pertemuan dengan Cipayung Plus dianggap sebagai langkah awal untuk memastikan kebijakan tersebut didukung oleh berbagai pihak, termasuk masyarakat luas.

Kebijakan BI ini juga diharapkan mampu menjadi contoh terbaik dalam manajemen moneter yang responsif terhadap dinamika pasar. Dengan menyesuaikan kebijakan secara proaktif, BI Jatim memastikan bahwa Jawa Timur tetap menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang sehat dan berkelanjutan. Persoalan kurs rupiah, meski masih menjadi perhatian utama, tidak akan menjadi penghalang bagi perekonomian daerah jika diimbangi dengan langkah-langkah yang komprehensif.

Leave a Comment