Strategi Penting: Ekonom nilai proyeksi Bank Dunia jadi pengingat perkuat mesin ekonomi
Ekonom Nilai Proyeksi Bank Dunia Jadi Pengingat Perkuat Mesin Ekonomi
Jakarta – Rahma Gafmi, seorang akademisi Universitas Airlangga, menilai penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia dari 4,8 persen ke 4,7 persen menjadi indikasi penting untuk memicu penguatan struktur ekonomi. Ia menilai perubahan ini sebagai sinyal yang menunjukkan tantangan yang harus diwaspadai, meski tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi ekonomi yang kritis.
“Pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen dianggap sebagai tanda peringatan yang signifikan. Prediksi ini mencerminkan beberapa realitas ekonomi yang sedang dihadapi, terutama terkait eskalasi situasi geopolitik antara Iran dan Israel serta dampaknya terhadap pasar global,” ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Minggu.
Rahma menyoroti perlambatan konsumsi masyarakat sebagai salah satu penyebab utama penurunan proyeksi. Karena konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh PDB, penurunan daya beli kelas menengah menjadi faktor krusial. Ini terlihat dari stagnasi penjualan ritel dan kendaraan, serta kenaikan harga bahan pokok yang tidak diimbangi kenaikan upah riil.
Di sisi lain, kebijakan moneter yang ketat berdampak pada biaya pinjaman. Suku bunga tinggi untuk menjaga nilai tukar mata uang membuat biaya kredit usaha dan perumahan meningkat, sehingga membuat pelaku bisnis lebih hati-hati dalam berinvestasi.
Faktor Eksternal Memengaruhi Kinerja Ekspor
Rahma juga menyebutkan bahwa perlambatan ekonomi global serta melemahnya permintaan dari mitra dagang utama seperti Tiongkok menjadi tantangan eksternal. Hal ini berdampak pada volume ekspor komoditas Indonesia, yang sebelumnya mengalami penurunan tajam.
Perlu Stimulus Ekonomi Baru
“Proyeksi 4,7 persen lebih realistis dibandingkan target 5 persen yang dianggap terlalu optimis. Meski inflasi tampak terkendali, banyak sektor usaha, khususnya manufaktur dan tekstil, masih menghadapi kesulitan,” terang Rahma.
Ia menekankan perlunya stimulus baru untuk memulihkan laju pertumbuhan ekonomi. Hal ini termasuk upaya meningkatkan daya beli masyarakat bawah dan menengah, yang dianggap sebagai kunci peningkatan produktivitas.
Penguatan Sektor Industri Pengolahan
Rahma menyoroti sektor industri pengolahan sebagai penggerak utama PDB. Ia menekankan pentingnya hilirisasi komoditas seperti nikel, tembaga, dan bauksit menjadi produk bernilai tambah, serta pengembangan rantai pasok baterai dan kendaraan listrik.
Potensi Pertanian sebagai Mesin Pertumbuhan Baru
Sektor pertanian dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi motor pertumbuhan ekonomi. Dengan meningkatkan produktivitas, menyederhanakan distribusi pupuk, dan memperkuat program ketahanan pangan, sektor ini bisa memperbaiki kinerjanya. Rahma menyebutkan bahwa pertanian diprediksi tumbuh di atas 5 persen pada 2025, mengubah tren sebelumnya yang lemah.
Peran Konsumsi Rumah Tangga
Konsumsi rumah tangga, yang menyumbang sekitar 54 persen terhadap PDB, dianggap sebagai komponen kritis. Rahma menyarankan stabilitas harga pangan, percepatan belanja pemerintah, dan penciptaan lapangan kerja melalui investasi sebagai langkah strategis.
Investasi Asing dan Infrastruktur
Penambahan investasi langsung dari luar negeri (FDI) diharapkan mampu memberikan dampak ganda, seperti meningkatkan pendapatan masyarakat dan menciptakan lapangan kerja. “Membangun proyek infrastruktur seperti irigasi, waduk, dan jembatan rusak sejak kuartal pertama bisa mempercepat aliran dana ke masyarakat, sehingga daya beli meningkat,” tambahnya.
Pertumbuhan Ekonomi Digital dan Energi Hijau
Rahma menilai sektor energi hijau serta ekonomi digital sebagai peluang pertumbuhan yang signifikan. Program seperti pengembangan biodiesel dan investasi teknologi dianggap sebagai langkah penting untuk memperkuat daya saing ekonomi di masa depan.
