Solving Problems: Laba bersih BRI tumbuh 13,74 persen jadi Rp15,5 triliun di kuartal I
Laba Bersih BRI Naik 13,74 Persen di Kuartal I 2026
Solving Problems – Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), atau BRI, mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar Rp15,5 triliun pada periode tiga bulan pertama tahun 2026. Angka ini mengalami kenaikan 13,74 persen dibandingkan kuartal I 2025. Capaian tersebut diungkapkan oleh Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, dalam Taklimat Media Kinerja Keuangan yang diselenggarakan secara daring di Jakarta, Kamis. Ia menjelaskan bahwa kinerja perusahaan didukung oleh beberapa faktor, termasuk pertumbuhan kredit yang selektif, pengelolaan biaya yang lebih efisien, serta pemeliharaan kualitas aset yang stabil.
“Dengan fondasi bisnis yang tetap kuat di tengah perubahan dinamika industri, BRI mampu mencatatkan laba bersih Rp15,5 triliun pada kuartal I 2026, tumbuh 13,7 persen secara tahunan,” kata Hery. Ia menambahkan bahwa pertumbuhan kredit, efisiensi pengelolaan biaya, dan keberlanjutan kualitas aset menjadi pendorong utama kinerja yang positif.
Peningkatan laba bersih ini juga dipengaruhi oleh kenaikan pendapatan bunga, yang mencapai Rp52,83 triliun pada periode tersebut, naik 5,94 persen dari tahun sebelumnya. Sebaliknya, beban bunga mengalami penurunan signifikan sebesar 9,31 persen menjadi Rp12,68 triliun, sehingga mendorong peningkatan margin bunga bersih. Perubahan ini mencerminkan strategi bank dalam mengoptimalkan pendapatan sambil mengendalikan biaya operasional.
Pertumbuhan Kredit dan Pembiayaan
Dalam bidang intermediasi, BRI mencatatkan penyaluran kredit dan pembiayaan sekitar Rp1.497 triliun pada Maret 2026. Angka ini naik 13 persen dibandingkan kuartal I 2025. Pertumbuhan kredit ini terutama berasal dari program kredit usaha rakyat (KUR) yang mencapai Rp47,09 triliun, dengan jumlah nasabah mencapai 947 ribu orang. Selain itu, pembiayaan perumahan melalui skema FLPP mengalami peningkatan menjadi Rp17,13 triliun, melayani sekitar 125 ribu debitur.
Direktur Utama BRI mengatakan bahwa kebijakan penyaluran kredit yang selektif memberikan dampak langsung pada masyarakat, terutama pelaku usaha kecil dan sektor perumahan. Peningkatan akses pembiayaan ini membuka peluang ekspansi usaha serta keberlanjutan kepemilikan rumah bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Namun, peningkatan volume kredit juga menimbulkan tekanan terhadap kualitas kredit, yang terlihat dari kenaikan rasio kredit bermasalah (NPL) bruto menjadi 3,31 persen, dari sebelumnya sekitar 3 persen.
Rasio NPL net juga meningkat menjadi 1,01 persen, mencerminkan peningkatan risiko yang terkait dengan agresivitas penyaluran kredit. Meski demikian, Hery menekankan bahwa pihat tetap menjaga kualitas aset secara keseluruhan, meskipun terdapat tekanan pada sektor-sektor tertentu. Kenaikan NPL bruto dan net menjadi indikator bahwa pertumbuhan kredit belum sepenuhnya diimbangi oleh peningkatan penagihan.
Kinerja Pendanaan dan Likuiditas
Dari sisi pendanaan, BRI berhasil menghimpun dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp1.555 triliun pada kuartal I 2026, tumbuh 9,4 persen dari tahun sebelumnya. Komposisi dana murah atau CASA (current account and savings account) mencapai 68,1 persen, menunjukkan dominasi dana yang berasal dari tabungan dan giro. Angka ini mencerminkan keberhasilan BRI dalam menarik dana dari masyarakat dengan tingkat efisiensi yang lebih baik.
Di sisi likuiditas, perusahaan tetap mempertahankan stabilitas, meskipun rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) naik menjadi 87,66 persen. Kenaikan LDR menunjukkan peningkatan fungsi intermediasi BRI, meskipun ruang likuiditas menjadi lebih terbatas. Pihak bank mengklaim bahwa peningkatan LDR tidak mengganggu kemampuan operasional, karena dana yang diperoleh cukup memadai untuk menutupi kebutuhan likuiditas.
Total Aset dan Perkembangan Kinerja
Per kuartal I 2026, total aset BRI secara konsolidasi mencapai sekitar Rp2.249 triliun, tumbuh lebih dari 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan aset ini mencerminkan ekspansi operasional dan perluasan jaringan layanan perbankan. Hery menjelaskan bahwa perusahaan terus memperkuat struktur modal dan memastikan keberlanjutan operasional jangka panjang.
Menurut Hery, kenaikan laba bersih serta pertumbuhan aset menunjukkan kinerja yang seimbang antara efisiensi operasional dan pertumbuhan bisnis. Dengan mampu mengelola dana secara efektif dan memperkuat pembiayaan untuk sektor-sektor prioritas, BRI berharap mampu mempertahankan posisi dominannya dalam industri perbankan. Ia menegaskan bahwa perusahaan tetap fokus pada peningkatan kualitas aset, meskipun mengakui adanya tantangan dalam menjaga risiko kredit.
Ekspansi kredit juga berdampak pada keberlanjutan pertumbuhan ekonomi, khususnya di sektor usaha kecil dan perumahan. Hery menilai bahwa program KUR serta pembiayaan perumahan menjadi pendorong penting untuk mendorong aktivitas ekonomi masyarakat. Namun, ia mengingatkan bahwa peningkatan volume kredit harus diiringi dengan pengawasan yang ketat terhadap risiko kredit, agar tidak merusak kesehatan keuangan bank.
Kinerja BRI di kuartal I 2026 menjadi bukti bahwa perusahaan mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan ekonomi. Dengan fondasi yang kuat dan strategi yang tepat, bank ini tetap mampu mencapai target keuangan yang positif. Meski ada tekanan pada kualitas aset, Hery percaya bahwa BRI akan terus memperbaiki pengelolaan risiko untuk memastikan stabilitas jangka panjang.
Perubahan ini juga mencerminkan kebijakan yang
