Kebijakan Baru: Profil BAIS, Mata dan Telinga Panglima TNI yang Bekerja Dalam Senyap

Profil BAIS, Mata dan Telinga Panglima TNI yang Bekerja Dalam Senyap

Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS menarik perhatian publik, setelah diketahui pelakunya adalah anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI. Penyebabnya, seorang perwira dari BAIS terlibat langsung dalam upaya menghancurkan warga sipil, yang berlawanan dengan tugas utama organisasi ini sebagai pengumpul dan penganalisis informasi strategis untuk kepentingan pertahanan negara.

BAIS berfungsi sebagai mata dan telinga Panglima TNI dalam mengawasi ancaman luar negeri serta isu internal yang bisa mengganggu kedaulatan militer. Mayoritas masyarakat mengkritik kehadiran anggota BAIS di tengah kejadian yang menyebabkan kericuhan, meski organisasi ini dikenal bekerja secara rahasia.

Perspektif BAIS dalam Pertahanan Nasional

Dalam sistem militer Indonesia, BAIS dianggap vital untuk mendukung keputusan strategis Panglima TNI. Lembaga ini langsung berada di bawah komando Mabes Tentara Nasional Indonesia, dengan kepemimpinan perwira tinggi bintang tiga atau letjen dari TNI Angkatan Darat. Anggota dari TNI AU dan AL juga memiliki peran spesifik sesuai struktur organisasi.

Hal yang menarik dari BAIS adalah kehadiran para perwiranya di kedutaan besar Indonesia di seluruh dunia. Mereka bertugas sebagai Atase Pertahanan, mengawasi perkembangan militer global dan menjadi penjaga stabilitas pertahanan di luar negeri.

“Keempat pelaku bertugas di Denma (Detasemen Markas) BAIS TNI,” ujar Komandan Pusat Polisi Militer TNI, Mayjen Yusri Nuryanto, dalam keterangan pers di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (18/3/2026).

BAIS berbeda dari Badan Intelijen Negara (BIN) dan Badan Intel dan Keamanan Polri. BIN fokus pada intelijen nasional secara makro, sementara BAIS mengarah pada ancaman kemiliteran, alutsista lawan, dan kebutuhan pertahanan kedaulatan. Selain itu, BAIS juga mengkoordinasikan intelijen strategis untuk kepentingan TNI.

Kasus Anggota BAIS dalam Aksi Demonstrasi

Salah satu anggota BAIS, Mayor SS, sempat menjadi sorotan saat ditangkap polisi di Pejompongan, Jakarta Pusat, pada 29 Agustus 2025. Identitasnya terungkap melalui kartu identitas yang dipublikasikan di media sosial. Mayor SS dikaitkan dengan kericuhan yang terjadi saat aksi demonstrasi besar di bulan Agustus 2025.

“Oleh karena itu, di mana pun sekiranya ada situasi mengancam, pasti ada rekan-rekan kami yang bertugas di situ. Mereka melakukan tugas negara,” kata Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI, Mayjen TNI (Mar) Freddy Ardianzah, ketika menjelaskan peran Mayor SS.

Mabes TNI membantah bahwa Mayor SS adalah provokator. Ia dianggap sebagai anggota yang menjalankan fungsi deteksi dini ancaman. Saat ini, kepala BAIS dijabat oleh Letjen Yudi Abdimantyo, yang bertanggung jawab langsung kepada Panglima TNI.

Dalam 2026, peran BAIS semakin penting menghadapi pergeseran pola konflik global yang lebih dominan menggunakan perang asimetris dan serangan siber. Meski seringkali dianggap tumpang tindih dengan BIN, BAIS tetap memiliki peran unik dalam sistem intelijen militer Indonesia.