Bisnis

Special Plan: Tenaga Ahli Menteri ESDM: Peralihan ke EBT jadi keharusan strategis

Special Plan ESDM: Peralihan ke EBT Jadi Keharusan Strategis Special Plan - Jakarta - Dalam wawancara di Jakarta, Jumat, Satya Hangga Yudha Widya Putra

Desk Bisnis
Published June 26, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Special Plan ESDM: Peralihan ke EBT Jadi Keharusan Strategis

Special Plan – Jakarta – Dalam wawancara di Jakarta, Jumat, Satya Hangga Yudha Widya Putra, Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menegaskan bahwa transisi dari energi fosil ke energi baru dan terbarukan (EBT) adalah bagian dari strategi nasional yang harus dipercepat. Menurutnya, keputusan ini bukan hanya untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi, tetapi juga untuk menciptakan keberlanjutan sektor energi Indonesia dalam menghadapi tantangan global.

Realitas Energi Fosil dan Ketergantungan Impor

Hangga menyoroti bahwa Indonesia kini mengalami krisis signifikan dalam sektor minyak bumi. Data terkini menunjukkan konsumsi minyak bumi dalam negeri mencapai 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya sekitar 577 ribu barel per hari. “Artinya, kita harus mengimpor lebih dari 1 juta barel minyak setiap harinya,” katanya. Selain itu, ia mengingatkan bahwa sejak 2004, Indonesia telah menjadi negara net importer karena kondisi reservoir yang semakin tua dan kadar air yang tinggi.

“Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar pada sektor minyak bumi. Konsumsi minyak kita berada di angka 1,6 juta barel per hari, sementara produksi (lifting) dalam negeri hanya 577 ribu barel per hari. Artinya, kita harus mengimpor lebih dari 1 juta barel setiap harinya,” ujarnya.

Special Plan: Strategi untuk Membangun EBT

Peralihan ke EBT adalah bagian dari Special Plan yang dicanangkan pemerintah. Infrastruktur energi yang kini membatasi kapasitas kilang minyak nasional, yaitu 1,2 juta barel per hari, hanya mampu mengolah 900.000 barel, sehingga kekurangan energi harus diatasi melalui impor. Hal ini memperparah tekanan pada anggaran negara, terutama ketika ada gangguan geopolitik seperti konflik di Selat Hormuz.

Hangga menjelaskan bahwa ketergantungan pada impor energi telah menggerus dana pemerintah. Dengan Special Plan ini, pemerintah berupaya mengurangi risiko ketidakpastian melalui peningkatan penggunaan energi terbarukan. “Oleh karena itu, peralihan ke EBT bukan lagi sekadar alternatif, melainkan keharusan strategis dalam Special Plan,” lanjutnya.

Target dan Program Peralihan EBT

Menurut Hangga, Special Plan ESDM mengarah pada target net zero emission (NZE) pada 2060. Saat ini, porsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional hanya sekitar 18 persen, tetapi pemerintah sedang mendorong langkah-langkah agresif untuk mengejar target tersebut. Salah satu proyek utama yang dikoordinasikan oleh Kementerian ESDM dan PT PLN adalah pembangunan 100 gigawatt (GW) pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dalam tiga tahun ke depan.

Program ini menjadi komponen kunci dalam Special Plan. Selain PLTS, pemerintah juga fokus pada pengembangan sumber daya lain seperti geothermal, biomassa, listrik desa (lisdes), dan nuklir. Hangga menilai bahwa pemanfaatan teknologi lokal sangat penting untuk memastikan keberlanjutan dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Kemampuan Ekspor dan Cadangan Energi

Dalam wawancaranya, Hangga menegaskan bahwa sektor gas bumi memiliki kondisi yang berbeda. Indonesia mencatat surplus gas bumi, dengan 70 persen dialokasikan untuk kebutuhan domestik dan 30 persen diekspor dalam bentuk LNG atau gas pipa. Di sisi lain, negara ini memiliki cadangan batu bara yang cukup besar, bahkan menguasai lebih dari 40 persen pasokan global. Cadangan mineral strategis seperti nikel dan emas juga menjadi keuntungan yang bisa dimanfaatkan dalam Special Plan.

Hangga menekankan bahwa Special Plan tidak hanya bertujuan menekan emisi karbon, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi. “Dengan mendorong produksi energi lokal, kita bisa mengurangi ketergantungan pada impor dan meningkatkan perekonomian,” tambahnya. Ia juga menyoroti bahwa sektor energi harus menjadi prioritas nasional untuk menghadapi perubahan iklim dan persaingan global.

Peran PLN dalam Special Plan

Dalam pidatonya di Symposium Energy 2026, Hangga memaparkan pentingnya peran PLN sebagai penyedia listrik terbesar di Indonesia. “Listrik adalah tulang punggung perekonomian nasional, sehingga kemitraan antara PLN dan Kementerian ESDM sangat vital dalam Special Plan,” ujarnya. Ia berharap generasi muda dan mahasiswa teknik mampu mengambil alih peran kunci dalam memastikan kedaulatan energi ke depan.

Hangga mengajak para teknisi dan mahasiswa untuk berperan aktif dalam pengembangan wawasan serta penelitian terkait energi. “Special Plan ini memerlukan kolaborasi antar instansi, baik dari pemerintah pusat maupun daerah, untuk mencapai keberlanjutan energi dan mengubah struktur ekonomi Indonesia,” pungkasnya.

Leave a Comment