Rencana Khusus: Trump Mau Ambil Minyak Iran lewat Pulau Kharg, Apa Risikonya?

Trump Mau Ambil Minyak Iran lewat Pulau Kharg, Apa Risikonya?

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan rencana untuk mengambil kontrol atas Pulau Kharg, yang dimiliki Iran. Ia menyatakan preferensi untuk mengekstrak minyak dari negara tersebut, sambil memberikan petunjuk bahwa Washington mungkin akan melakukan tindakan militer di pulau itu. Dalam wawancara dengan Financial Times, Trump menegaskan keputusannya sambil membandingkan situasi Venezuela, di mana AS berusaha mempertahankan dominasi atas sektor energi tanpa batas waktu. Langkah ini dilakukan setelah penangkapan pemimpin Nicolas Maduro di awal tahun.

Strategi dan Tujuan Trump

Pulau Kharg terletak sekitar 126 km dari garis pantai Iran di bagian utara Teluk Persia, dan sekitar 3.483 km di barat laut Selat Hormuz. Lokasi strategisnya memungkinkan kapal tanker besar berlabuh, karena perairan di sana lebih dalam dibandingkan wilayah pesisir Iran. Sebagian besar, yaitu sekitar 90% dari total ekspor minyak Iran melewati pulau ini. Hal ini menjadi alasan penting bagi AS ingin menguasainya, agar bisa mengganggu alur perdagangan energi Iran dan mengurangi daya beli ekonominya.

Iran merupakan produsen minyak ketiga terbesar dalam OPEC. Sebelumnya, pasukan AS melakukan serangan terhadap Pulau Kharg di pertengahan Maret 2026. Trump menyatakan serangan itu berhasil menghancurkan target militer mereka, dengan rencana serangan berikutnya menargetkan infrastruktur minyak. Selain itu, pemerintah AS sedang mempertimbangkan kemungkinan mengirim pasukan darat ke pulau tersebut.

Analisis Ahli dan Risiko Operasi

“Perebutan dan pendudukan Pulau Kharg lebih mungkin memperluas dan memperpanjang perang daripada menghasilkan kemenangan yang menentukan,” kata pakar Ryan Brobst dan Cameron McMillan dari Foundation for Defence of Democracies, dilansir Reuters pada Sabtu (28/3/2026).

Mereka mengingatkan bahwa pasukan AS akan rentan terhadap serangan rudal dan drone, termasuk jenis drone kecil dengan kamera “first-person view” yang digunakan secara luas di Ukraina. Jika operasi sukses, Iran diperkirakan akan membagikan video serangan tersebut secara online, memanfaatkan kematian prajurit AS sebagai alat propaganda.

Mantan Komandan Komando Pusat AS, Joseph Votel, menambahkan bahwa meskipun jumlah pasukan di Kharg tidak terlalu besar, sekitar 800 hingga 1.000 orang, mereka tetap memerlukan dukungan logistik yang harus dilindungi. Votel mengakui bahwa pengejaran wilayah itu bisa menjadi langkah yang tidak biasa, tetapi tetap bisa dilakukan jika diperlukan.

Dilansir Times of India pada Senin (30/3/2026), Pentagon telah mengerahkan sekitar 10.000 personel terlatih untuk operasi darat, termasuk skenario merebut dan mempertahankan wilayah. Sejumlah 3.500 pasukan sudah tiba pada Jumat (27/3/2026), dengan 2.200 di antaranya merupakan anggota Marinir. Sebanyak 2.200 Marinir lainnya masih dalam perjalanan, bersama ribuan personel dari Divisi Lintas Udara ke-82.

Trump berharap dengan memegang kendali atas Kharg, Iran akan terpaksa membuka kembali Selat Hormuz dan memperkuat posisi tawar AS dalam negosiasi masa depan. Namun, Teheran bisa membalas dengan memasang ranjau di perairan, termasuk ranjau terapung dari pesisir, yang berpotensi memperburuk situasi kawasan yang sudah rawan akibat konflik.