Bisnis

Key Strategy: Pemprov hidupkan pasar-pasar tradisional di Papua Pegunungan

Pemprov Hidupkan Pasar-Pasar Tradisional di Papua Pegunungan Key Strategy - Wamena, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Pegunungan (Papeg) tengah berupaya

Desk Bisnis
Published July 1, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Pemprov Hidupkan Pasar-Pasar Tradisional di Papua Pegunungan

Key Strategy – Wamena, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Pegunungan (Papeg) tengah berupaya mengaktifkan kembali pasar tradisional di delapan kabupaten dalam rangka mempercepat distribusi bahan pokok dan meningkatkan daya beli masyarakat. Upaya ini dilakukan melalui Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan, yang berperan sebagai pelaksana strategi revitalisasi. Darmanto, kepala Biro tersebut, menjelaskan bahwa pemerintah daerah harus mampu membangkitkan daya tarik pasar tradisional agar masyarakat lebih aktif berpartisipasi dalam aktivitas ekonomi lokal.

Strategi Revitalisasi untuk Penguatan Ekonomi

Darmanto menyampaikan bahwa revitalisasi pasar tradisional merupakan bagian dari strategi menguatkan ekonomi rakyat dan menyelaraskan kebijakan antara kabupaten serta provinsi. “Revitalisasi pasar menjadi kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” ujarnya. Menurutnya, pasar tradisional tidak hanya menjadi tempat transaksi tetapi juga fondasi bagi pertumbuhan ekonomi daerah, sekaligus memperkuat sistem distribusi bahan pangan.

“Menghidupkan atau merevitalisasi pasar merupakan strategi penguatan ekonomi kerakyatan dan sinkronisasi kebijakan daerah kabupaten dan provinsi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pasar tradisional,” katanya.

Sebagai bagian dari rencana ini, Darmanto menekankan bahwa ada empat elemen utama yang menjadi fokus utama dalam revitalisasi pasar. Empat komponen ini mencakup pilar ekonomi kerakyatan, tantangan pasar yang tidak aktif, sinkronisasi kebijakan, dan visi ekonomi inklusi. “Revitalisasi pasar tradisional harus menyasar aspek-aspek kritis seperti infrastruktur, manajemen, dan daya tarik pasar itu sendiri,” tambahnya.

Pilar Ekonomi Kerakyatan dan Kondisi Pasar

Darmanto menjelaskan bahwa pilar ekonomi kerakyatan menjadi fondasi utama dari upaya revitalisasi. Pasar tradisional, menurutnya, berperan penting dalam meningkatkan daya beli warga dan memastikan akses bahan pangan secara lebih merata. “Pasar tradisional adalah mitra utama dalam pengembangan ekonomi lokal,” ujarnya. Ia menambahkan, pemerintah kabupaten dan provinsi perlu bekerja sama untuk memastikan pasar tetap menjadi tempat yang nyaman dan menarik bagi para penjual maupun pembeli.

“Berbicara mengenai pilar ekonomi kerakyatan, dimana pasar sebagai fondasi utama ekonomi lokal yang memperkuat daya beli masyarakat dan jalur distribusi bahan pokok,” ujarnya.

Menurut Darmanto, salah satu tantangan utama dalam meningkatkan produktivitas pasar tradisional adalah kondisi infrastruktur yang kurang memadai. “Pemerintah daerah harus menganalisis hambatan-hambatan infrastruktur dan manajemen yang mengganggu kemampuan pasar dalam menjalankan fungsinya secara optimal,” katanya. Ia menjelaskan bahwa revitalisasi pasar tidak bisa dilakukan secara terpisah, melainkan memerlukan keterlibatan aktif pihak teknis, seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan, dalam mengidentifikasi kebutuhan daerah.

Sinkronisasi Kebijakan untuk Efisiensi Program

Darmanto menegaskan bahwa sinkronisasi kebijakan antara kabupaten dan provinsi sangat penting untuk memastikan program revitalisasi pasar berjalan efisien. “Koordinasi strategis antara institusi pembangunan dan OPD teknis adalah kunci keberhasilan,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa melalui sinergi ini, pemerintah daerah bisa mengurangi beban operasional dan memaksimalkan manfaat dari revitalisasi.

“Peningkatan pasar tradisional itu jangan dilakukan oleh pemerintah kabupaten sendiri, tetapi koordinasi dengan pemerintah provinsi supaya saling membantu sehingga beban daerah menjadi ringan,” ujarnya.

Dalam konteks ini, Darmanto menyoroti peran OPD teknis sebagai penggerak utama. “Pemerintah delapan kabupaten melalui organisasi perangkat daerah atau OPD teknis harus turun ke lapangan, melihat apa saja yang harus dibenahi di pasar tradisional supaya masyarakat sendiri dapat bersemangat berjualan, maupun pembeli yang datang karena kondisi pasarnya baik,” katanya. Ia berharap dengan langkah ini, pasar tradisional bisa menjadi ruang yang lebih dinamis dan berdaya saing.

Visi Ekonomi Inklusi dan Manfaat bagi Seluruh Masyarakat

Darmanto menyampaikan bahwa visi ekonomi inklusi menjadi bagian tak terpisahkan dari revitalisasi pasar. “Penerapan visi ini bertujuan menciptakan ekosistem pasar modern yang nyaman, berdaya saing, dan memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya. Menurutnya, pasar tradisional yang ditingkatkan tidak hanya melayani kalangan menengah tetapi juga meningkatkan peluang bagi usaha kecil dan masyarakat pedesaan.

Menurut Darmanto, revitalisasi pasar tradisional juga bertujuan meningkatkan kualitas layanan kepada konsumen. “Dengan pasar yang lebih baik, masyarakat tidak hanya dapat memperoleh bahan pangan dengan harga terjangkau, tetapi juga memperkuat ekonomi kerakyatan,” tambahnya. Ia berharap program ini bisa menjadi model bagi daerah lain yang memiliki kondisi serupa.

Darmanto menekankan bahwa perubahan harus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. “Pasar tradisional tidak bisa dihidupkan hanya dalam waktu singkat, tetapi memerlukan komitmen yang konsisten dari semua pihak,” ujarnya. Ia berharap kebijakan ini bisa mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan pasar tradisional.

Menurut Darmanto, revitalisasi pasar tradisional juga berdampak positif terhadap keberlanjutan ekonomi daerah. “Pasar yang aktif memberikan ruang bagi usaha-usaha kecil dan menengah, serta memperkuat sistem distribusi bahan pokok secara lokal,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa inisiatif ini bisa memperkuat kerja sama antara pemerintah daerah dan masyarakat untuk membangun ekonomi yang lebih inklusif.

Leave a Comment