Bisnis

Special Plan: Unhas bekali nelayan strategi adaptasi hadapi perubahan lingkungan

Unhas Latih Nelayan Adaptasi Perubahan Lingkungan untuk Perikanan Berkelanjutan Special Plan - Makassar, Senin - Universitas Hasanuddin (Unhas) melalui

Desk Bisnis
Published June 30, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Unhas Latih Nelayan Adaptasi Perubahan Lingkungan untuk Perikanan Berkelanjutan

Special Plan – Makassar, Senin – Universitas Hasanuddin (Unhas) melalui Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI) meluncurkan program pelatihan yang bertujuan meningkatkan kemampuan nelayan dalam menghadapi perubahan lingkungan. Kegiatan ini dirancang untuk membekali para pelaku perikanan dengan strategi manajemen yang memungkinkan mereka tetap produktif dan berkelanjutan di tengah tantangan dinamika lingkungan yang semakin kompleks.

Kebutuhan Adaptasi dalam Sektor Perikanan

Kepala Program Studi Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan (PSP) di FIKP Unhas, Muhammad Kurnia, menegaskan bahwa perubahan lingkungan kini bukan lagi ancaman yang jauh dari masa depan. “Perubahan lingkungan telah menjadi bagian dari kehidupan nelayan dan pembudidaya, sehingga adaptasi menjadi kunci untuk mempertahankan usaha mereka,” ujarnya. Menurut Kurnia, selain meningkatkan kapasitas teknis, pelatihan ini juga bertujuan membantu masyarakat pesisir mengantisipasi risiko-risiko yang muncul dari perubahan iklim dan kondisi lingkungan lainnya.

“Perubahan lingkungan bukan lagi isu yang akan dihadapi di masa depan, tetapi sudah menjadi realitas yang dirasakan langsung oleh nelayan dan pembudidaya. Karena itu, kemampuan beradaptasi menjadi faktor penting agar sektor perikanan tetap produktif dan berkelanjutan,” kata Kurnia.

Kurnia menjelaskan bahwa dampak perubahan lingkungan bervariasi tergantung pada lokasi dan kondisi ekologis masing-masing wilayah. “Setiap perubahan memiliki karakteristik dan risiko unik, sehingga pendekatan pengelolaan perikanan harus disesuaikan secara adaptif,” tambahnya. Ia menekankan bahwa metode seragam tidak lagi cukup untuk menghadapi dinamika lingkungan yang terus berubah. Sebaliknya, strategi yang diterapkan harus mengintegrasikan faktor ekologi, sosial, dan ekonomi.

Pelatihan ini menekankan pentingnya pendekatan berbasis ekosistem dalam pengelolaan perikanan. Menurut Kurnia, strategi tersebut membantu menjaga keseimbangan antara produktivitas sumber daya ikan dan keberlanjutannya. “Dengan pendekatan ini, nelayan tidak hanya bertahan dalam menghadapi tantangan, tetapi juga mampu menjaga kesejahteraan ekonomi dan ketahanan pangan masyarakat pesisir,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa pelatihan mencakup materi seperti penggunaan teknologi ramah lingkungan, pengelolaan sumber daya secara terpadu, serta manajemen risiko terkait perubahan iklim.

Pengaruh Perubahan Lingkungan pada Aktivitas Nelayan

Kondisi lingkungan yang berubah secara signifikan memengaruhi kegiatan nelayan sehari-hari. Perubahan suhu laut, kenaikan permukaan air, serta polusi dapat mengganggu habitat ikan dan mengurangi hasil tangkapan. Kurnia menyatakan bahwa dengan memahami dinamika ini, para nelayan dapat mengambil langkah-langkah yang lebih tepat untuk menyesuaikan operasional mereka. “Kemampuan adaptasi tidak hanya untuk mempertahankan produksi, tetapi juga untuk menjaga keberlanjutan sumber daya ikan secara jangka panjang,” katanya.

