Latest Update: Fadli Zon: Kekayaan Indonesia bisa jadi potensi wisata berbasis budaya

Fadli Zon: Kekayaan Indonesia bisa jadi potensi wisata berbasis budaya

Peran Budaya dalam Peningkatan Ekonomi Pariwisata

Latest Update – Dalam Musyawah Nasional (Munas) pertama yang diadakan di Jakarta, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan bahwa kekayaan budaya Indonesia memiliki nilai strategis untuk memacu sektor pariwisata berbasis budaya. Menurutnya, Indonesia menyimpan berbagai aset budaya yang bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal maupun internasional. Dari sisi ekonomi, Fadli menyatakan bahwa pengembangan kebudayaan tidak hanya tentang penyimpanan nilai sejarah, tetapi juga tentang penggunaannya sebagai penggerak ekonomi melalui ekosistem kreatif dan budaya.

“Kekayaan budaya Indonesia yang luar biasa bisa menjadi fondasi untuk perekonomian pariwisata yang berkembang. Contohnya, Istana Versailles di Prancis mampu menghasilkan sekitar 30 miliar rupiah per hari dari pendapatan tiket dan merchandise, membuktikan bahwa budaya adalah bagian penting dari pembangunan ekonomi,” ujar Fadli Zon.

Fadli Zon menjelaskan bahwa potensi ini bisa dijelajahi melalui berbagai aset yang ada, seperti lukisan purba tertua di dunia yang berusia sekitar 67.800 tahun di Pulau Muna. Selain itu, dia juga menyebutkan keberagaman cagar budaya dan warisan hidup (living heritage) yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Jumlah warisan budaya takbenda yang telah tercatat nasional mencapai 2.723, dengan 16 di antaranya diakui oleh UNESCO sebagai aset global. Angka ini menunjukkan betapa luasnya warisan budaya yang dimiliki negara ini.

Kolaborasi Lintas Sektor untuk Pengembangan Budaya

Fadli Zon menegaskan bahwa pengembangan ekonomi budaya tidak bisa dilakukan sendirian oleh pemerintah. Ia menekankan perlunya sinergi antar berbagai pihak, seperti sektor swasta, akademisi, komunitas, media, dan masyarakat sipil. “Kolaborasi ini menciptakan ekosistem kebudayaan yang sehat, di mana setiap pihak berperan aktif dalam menjaga dan memajukan nilai-nilai budaya,” tambahnya.

Ia juga mengajak para pengusaha di bidang pariwisata untuk terlibat dalam revitalisasi situs budaya. Menurut Fadli, transformasi situs budaya tidak hanya tentang menjadikannya tempat wisata tetapi juga menjadi warisan hidup yang dinamis dan relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. “Kita perlu memastikan bahwa budaya bukan hanya simpanan sejarah, tetapi juga aktif berkontribusi pada kehidupan sehari-hari dan perekonomian,” jelas Menbud.

Dalam upaya mengaktifkan warisan budaya, Fadli Zon menyebutkan bahwa pemerintah berperan sebagai penghubung dan pemberi fasilitas. Ia menyoroti pentingnya kemitraan publik-swasta (public-private partnership) dalam memperkuat ekonomi budaya. “Banyak situs budaya kita berkat dukungan dari korporasi atau individu-individu yang peduli pada kekayaan lokal,” tambahnya.

Apresiasi untuk Tokoh Kebudayaan yang Membawa Perubahan

Dalam acara yang sama, Perkumpulan Peduli Wisata Budaya Indonesia (PEWIBI) memberikan penghargaan Tokoh Kebudayaan 2026 kepada Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Penghargaan ini disampaikan sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi Menbud dalam mendorong pemberdayaan budaya sebagai sumber daya ekonomi. “Fadli Zon memiliki peran penting dalam membawa perubahan di bidang kebudayaan, baik melalui kebijakan maupun kolaborasi yang diinisiasi,” ujar perwakilan PEWIBI dalam sambutan.

Pemimpin PEWIBI menyoroti bahwa penghargaan ini tidak hanya tentang prestasi individu, tetapi juga representasi dari komitmen nasional dalam menjadikan budaya sebagai pilar pariwisata. “Kita percaya bahwa Fadli Zon mampu membangkitkan minat masyarakat terhadap nilai-nilai budaya yang bisa diakses secara langsung melalui pengalaman wisata,” tambahnya.

Fadli Zon menjelaskan bahwa transformasi budaya menjadi wisata berbasis ekonomi memerlukan pendekatan inovatif. Ia mencontohkan bahwa institusi budaya seperti Istana Versailles, yang dikelola dengan strategi modern, mampu memberikan dampak besar pada perekonomian lokal. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk melakukan hal serupa, dengan menggali aset budaya yang unik dan membangun pengelolaan yang berkelanjutan.

Dalam pidatonya, Fadli Zon menekankan bahwa keberhasilan pengembangan budaya tidak bisa terlepas dari partisipasi aktif masyarakat. “Budaya adalah milik semua orang, dan setiap individu bisa berkontribusi dalam menjaga dan mengembangkannya,” katanya. Ia berharap adanya kebijakan yang mendorong pengakuan terhadap kekayaan budaya sebagai bagian dari kehidupan ekonomi nasional.

Keterlibatan akademisi dan media juga dianggap penting dalam menyebarluaskan nilai-nilai budaya. Fadli Zon menyebutkan bahwa inisiatif seperti Munas dan seminar PEWIBI bertujuan membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya budaya dalam pembangunan. “Ini adalah langkah awal untuk menciptakan platform kolaborasi yang terpadu, di mana setiap pihak bisa berpartisipasi dalam mengembangkan pariwisata berbasis budaya,” tegasnya.

Dengan memperkuat ekosistem kebudayaan yang melibatkan berbagai sektor, Fadli Zon yakin Indonesia bisa mengubah aset budaya menjadi daya tarik ekonomi yang berkelanjutan. Ia menambahkan bahwa pemerintah harus terus berupaya dalam membuka peluang kerja sama yang saling menguntungkan, termasuk dalam pemanfaatan teknologi dan inovasi untuk menjangkau pasar global.