Strategi Penting: Rupiah melemah seiring eskalasi konflik AS dengan Iran menguat

Rupiah melemah seiring eskalasi konflik AS dengan Iran menguat

Jakarta – Pada hari ini, nilai tukar rupiah mengalami penurunan ke level Rp17.105 per dolar AS, turun 70 poin atau 0,41 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di angka Rp16.980 per dolar AS. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mencatat penurunan hingga Rp17.092 per dolar AS dari Rp17.037 per dolar AS sebelumnya.

Menurut Ibrahim Assuaibi, ahli mata uang dan komoditas, pelemahan rupiah dipicu oleh kemungkinan peningkatan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah. “Para investor kini fokus pada risiko yang mungkin muncul jika konflik berlanjut, terutama menjelang batas waktu yang ditetapkan Trump untuk Iran membuka kembali Selat Hormuz,” jelasnya.

“Gangguan lalu lintas kapal tanker selama beberapa minggu terakhir memperkuat antisipasi kenaikan harga minyak. Hal ini juga meningkatkan premi risiko di berbagai pasar global,” ujar Ibrahim dalam pernyataan tertulis di Jakarta.

Iran menolak tawaran AS yang menargetkan gencatan senjata 45 hari serta pembukaan Selat Hormuz secara bertahap. Tawaran ini diberikan dalam rangka negosiasi lebih luas tentang penghapusan sanksi dan rekonstruksi. Sebaliknya, Iran meminta penghentian perang permanen, jaminan serangan masa depan, pencabutan sanksi, serta kompensasi atas kerusakan yang terjadi.

Konfrontasi antara AS dan Iran dianggap memengaruhi aliran energi global, mendorong harga minyak naik, dan memicu kekhawatiran terkait inflasi. Hal ini juga menyulitkan kebijakan moneter pemerintah. Investor berharap data inflasi AS yang akan dirilis Jumat mendatang memberikan petunjuk mengenai langkah suku bunga Federal.

Trump menegaskan bahwa tenggat waktu yang ditetapkan hari Selasa adalah tegas. Ia mengingatkan bahwa ketidakpatuhan bisa memicu serangan terhadap infrastruktur Iran, seperti pembangkit listrik dan jembatan. Pernyataan ini menunjukkan peningkatan risiko eskalasi yang lebih luas.