Bisnis

Key Discussion: PTPN I perluas lahan tebu hingga Sulawesi demi swasembada gula

Ekspansi Lahan Tebu PTPN I ke Sulawesi untuk Dukung Target Swasembada Gula Key Discussion - Jakarta, 13 April 2023 — PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I sedang

Desk Bisnis
Published June 16, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Ekspansi Lahan Tebu PTPN I ke Sulawesi untuk Dukung Target Swasembada Gula

Key Discussion – Jakarta, 13 April 2023 — PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I sedang mengambil langkah strategis dengan memperluas area pengembangan tanaman tebu hingga ke wilayah Sulawesi. Tindakan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat pasokan bahan baku untuk industri gula dalam negeri, sesuai dengan program prioritas pemerintah dalam mencapai swasembada gula nasional. Sekretaris Perusahaan PTPN I, Aris Handoyo, menjelaskan bahwa ekspansi lahan menjadi salah satu pilar utama dalam menciptakan kestabilan produksi gula di Indonesia.

Pengembangan Bersama PT Sinergi Gula Nusantara

Menurut Aris, kebijakan ekstensifikasi lahan tebu dilakukan bersama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), yang bertindak sebagai pengelola utama bisnis gula. Saat ini, perusahaan memiliki sekitar 60.000 hektare lahan tebu yang dikelola melalui kerja sama dengan SGN. Ekspansi ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi gula nasional, sekaligus mengatasi ketergantungan pada impor. “Kita menambah luas area lahan, baik di Pulau Jawa maupun Sulawesi, sebagai salah satu pilar utama pertebuan Indonesia,” terang Aris dalam wawancara bersama media di Jakarta, Senin malam.

Wilayah Prioritas di Jawa dan Sulawesi

PTPN I memfokuskan ekspansi lahan tebu di beberapa wilayah strategis. Pulau Jawa, khususnya Jawa Timur, menjadi pusat utama pengembangan. Di samping itu, perusahaan juga melibatkan sebagian area Jawa Tengah dan Jawa Barat dalam upaya ini. Di sisi lain, Kabupaten Bone dan Takalar di Sulawesi Selatan menjadi lokasi baru yang dipertimbangkan karena memiliki potensi tinggi untuk memperluas produktivitas. “Kabupaten Bone dan Takalar dinilai memiliki kondisi tanah yang cocok untuk pertumbuhan tebu, sehingga bisa menjadi titik penyeimbang untuk target swasembada,” tambahnya.

Tantangan Ekonomi di Sumatra

Meski ekspansi lahan tebu sedang berjalan, Aris Handoyo mengungkapkan bahwa beberapa daerah seperti Sumatra menghadapi kesulitan. Persaingan dengan komoditas bernilai tinggi seperti kelapa sawit menjadi tantangan utama. “Di Sumatra, perluasan areal tanam agak sulit karena kompetisi dengan sawit yang sangat kuat,” jelas Aris. Namun, ia menegaskan bahwa perusahaan tetap berupaya mencari lokasi potensial dengan pendekatan adaptif.

Strategi Intensifikasi untuk Produktivitas Tinggi

Sebagai pendukung utama, PTPN I juga menerapkan strategi intensifikasi. Langkah ini meliputi penggunaan varietas tebu unggul dan penerapan metode budidaya yang lebih optimal. Aris menyebutkan bahwa pemupukan yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dapat meningkatkan kandungan nira, sehingga menghasilkan rendemen gula yang lebih besar. “Dengan rendemen tinggi, produksi gula nasional bisa ditingkatkan, sekaligus memberi manfaat lebih kepada petani,” ujarnya.

Koordinasi dengan PT Pupuk Indonesia

Untuk mendukung keberhasilan intensifikasi, PTPN I bekerja sama dengan PT Pupuk Indonesia. Kolaborasi ini bertujuan memastikan ketersediaan pupuk secara tepat waktu untuk kebun perusahaan dan petani tebu rakyat. Aris menekankan pentingnya penggunaan pupuk yang sesuai untuk menjaga kualitas tanaman dan meningkatkan hasil panen. “Pupuk yang diberikan dirancang agar bisa memaksimalkan pertumbuhan tanaman, sehingga hasil panen lebih baik dan stabil,” tuturnya.

