Warta Bumi

BNPB: 2.533 rumah warga rusak akibat gempa di Sigi

BNPB: 2.533 Rumah Warga Rusak Akibat Gempa di Sigi BNPB - Jakarta, Antara News – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bahwa sebanyak

Desk Warta Bumi
Published June 25, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

BNPB: 2.533 Rumah Warga Rusak Akibat Gempa di Sigi

BNPB – Jakarta, Antara News – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bahwa sebanyak 2.533 rumah warga mengalami kerusakan akibat gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Gempa tersebut disertai oleh lebih dari seribu kali gempa susulan sejak bencana utama terjadi pada 16 Juni 2026. Dalam pernyataannya di Jakarta, Kamis, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menjelaskan bahwa data mengenai aktivitas gempa susulan dihimpun berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga Selasa (23/6) pukul 24.00 waktu setempat.

Analisis Aktivitas Gempa Susulan

Abdul Muhari menambahkan, dari total 1.349 gempa susulan yang terjadi, hanya 49 yang dirasakan oleh masyarakat. Gempa paling kuat di antara mereka memiliki magnitudo 5,3, yang tercatat satu kali. Meski jumlah gempa susulan tergolong tinggi, BMKG mencatat bahwa aktivitas kegempaan di lapangan kini menunjukkan penurunan signifikan. “Aktivitas gempa susulan sedang berkurang, sehingga risiko perluasan kerusakan mulai mengecil,” ujarnya.

“Dari total 1.349 gempa susulan yang terjadi, terdapat 49 gempa yang dirasakan oleh masyarakat, dengan gempa terbesar berkekuatan magnitudo 5,3 yang tercatat sebanyak satu kali,” kata Abdul Muhari.

Kondisi Korban dan Infrastruktur yang Terdampak

Pemutakhiran data terbaru menunjukkan bahwa 3.600 Kepala Keluarga (KK) atau 9.609 jiwa di Kabupaten Sigi terdampak oleh bencana tersebut. Semua korban luka telah mendapatkan penanganan medis dan kini dalam kondisi pulih. Menurut BNPB, kerusakan pada bangunan rumah dibagi menjadi tiga kategori: 1.979 rumah rusak ringan, 277 rusak sedang, dan 277 rusak berat. Selain itu, terdapat 110 bangunan rumah ibadah yang mengalami kerusakan, terdiri dari 29 masjid dan 81 gereja.

Fasilitas Umum yang Mengalami Kerusakan

Kerusakan juga terjadi pada sejumlah fasilitas umum seperti 19 gedung perkantoran, termasuk Kantor Bupati dan Bapperinda. Selain itu, 35 bangunan sekolah, 10 puskesmas, dua rumah adat, dua jaringan air bersih, serta enam fasilitas umum lainnya mengalami gangguan. Saat ini, fasilitas-fasilitas tersebut masih menunggu verifikasi teknis struktur bangunan untuk menentukan tingkat kerusakan yang lebih spesifik.

Status Darurat dan Upaya Rehabilitasi

Untuk mengatasi dampak dari gempa, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sigi tetap mengaktifkan status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi selama 14 hari, mulai 16 hingga 30 Juni 2026. Status darurat ini didampingi secara penuh oleh BNPB bersama seluruh pemangku kepentingan untuk mempersiapkan tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi. “Kami terus memantau kondisi korban dan kebutuhan mereka,” kata Abdul Muhari.

Pembangunan Rumah Hunian Sementara

Abdul Muhari juga menyampaikan bahwa sebanyak 50 rumah hunian sementara (huntara) saat ini dalam proses pembangunan. Huntara tahap pertama dibangun secara terpusat oleh pemerintah di Desa Kamarora, Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi. “Tujuan pembangunan ini adalah untuk memberikan tempat tinggal sementara kepada para penyintas gempa,” ujarnya.

Perkembangan dan Rencana Selanjutnya

Dalam penjelasannya, Abdul Muhari menegaskan bahwa perbaikan infrastruktur dan pemulihan kembali kehidupan normal warga masih memerlukan waktu. “Kerja sama antarinstansi dan pihak berkepentingan sangat penting untuk mempercepat proses pemulihan,” imbuhnya. Selain itu, pihak BNPB terus mengumpulkan data tambahan terkait dampak gempa, termasuk evaluasi terhadap tingkat risiko di daerah-daerah lain di Sulawesi Tengah.

Kondisi Wilayah dan Tanggung Jawab Pemangku Kepentingan

BNPB menekankan bahwa warga Sigi tetap diutamakan dalam pelayanan darurat. “Kami berupaya memastikan setiap kebutuhan masyarakat terpenuhi, baik dalam hal logistik maupun dukungan medis,” tutur Abdul Muhari. Pemkab Sigi juga melibatkan berbagai organisasi dan komunitas lokal untuk mempercepat respons bencana. Dengan adanya status darurat, kegiatan pembersihan, distribusi bantuan, dan pendampingan korban dapat berjalan lebih terstruktur.

Verifikasi Teknis dan Tantangan Mendatang

Meski kondisi gempa mulai stabil, proses verifikasi teknis terhadap bangunan-bangunan rusak masih berlangsung. “Kami perlu mengetahui apakah bangunan-bangunan tersebut dapat digunakan kembali atau memerlukan perbaikan mendalam,” jelas

Leave a Comment