Rencana Khusus: MBG: program gizi sekaligus mesin ekonomi

MBG: program gizi sekaligus mesin ekonomi

Jakarta – Perspektif terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) seringkali terjebak pada sisi yang kurang utama. Perhatian masyarakat lebih banyak tertuju pada isu-isu seperti makanan yang sudah tidak tahan, ketelatannya distribusi, hingga proses pengelolaan yang masih kurang terstruktur. Meski hal-hal ini penting, mereka bukan inti dari perdebatan. Yang lebih kritis justru sering diabaikan: apakah MBG hanya sekadar program penyaluran makanan, atau sebenarnya menjadi pendorong utama perekonomian?

Konteks NTT yang Membuka Peluang Ekonomi

Pertanyaan tersebut semakin relevan ketika dilihat dari perspektif Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebagai daerah kepulauan yang menghadapi tantangan kemiskinan, kesulitan dalam pengembangan infrastruktur, biaya logistik yang tinggi, serta sektor perekonomian yang dominan di bidang pertanian dan usaha kecil, NTT perlu memandang MBG sebagai peluang strategis. Jika hanya dianggap sebagai program sosial, maka kita hanya melihat piring, menu, dan anggaran. Namun, dengan pendekatan ekonomi, MBG bisa menjadi pasar raksasa yang dibiayai negara, berlangsung sehari-hari, dan memiliki potensi jangka panjang.

Pada titik ini, tantangan utama muncul. Bukan dari program itu sendiri, tetapi dari cara kita memaknainya. Selama ini, fokus terlalu berada pada perhitungan biaya per porsi, sementara kita belum cukup memperhatikan siapa yang benar-benar memperoleh manfaat dari aliran dana tersebut.

“Selama ini, kita terlalu sibuk memperdebatkan biaya per porsi, tetapi belum cukup serius menghitung siapa yang menikmati perputaran uang dari program ini.”

Program MBG sebenarnya menciptakan permintaan besar terhadap beras, sayuran, telur, ayam, ikan, buah, bumbu, serta jasa pengemasan dan distribusi. Ini berdampak pada peningkatan kegiatan ekonomi seperti pertanian, usaha kecil, dan sektor logistik. Dengan demikian, negara sedang membentuk pasar institusional yang kuat, yang bisa menjadi alat untuk memperkuat rantai nilai lokal.

Bagi NTT, hal ini memiliki makna khusus. Masalah mendasar dalam perekonomian daerah adalah ketidakpastian permintaan terhadap hasil produksi masyarakat. Petani menanam, tetapi tidak tahu di mana menjual. Peternak menghasilkan, tetapi tidak memiliki jaminan pembelian. Koperasi ada, tetapi sering kali tidak menjalankan fungsi ekonomi secara efektif. MBG bisa menjadi jawaban untuk semua tantangan tersebut. Program ini menawarkan kepastian permintaan yang luar biasa, yang seharusnya tidak hanya dilihat sebagai beban anggaran, tetapi sebagai peluang ekonomi yang besar.