“Upaya adaptasi tidak hanya bertujuan mempertahankan produksi perikanan, tetapi juga menjaga keberlanjutan sumber daya, meningkatkan kesejahteraan nelayan, serta memperkuat ketahanan pangan masyarakat pesisir,” kata Kurnia.

Direktur Yayasan Mattirotasi Mitra Lestari, Muh. Ikhsan Idrus, mengungkapkan bahwa pelatihan ini memberikan wawasan yang relevan bagi masyarakat pesisir. “Masyarakat pesisir kini lebih sadar bahwa perubahan lingkungan memengaruhi ekonomi mereka, dan pelatihan ini menjadi sarana untuk memperkuat kemampuan mereka menghadapinya,” katanya. Idrus menambahkan bahwa program ini dirancang agar nelayan mampu menerapkan strategi lokal yang sesuai dengan kondisi di sekitar mereka.

“Kami berharap kegiatan edukatif ini mampu meningkatkan pemahaman nelayan dan pembudidaya mengenai berbagai strategi adaptasi yang dapat diterapkan sesuai kondisi lapangan. Dengan demikian, produktivitas usaha dapat dipertahankan sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir,” katanya.

Kurikulum pelatihan mencakup beberapa modul utama, seperti pengelolaan sumber daya ikan secara berkelanjutan, penggunaan teknologi penangkapan yang ramah lingkungan, serta manajemen risiko terkait perubahan iklim. Selain itu, peserta juga diberi pembelajaran tentang peran penting ekosistem laut dalam mendukung produktivitas perikanan. “Mengelola perikanan secara ekosistem berbasis adalah langkah yang strategis untuk menjaga kestabilan ekologis dan sosial,” kata Idrus.

Menurut Kurnia, pelatihan ini juga menjadi ajang untuk membangun kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat. “Kemitraan antara institusi pendidikan dan lembaga seperti BI sangat berperan dalam memberikan wawasan terkini mengenai perubahan lingkungan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa penggunaan teknologi dan data yang akurat dapat membantu nelayan mengoptimalkan kegiatan mereka tanpa merusak ekosistem laut.

Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi contoh terapan dalam pendidikan berbasis praktik nyata. Dengan adanya pelatihan, nelayan diharapkan mampu merancang strategi yang lebih proaktif dalam menghadapi perubahan lingkungan. “Selain meningkatkan pengetahuan, pelatihan ini juga memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan dan lembaga keuangan,” kata Idrus. Dalam jangka panjang, kegiatan ini diharapkan bisa menjadi fondasi untuk pengembangan sektor perikanan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Kurnia menyebutkan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari upaya menyeluruh dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. “Selain meningkatkan kapasitas teknis, pelatihan ini juga bertujuan mendorong perubahan sikap masyarakat pesisir agar lebih proaktif dalam mengelola sumber daya alam yang mereka gunakan,” katanya. Ia berharap hasil pelatihan ini bisa memberikan dampak nyata dalam meningkatkan keberlanjutan usaha perikanan di daerah pesisir.

Dengan pelatihan yang diberikan, nelayan diharapkan mampu mengadaptasi kegiatan mereka sesuai dengan perubahan lingkungan. Hal ini termasuk penggunaan metode penangkapan yang lebih efisien, pengelolaan sumber daya secara berimbang, serta peningkatan kesadaran terhadap isu lingkungan. Kurnia menyatakan bahwa pelatihan ini bisa menjadi jembatan antara teori dan praktik, membantu nelayan merancang solusi yang tepat sesuai dengan kondisi setempat.

Pelatihan ini juga mencakup diskusi mengenai peran penting pemerintah dalam mendukung keberlanjutan sektor perikanan. “Dukungan kebijakan dan regulasi yang tepat sangat diperlukan untuk memastikan keberhasilan adaptasi oleh nelayan,” kata Kurnia. Ia men

Leave a Comment