Menghadapi Tantangan: Trump Klaim Kemenangan Atas Iran, Ancam Serang Infrastruktur Energi Jika Jalur Damai Gagal
Trump Klaim Kemenangan Atas Iran, Ancam Serang Infrastruktur Energi Jika Jalur Damai Gagal
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menyatakan keberhasilan dalam konflik bersenjata melawan Iran. Meski mengklaim perang telah selesai, dia masih menegaskan kemungkinan melanjutkan serangan terhadap sistem energi Iran jika negosiasi damai tidak menghasilkan kesepakatan. Pernyataan ini diucapkan di Oval Office, di mana Trump menekankan dominasi militer AS atas Iran yang, menurutnya, kini tidak lagi berdaya.
Perbedaan Pendapat dalam Tim Kabinet
Bukan hanya itu, Trump mengungkapkan adanya perbedaan pandangan di internal pemerintahannya mengenai pilihan gencatan senjata. Ia menyebut Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine justru lebih mendukung penyelesaian melalui jalur militer. “Pete tidak ingin masalah ini diselesaikan melalui kesepakatan,” kata Trump. Ia menambahkan bahwa kedua petinggi militer tersebut “dua orang yang cukup kecewa” dengan potensi kesepakatan.
“Anda tahu, saya tidak suka mengatakan ini, kita telah memenangkan ini, karena perang ini telah dimenangkan, satu-satunya yang suka membiarkan (jalur damai) terus berlanjut adalah berita bohong (fake news),” ujar Trump saat merespons liputan media mengenai konflik tersebut.
Trump juga memperlihatkan kekuatan militer AS sebagai bukti kemenangannya. Ia menyoroti lemahnya pertahanan Iran di bawah tekanan armada tempur AS. “Kita tidak sedang memenangkan perang di mana mereka tidak memiliki angkatan laut, angkatan udara, dan apa pun, sementara kita benar-benar memiliki pesawat yang terbang di atas Teheran dan bagian lain negara mereka,” lanjutnya.
Pada Senin pagi, Trump membatalkan ancaman yang sebelumnya berupa rencana “melenyapkan” pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz belum dibuka hingga Senin malam. Ia mengungkapkan bahwa AS dan Iran telah mencapai “percakapan produktif” dan memutuskan menunda serangan terhadap situs energi selama lima hari guna memberi ruang bagi negosiasi.
“Sebagai contoh, jika saya ingin meruntuhkan pembangkit listrik itu, pembangkit listrik yang sangat besar dan kuat itu, mereka tidak bisa berbuat apa-apa,” tegas Trump.
Retorika Trump terhadap akhir perang ini terus berubah dalam beberapa minggu terakhir. Awalnya, dia sempat mengancam akan “melenyapkan” fasilitas energi Iran, tetapi kini lebih bersifat mengoptimalkan hasil negosiasi. Meski demikian, Trump memuji sikap keras kedua petinggi militernya itu sebagai tanda keberhasilan penuh.
