Topics Covered: Mendukbangga kunjungi masyarakat adat Baduy untuk edukasi tentang KB
Mendukbangga kunjungi masyarakat adat Baduy untuk edukasi tentang KB
Topics Covered – Jakarta – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) atau Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Wihaji melakukan kunjungan ke komunitas adat Baduy di Banten. Tujuan utamanya adalah memberikan edukasi mengenai Program Keluarga Berencana (KB) kepada masyarakat setempat. Inisiatif ini bertujuan untuk mendukung peningkatan kualitas generasi bangsa dalam rangka mewujudkan Indonesia Emas 2045. Pemerintah terus memperluas cakupan KB, termasuk kepada kelompok-kelompok adat yang memiliki cara hidup dan nilai-nilai unik.
Program KB dan Peningkatan Kualitas Generasi
Pendekatan budaya dalam kegiatan ini menjadi strategi kunci, menurut Wihaji, untuk memahami lebih dalam kebutuhan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa kegiatan “Sapa Budaya” dilakukan agar pemahaman mengenai KB bisa disampaikan secara lebih efektif sesuai konteks kehidupan Baduy. “Kita harus lebih mengetahui kebutuhan mereka melalui pendekatan adat,” kata Wihaji, pada hari Kamis. Ia menekankan bahwa perluasan program KB tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga harus melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
Kemitraan dengan Ikatan Bidan Indonesia (IBI)
Kemendukbangga/BKKBN bekerja sama dengan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) dalam menyediakan layanan kontrasepsi di berbagai wilayah. Program ini diluncurkan secara serentak nasional, dengan acara pembukaan di Kabupaten Lebak, Banten. Kegiatan ini menyambut perayaan ulang tahun ke-75 IBI, yang menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan profesi kesehatan reproduksi. Wihaji menyampaikan bahwa kemitraan tersebut memastikan pelayanan KB mencapai semua lapisan masyarakat, termasuk yang berada di wilayah terpencil.
Dialog Langsung dengan Masyarakat Adat Baduy
Sebagai bagian dari komitmen nasional, Wihaji melakukan dialog langsung dengan masyarakat Baduy Luar dan Baduy Dalam. Ia ingin mendengarkan langsung masukan dari mereka terkait kebutuhan dan kesiapan masyarakat dalam menerima informasi KB. “Saya akan berdialog langsung dengan mereka agar bisa mengidentifikasi prioritas dan tantangan yang dihadapi,” ujarnya. Kegiatan ini juga memberikan kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana masyarakat adat menjalani kehidupan mereka yang berbeda dari masyarakat umum.
“Pendekatan secara adat dalam kegiatan ‘Sapa Budaya’ untuk mengedukasi masyarakat tentang KB ini terus kami lakukan agar kita lebih mengetahui kebutuhan masyarakat seperti apa,” kata Wihaji.
Upaya Meningkatkan Kesetaraan Gender
Dalam upaya mewujudkan kesetaraan gender, Kemendukbangga/BKKBN secara rutin menyelenggarakan program KB pria, termasuk vasektomi. Program ini dijalankan setiap tahun sebagai bagian dari pengurangan angka kelahiran di kalangan laki-laki. “Pemerintah tetap menjalankan program tersebut setiap tahun,” tambah Wihaji. “Syaratnya cukup ketat, yakni usia minimal 35 tahun, memiliki minimal dua anak, dan dalam kondisi sehat. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyalahgunaan,” ujarnya. Langkah ini diharapkan mendorong partisipasi aktif laki-laki dalam pengelolaan keluarga.
“Pemerintah tetap menjalankan program tersebut setiap tahun. Syaratnya cukup ketat, yakni usia minimal 35 tahun, memiliki minimal dua anak, dan dalam kondisi sehat. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyalahgunaan,” tuturnya.
Pendekatan Lokal dalam Edukasi KB
Pendekatan lokal, khususnya melalui Bahasa Sunda, dinilai penting dalam memberikan edukasi KB. Wihaji menyempatkan diri untuk mengikuti sesi edukasi yang dilakukan oleh Tim Pendamping Keluarga serta bidan-bidan di Desa Kanekes, Lebak, Banten. Ia mengakui bahwa pemahaman bidan terhadap kondisi medan dan budaya setempat menjadi faktor utama dalam keberhasilan program. “Pendekatan oleh masyarakat lokal, utamanya para bidan yang lebih memahami medan, menjadi penting untuk perluasan program KB,” imbuhnya. Kegiatan ini menunjukkan upaya pemerintah untuk menyesuaikan metode komunikasi dengan kebiasaan dan tradisi masyarakat adat.
Strategi Pemenuhan Hak Reproduksi
Kunjungan Wihaji ke Baduy bukan hanya simbolis, tetapi juga bagian dari strategi pemenuhan hak reproduksi masyarakat adat. Pemerintah berkomitmen untuk memastikan semua warga, termasuk komunitas adat, mendapatkan layanan KB sesuai dengan kebutuhan mereka. Dalam menjalankan program, pemerintah memperhatikan aspek budaya dan adat, sehingga tidak menimbulkan resistensi dari masyarakat. “Kita perlu memahami bahwa setiap komunitas memiliki sistem dan nilai sendiri dalam mengatur keluarga,” jelas Wihaji. Hal ini sejalan dengan konsep pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Kehadiran Mendukbangga/BKKBN di Desa Kanekes juga menegaskan bahwa program KB tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga sosial. Dengan melibatkan masyarakat adat secara langsung, pemerintah mencoba mengintegrasikan isu keluarga berencana dalam rangkaian kehidupan mereka. Selain itu, kegiatan ini menjadi platform untuk membangun kesadaran tentang pentingnya pengaturan kelahiran dan kesehatan reproduksi, baik bagi wanita maupun pria. Wihaji menekankan bahwa KB adalah bagian dari pengembangan sumber daya manusia yang berkelanjutan.
Program KB yang dijalankan di wilayah Baduy juga diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Dengan mengurangi tingkat kelahiran yang tidak terencana, masyarakat bisa mengalokasikan sumber daya untuk pembangunan ekonomi dan pendidikan. Wihaji menyatakan bahwa pemerintah akan terus memperkuat sinergi dengan organisasi dan komunitas lokal untuk menjadikan KB sebagai alat pengembangan masyarakat yang lebih baik. Kunjungan ini menjadi bagian dari langkah strategis dalam mencapai target pembangunan keluarga berencana di Indonesia.
Komitmen Nasional terhadap Kesehatan Reproduksi
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga
