Bisnis

Key Strategy: Program MBG serap 658 tenaga kerja lokal di Kabupaten Nabire

okal di Kabupaten Nabire Key Strategy - Kabupaten Nabire, Papua Tengah, baru-baru ini mencatatkan peningkatan signifikan dalam sektor perekonomian berkat

Desk Bisnis
Published June 24, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Program MBG Serap 658 Tenaga Kerja Lokal di Kabupaten Nabire

Key Strategy – Kabupaten Nabire, Papua Tengah, baru-baru ini mencatatkan peningkatan signifikan dalam sektor perekonomian berkat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam beberapa bulan terakhir, program ini telah berhasil menciptakan peluang kerja bagi sekitar 658 warga lokal, yang berdampak positif terhadap dinamika perekonomian dan kehidupan sosial masyarakat setempat. Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Nabire, Marsel Asyerem, menjelaskan bahwa keberhasilan ini terwujud melalui pemanfaatan tenaga kerja yang tersedia di wilayah tersebut.

Empat Puluh Empat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Beroperasi

Menurut Marsel, ratusan pekerja yang terlibat dalam program MBG tersebar di 14 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bertugas memberikan layanan terkait distribusi makanan bergizi. “Kehadiran 658 tenaga kerja ini menunjukkan efektivitas MBG dalam merangkul komunitas lokal,” ujarnya dalam wawancara Rabu lalu. Koordinator tersebut menambahkan bahwa di antara jumlah tersebut, terdapat 180 orang yang berasal dari kelompok Orang Asli Papua (OAP), yang selama ini sering kali dianggap sebagai bagian dari kelompok rentan ekonomi.

“Sebanyak 658 tenaga kerja telah terserap di 14 SPPG yang beroperasi di Nabire, termasuk 180 tenaga kerja Orang Asli Papua (OAP),” kata Marsel Asyerem.

Program MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga mengubah pola hidup warga sekitar. Para pekerja yang terlibat dalam operasional SPPG menerima penghasilan berkisar antara Rp120 ribu hingga Rp200 ribu per hari, dengan sistem kerja lima hari dalam seminggu, yaitu Senin hingga Jumat. “Penghasilan ini menunjukkan peningkatan kualitas hidup bagi para pekerja, sekaligus mendukung pengembangan keahlian mereka,” jelas Marsel.

Pembangunan Ekonomi Melalui Distribusi Gaji

Kehadiran 658 tenaga kerja tersebut, kata Marsel, berdampak pada perputaran uang di Nabire. Berdasarkan perhitungan, program ini diperkirakan menciptakan arus dana sekitar Rp1,58 miliar hingga Rp2,63 miliar per bulan hanya dari pembayaran upah kepada para pekerja SPPG. Angka ini menjadi bukti bahwa MBG tidak sekadar memberikan bantuan makanan, tetapi juga menjadi penggerak perekonomian lokal.

Marsel menekankan bahwa program ini tidak hanya memenuhi asupan gizi untuk anak sekolah dan kelompok 3B (ibu hamil, ibu menyusui, serta balita), tetapi juga membantu pemerintah daerah dalam mengatasi masalah pengangguran. Sebagai contoh, salah satu SPPG di Wadio Gerbang Sadu berhasil menyerap enam pemuda yang sebelumnya sering melakukan kegiatan menipu pengguna jalan. “Dengan bekerja di SPPG, mereka kini memiliki penghasilan tetap dan tidak lagi mengganggu kehidupan warga sekitar,” tambahnya.

Kelompok Tenaga Kerja Terlindungi dengan Jamsostek

Selain memberikan penghasilan, program MBG juga menjaga kesejahteraan para pekerja melalui perlindungan jaminan sosial. Semua tenaga kerja yang terlibat dalam operasional SPPG telah terdaftar dan dijamin oleh Program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (Jamsostek). Langkah ini memastikan bahwa para pekerja mendapat manfaat jika mengalami kecelakaan kerja atau kehilangan penghasilan.

Menurut Marsel, BGN Nabire saat ini melayani 23.584 orang sebagai penerima manfaat MBG. Angka ini mencakup peserta didik dan kelompok 3B yang membutuhkan asupan gizi tambahan. “Adanya program ini mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bantuan eksternal,” katanya.

Upaya Pemerintah Pusat untuk Penguatan Ekonomi Daerah

Pemerintah pusat memberikan arahan agar MBG tidak hanya meningkatkan kesehatan masyarakat, tetapi juga berperan dalam penguatan perekonomian lokal. Langkah ini diharapkan mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta koperasi yang menjadi bagian dari rantai pasok bahan baku makanan. “MBG menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat, di mana dana yang dialokasikan dapat berputar di tengah masyarakat,” ujarnya.

“Program ini bukan hanya soal gizi, tetapi bagaimana uang negara yang masuk bisa berputar di masyarakat sehingga manfaat ekonominya dirasakan langsung oleh warga,” kata Marsel Asyerem.

Dengan memperhatikan keterlibatan masyarakat sejak awal, program MBG dinilai sebagai inisiatif yang membawa dampak jangka panjang. Keterlibatan tenaga kerja lokal tidak hanya memberikan manfaat langsung, tetapi juga meningkatkan kapasitas kehidupan ekonomi keluarga. Selain itu, keberhasilan ini membuka ruang bagi pengembangan keahlian dan keterampilan di sektor layanan gizi, yang sebelumnya belum banyak dikembangkan.

Pada sisi lain, pemanfaatan bahan baku lokal dalam operasional MBG berpotensi meningkatkan nilai tambah produk pertanian dan perikanan di Nabire. Kehadiran SPPG yang beroperasi di berbagai desa juga mendorong kerjasama antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam menjaga ketersediaan pasokan makanan bergizi. Marsel menilai bahwa keberlanjutan program ini tergantung pada keberhasilan penyerapan tenaga kerja dan pengembangan sumber daya manusia lokal.

Kehadiran MBG menjadi contoh nyata bagaimana kebijakan nasional dapat berdampak lokal. Dengan menciptakan lapangan kerja dan memberikan perlindungan sosial, program ini mampu mengurangi kesenjangan ekonomi serta meningkatkan kesejahteraan keluarga. Selain itu, pengalihan pekerjaan dari aktivitas sementara ke pekerjaan tetap menunjukkan pergeseran positif dalam struktur ekonomi masyarakat Nabire.

Dalam konteks pengembangan daerah, Marsel memandang bahwa MBG memiliki peran penting dalam membangun ekosistem ekonomi yang berkelanjutan. Penyerapan tenaga kerja lokal berdampak pada peningkatan pendapatan, yang kemudian dapat dialokasikan ke sektor-sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, dan investasi. “Kesuksesan MBG menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah dapat menjadi penggerak utama dalam pembangunan daerah,” katanya.

Dengan semangat kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat, MBG terus dikembangkan untuk mencapai tujuan yang lebih luas. Dukungan dari berbagai pihak memastikan program ini tidak hanya memberikan manfaat nutrisi, tetapi juga memberikan ruang bagi warga Nabire untuk berkembang secara ekonomi dan sosial. Marsel optimis bahwa MBG akan menjadi salah satu model keberhasilan dalam mengatasi tantangan pengangguran dan keterbatasan akses pangan di wilayah terpencil.

Leave a Comment