Tekno

New Policy: Kemkomdigi ajak anak-anak beraktivitas fisik sebagai alternatif gawai

Kemkomdigi Ajak Anak-Anak Beraktivitas Fisik Sebagai Alternatif Gawai New Policy - Di tengah dominasi perangkat digital dalam kehidupan sehari-hari

Desk Tekno
Published June 12, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Kemkomdigi Ajak Anak-Anak Beraktivitas Fisik Sebagai Alternatif Gawai

New Policy – Di tengah dominasi perangkat digital dalam kehidupan sehari-hari, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkomdigi) mengusulkan agar anak-anak lebih sering terlibat dalam kegiatan fisik sebagai cara untuk mengurangi ketergantungan pada gawai. Program Tunas Jakarta, yang diinisiasi oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemkomdigi, menjadi salah satu langkah konkret dalam mengarahkan anak-anak ke dunia nyata sekaligus melindungi mereka dari dampak negatif teknologi. Inisiatif ini sejalan dengan kebijakan regulasi yang lebih ketat terhadap penggunaan platform digital oleh anak-anak.

Tingginya Keterlibatan Anak di Ruang Digital

Menurut Bonifasius Wahyu Pudjianto, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemkomdigi, anak-anak saat ini menunjukkan tingkat keterlibatan yang tinggi dalam lingkungan digital. Data menunjukkan bahwa rata-rata anak menghabiskan 7,5 jam sehari di depan layar, baik melalui ponsel, tablet, maupun komputer. “Anak-anak sangat aktif di ruang digital, bahkan hingga sekitar 7,5 jam per hari. Kami ingin mendukung mereka untuk kembali berinteraksi dalam kondisi fisik, yang penting bagi pembelajaran, pertemanan, dan pemahaman dunia nyata,” jelas Bonifasius saat peresmian program Tunas Jakarta di Taman Bendera Pusaka, Jakarta Selatan, Jumat lalu.

“Tunggu Anak Siap bukan berarti menghambat anak, bukan berarti membuat anak tertinggal, namun justru sebaliknya, kita ingin memastikan anak-anak masuk ke ruang digital saat mereka benar-benar siap baik secara usia, emosi, siap secara pemahaman,” kata Bonifasius.

Kebutuhan Keseimbangan Ruang Digital dan Fisik

Program Tunas Jakarta dirancang untuk menawarkan kegiatan nyata yang bisa menjadi substitusi aktivitas di ruang digital. Bonifasius menekankan bahwa kebijakan ini bukan untuk membatasi akses anak terhadap teknologi, tetapi untuk memastikan mereka masuk ke dunia virtual hanya setelah memahami risiko dan manfaatnya. “Kita ingin membangun keseimbangan antara dunia digital dan dunia fisik,” tambahnya. Dalam konteks ini, Tunas Jakarta menjadi platform untuk mengajak anak-anak menghabiskan waktu di luar layar, sekaligus mengasah keterampilan sosial dan motorik.

Kegiatan yang dihadirkan di program ini beragam, mulai dari permainan tradisional hingga olahraga yang bisa dilakukan bersama. Selain itu, Tunas Jakarta juga menampilkan berbagai fasilitas yang memudahkan anak-anak berinteraksi secara langsung dengan lingkungan sekitar. Bonifasius menyatakan bahwa pihaknya sengaja memilih lokasi di Taman Bendera Pusaka sebagai simbol keberadaan ruang alam yang bisa diakses secara gratis. “Kita ingin memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk menjelajahi dunia fisik sebelum memasuki dunia digital,” ujarnya.

PP Tunas sebagai Regulasi Pendukung

Program ini merupakan bagian dari Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas). Regulasi ini membatasi akses anak-anak ke platform digital berisiko, seperti media sosial yang bisa mengganggu konsentrasi atau mengandung konten tidak sehat. Bonifasius menegaskan bahwa PP Tunas bertujuan memberikan pengawasan lebih ketat terhadap penggunaan teknologi, terutama bagi anak di bawah usia tertentu.

“Kita ingin memberitahukan kepada publik bahwa ruang digital itu bagus, kita harus tetap memiliki pengawasan dari orang tua, namun kita juga tetap membutuhkan koneksi di ruang publik dan ruang fisik,” ujarnya.

Alfreno Kautsar Ramadhan, Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital Bidang Kepemudaan dan Start Up, menambahkan bahwa Tunas Jakarta bertujuan menjawab keluhan para orang tua tentang kebutuhan aktivitas alternatif bagi anak setelah pembatasan akses digital diberlakukan. “Kita selama ini selalu mendorong bahwa dunia digital memiliki risiko, tetapi kita juga harus memberikan solusi berupa aktivitas yang seimbang,” kata Alfreno. Menurutnya, keberhasilan program ini tergantung pada kolaborasi antar berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, komunitas, operator seluler, dan platform digital.

Partisipasi Berbagai Pihak dalam Program

Tunas Jakarta tidak hanya berfokus pada kegiatan anak, tetapi juga melibatkan masyarakat luas sebagai penyeimbang. Alfreno menjelaskan bahwa program ini bertujuan menciptakan lingkungan yang memungkinkan anak-anak menjelajahi dunia nyata sambil tetap terhubung dengan teknologi. “Kita ingin anak-anak tetap memanfaatkan digital, tetapi dengan pendampingan yang lebih baik,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, program ini menyediakan berbagai fasilitas yang bisa menarik minat anak-anak, seperti permainan edukatif, kegiatan olahraga, dan workshop yang melibatkan para orang tua. Alfreno menekankan bahwa Tunas Jakarta tidak bertujuan menjauhkan anak dari teknologi, melainkan membantu mereka memahami bagaimana memanfaatkan digital dengan bijak. “Kita perlu memastikan bahwa anak-anak tidak hanya menjadi korban teknologi, tetapi juga bisa menjadi pengguna yang cerdas,” jelas Alfreno.

Peluang Kolaborasi di Tingkat Daerah

Kemkomdigi berharap program Tunas Jakarta bisa menjadi contoh untuk daerah lain. “Hari ini merupakan yang pertama, dan berlangsung selama dua hari. Selebihnya kita masih meraba pemprov atau pemda mana yang memang ingin berkolaborasi,” tambah Alfreno. Ia menyatakan bahwa pihaknya sedang mengeksplorasi kerja sama dengan pemerintah provinsi DKI Jakarta sebagai pengujung awal. “Kita ingin program ini bisa berkembang di berbagai kota, mengingat tantangan digital semakin kompleks,” katanya.

Dengan adanya Tunas Jakarta, Kemkomdigi mengharapkan ada perubahan pola pikir anak-anak terhadap teknologi. “Program ini mengajarkan bahwa digital bisa menjadi alat bantu, bukan penjebak. Anak-anak perlu belajar mengatur waktu mereka sendiri,” tutur Alfreno. Dalam jangka panjang, kegiatan ini diharapkan bisa membentuk generasi

Leave a Comment