Pengembangan Lahan yang Dinamis

Menurut Aris, proses perluasan lahan tebu bersifat dinamis. Setiap hari, tim perusahaan terus mengevaluasi lokasi potensial di berbagai wilayah, baik di Pulau Jawa maupun Sulawesi. “Perluasan areal bisa berlangsung setiap minggu, tergantung identifikasi tanah yang cocok,” katanya. Perusahaan juga melakukan bongkar ratoon di Jawa Timur untuk meningkatkan produktivitas tanaman yang telah mengalami penurunan hasil.

Target Swasembada Gula hingga 2027

Sementara itu, Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, memastikan target swasembada gula konsumsi pada 2027 tetap berjalan sesuai rencana. Ia menegaskan bahwa pemerintah akan terus mendukung keberlanjutan produksi gula nasional meskipun ada tantangan dalam distribusi dan produksi. “Target kita adalah tahun depan (swasembada) white sugar, gula putih. Itu target kita. Mudah-mudahan tidak meleset lagi,” ujarnya saat diwawancara usai menghadiri Rapat Percepatan Realisasi Pendanaan Penyerapan Gabah Setara Beras di Jakarta, Senin (13/4).

Pengaruh Swasembada pada Ekspor

Aris Handoyo berharap, keberhasilan swasembada gula bisa membuka peluang Indonesia kembali menjadi eksportir gula di tingkat internasional. Langkah ekspansi dan peningkatan produktivitas dijalankan secara bersamaan, agar bisa mencapai target lebih cepat. “Dengan luas areal yang terus bertambah dan kualitas hasil yang meningkat, kita bisa mewujudkan swasembada dalam waktu yang lebih singkat,” jelasnya. Selain itu, kebijakan ini juga diharapkan mendorong minat masyarakat untuk menanam tebu, terutama di daerah-daerah yang sebelumnya kurang berminat.

Peran Petani dalam Swasembada

Menurut Aris, pemerintah memegang peran penting dalam memastikan keberhasilan program swasembada. Langkah-langkah seperti perlindungan terhadap petani tebu diambil untuk menjaga stabilitas produksi. “Dengan meningkatkan hasil panen petani, kita bisa memenuhi kebutuhan gula dalam negeri secara mandiri, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor,” tambahnya. Program ini juga diharapkan memperkuat ekonomi lokal melalui peningkatan kesejahteraan para petani.

Upaya Berkelanjutan untuk Masa Depan

Dalam jangka panjang, PTPN I berkomitmen untuk menjaga keberlanjutan pengembangan lahan tebu. Aris menyebutkan bahwa kebijakan ini harus diimbangi dengan perlindungan lingkungan dan penerapan teknologi pertanian modern. “Kami menggabungkan ekspansi dan intensifikasi agar hasil yang diperoleh lebih optimal dan berkelanjutan,” jelasnya. Dengan demikian, perusahaan berupaya menciptakan ekosistem pertanian yang seimbang, baik untuk kebutuhan nasional maupun potensi ekspor.

Kesiapan Menghadapi Tantangan

Sementara itu, Aris Handoyo menyampaikan bahwa PTPN I tetap siap menghadapi berbagai tantangan dalam proses swasembada. Perluasan lahan dan penerapan strategi intensifikasi dilakukan secara berkelanjutan, dengan terus menyesuaikan metode berdasarkan kondisi setempat. “Kami mengevaluasi setiap tahap agar tidak ada penurunan kualitas hasil produksi,” ujarnya. Keberhasilan program ini juga bergantung pada keterlibatan pemerintah dan masyarakat, terutama dalam mendorong kesadaran akan pentingnya kebun tebu nasional.

Langkah Taktis untuk Swasembada

Sebagai bagian dari strategi, PTPN I juga mendorong partisipasi lebih besar dari petani rakyat. Upaya ini dilakukan melalui penyediaan bantuan teknis dan pendampingan. “Petani rakyat menjadi bagian integral dari rantai produksi gula nasional, sehingga keberhasilan kami sangat bergantung pada mereka,” tambah Aris. Dengan demikian, ekspansi lahan tidak hanya menjadi tanggung jawab perusahaan, tetapi juga melibatkan peran aktif masyarakat setempat.

Perkembangan Terkini

Menurut informasi terbaru, pengembangan lahan tebu ter

Leave a Comment