Bisnis

Visit Agenda: Wamen: Rupiah melemah jadi daya tarik wisatawan ke Indonesia

Wamen: Pelemahan Rupiah Menjadi Keuntungan untuk Pariwisata Indonesia Visit Agenda - Dalam acara pameran perjalanan wisata Bali & Beyond Travel Fair (BBTF)

Desk Bisnis
Published May 31, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Wamen: Pelemahan Rupiah Menjadi Keuntungan untuk Pariwisata Indonesia

Visit Agenda – Dalam acara pameran perjalanan wisata Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyatakan bahwa penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat justru membuka peluang baru bagi sektor pariwisata Indonesia. Menurutnya, kondisi mata uang lokal ini berdampak positif, meningkatkan daya tarik destinasi wisata di Nusantara bagi pengunjung asing. “Melemahnya rupiah menjadi keuntungan bagi pariwisata Indonesia, karena hal ini memberikan kesempatan untuk menarik lebih banyak wisatawan,” ujarnya.

Kebijakan promosi yang dilakukan Kementerian Pariwisata saat ini diharapkan mampu memanfaatkan situasi ini. Wamenpar menjelaskan bahwa dengan kurs rupiah yang terus menurun, pengunjung luar negeri cenderung lebih tertarik menghabiskan waktu lebih lama di Indonesia. “Karena harga tiket pesan, akomodasi, atau layanan wisata lebih terjangkau, wisatawan akan lebih memilih destinasi kita untuk dikunjungi,” lanjut Ni Luh Puspa. Ia menekankan bahwa inisiatif ini tidak hanya mengubah pola kunjungan, tetapi juga menumbuhkan minat wisatawan terhadap Indonesia secara keseluruhan.

“Saya yakin bahwa situasi saat ini menjadi peluang luar biasa bagi Indonesia, di mana daya tarik destinasi bisa lebih terlihat. Wisatawan dari pasar jarak dekat, seperti negara-negara tetangga, diprediksi akan meningkat, karena biaya perjalanan mereka terasa lebih ringan,” kata Ni Luh Puspa.

Sementara itu, Wamenpar juga mengungkapkan bahwa kebijakan penggalian pasar ini menjadi strategi utama untuk mengimbangi penurunan kunjungan dari daerah lain. Ia menjelaskan bahwa selama triwulan pertama tahun 2026, jumlah pengunjung yang datang ke Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan periode yang sama di tahun 2025. “Angka tersebut membuktikan bahwa meski ada dinamika geopolitik global, industri pariwisata kita tetap stabil dan berpotensi tumbuh,” katanya.

Dalam wawancara terpisah, Ni Luh Puspa menyebutkan bahwa pelemahan rupiah terkait erat dengan perubahan keadaan geopolitik di beberapa wilayah, terutama di Timur Tengah. “Kondisi ini memengaruhi alur perdagangan internasional dan membuat mata uang beberapa negara menjadi lebih kuat. Dengan kurs rupiah yang lebih rendah, Indonesia bisa menawarkan paket wisata yang lebih murah kepada turis dari negara-negara berdekatan,” terangnya.

Menurut data yang diperoleh Kementerian Pariwisata, triwulan pertama 2026 mencatatkan kenaikan jumlah wisatawan internasional dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa strategi promosi yang dilakukan pemerintah berdampak efektif. “Meski pasar Eropa dan Timur Tengah mengalami penurunan, kita tetap optimis karena ada kenaikan signifikan dari pasar Asia Tenggara dan ASEAN,” tambah Wamenpar.

“Kami sedang menggencarkan berbagai bentuk pemasaran, seperti misi penjualan dan partisipasi di pameran internasional, untuk memperkuat daya tarik Indonesia. Harapan kami adalah agar pertumbuhan ini bisa terus berlanjut hingga triwulan kedua tahun 2026,” ujarnya.

Menyikapi situasi global, Ni Luh Puspa juga meminta pelaku industri pariwisata lebih proaktif dalam menyesuaikan target pasar. “Kami menyarankan para pengusaha untuk fokus pada turis lokal dan negara-negara tetangga, karena keberadaan mereka bisa menjadi sumber utama penerimaan devisa,” kata wakil menteri itu. Ia menambahkan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada pasar yang lebih jauh dan meningkatkan stabilitas jumlah kunjungan.

Pasca-kenaikan tarif impor yang terjadi sepanjang 2025, industri pariwisata Indonesia terus berupaya memperkuat keberadaannya di pasar global. Berdasarkan laporan terbaru, kunjungan wisatawan dari Timur Tengah menurun 15 persen dibanding tahun sebelumnya, sedangkan dari Asia Tenggara dan Asia Tenggara meningkat 10 persen. “Ini membuktikan bahwa tren kepariwisataan kita tidak tergoyahkan, meski ada faktor eksternal yang menggerakkan perubahan,” kata Wamenpar.

Di sisi lain, Ni Luh Puspa memaparkan bahwa pelemahan rupiah tidak hanya menarik wisatawan dari negara-negara jarak dekat, tetapi juga membuka peluang bagi pengembangan wisatawan internasional dari kawasan Asia Selatan. “Kami melihat adanya potensi pertumbuhan di pasar seperti India, Pakistan, dan Bangladesh, karena mereka memiliki anggaran devisa yang lebih luas untuk berwisata di Indonesia,” terangnya.

“Jadi, meskipun ada tekanan dari dinamika geopolitik, kita tetap bisa optimis. Dengan memanfaatkan peluang ini, Kementerian Pariwisata berharap bisa memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi utama di Asia Tenggara,” ujarnya.

Pelaku usaha pariwisata diharapkan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan negatif tentang situasi global. Ni Luh Puspa menekankan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta adalah kunci untuk memanfaatkan peluang ini. “Kami berharap semua pihak bisa bekerja sama, karena dari setiap situasi ada kesempatan untuk berkembang,” katanya.

Kementerian Pariwisata juga sedang mengembangkan program pelatihan dan pendidikan untuk meningkatkan kualitas layanan di industri pariwisata. Selain itu, mereka berencana menggandeng perusahaan transportasi dan pemegang tiket untuk menawarkan paket wisata yang lebih kompetitif. “Dengan cara ini, kita bisa memastikan wisatawan tidak hanya datang lebih banyak, tetapi juga menghabiskan lebih banyak waktu dan uang di Indonesia,” ujarnya.

Mengenai proyeksi devisa pariwisata, Ni Luh Puspa mengatakan bahwa hasil dari triwulan kedua 2026 bisa menjadi penentu utama dalam mengevaluasi keberhasilan strategi yang dijalankan. “Jika bisa menorehkan pertumbuhan yang stabil, maka sektor pariwisata akan menjadi sumber daya ekonomi penting bagi Indonesia,” terangnya.

Di antara faktor yang memengaruhi pelemahan rupiah, Ni Luh Puspa menyebutkan bahwa tekanan dari inflasi dan kebijakan moneter Bank Indonesia juga berperan. “Tapi kita bisa mengubahnya menjadi momentum positif jika memiliki strategi yang tepat,” ujarnya. Ia berharap bahwa industri pariwisata bisa menjadi pendorong utama untuk mengurangi dampak pelemahan mata uang lokal.

Menurut perhitungan angka terbaru, Indonesia mampu menarik 3,5 juta turis asing pada triwulan pertama 2026, naik 8 persen dari angka 3,2 juta di tahun

Leave a Comment