Bisnis

Latest Program: Analis sebut literasi digital jadi kunci transformasi UMKM di era AI

Latest Program: Literasi Digital Kunci Transformasi UMKM Era AI Latest Program - Jakarta menjadi pusat perhatian dalam perkembangan ekonomi digital nasional.

Desk Bisnis
Published July 14, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Latest Program: Literasi Digital Kunci Transformasi UMKM Era AI

Latest Program – Jakarta menjadi pusat perhatian dalam perkembangan ekonomi digital nasional. Ronny P Sasmita, seorang Analis Senior yang berafiliasi dengan Indonesia Strategic and Economics Action Institution (ISEAI), menyampaikan pesan penting mengenai pentingnya perluasan pemahaman teknologi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Menurut pandangannya, literasi digital yang memadai merupakan salah satu faktor pendorong utama dalam transformasi ekonomi digital UMKM. Hal ini terjadi di tengah era pemanfaatan kecerdasan buatan atau yang lebih dikenal dengan istilah artificial intelligence (AI).

AI sebagai Game Changer dalam Lima Tahun Kedepan

Ronny menyampaikan pandangannya bahwa dalam kurun waktu lima tahun ke depan, teknologi AI berpotensi menjadi pengubah permainan bagi transformasi UMKM Indonesia. Namun, potensi ini memiliki catatan penting yang harus diperhatikan. Jika adopsi teknologi ini berhasil dilakukan dengan baik, AI mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi operasional, dan daya saing bisnis. Peningkatan tersebut pada akhirnya akan berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Latest Program ini menyoroti bagaimana transformasi digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak bagi kelangsungan usaha.

“Dalam lima tahun ke depan, AI berpotensi menjadi game changer bagi transformasi UMKM Indonesia, tetapi dengan catatan besar. Jika adopsinya berhasil, AI bisa meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing, yang pada akhirnya berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Ronny kepada ANTARA, di Jakarta, Selasa.

Aplikasi AI dalam Operasional UMKM

Menurut analisis Ronny, AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan produktivitas UMKM secara menyeluruh. Teknologi canggih ini dapat membantu pelaku usaha melakukan otomatisasi pencatatan keuangan secara lebih efisien. Selain itu, AI juga mampu mengelola persediaan barang dengan lebih akurat dan memprediksi permintaan pasar dengan tingkat ketepatan yang lebih tinggi. Latest Program ini menunjukkan bahwa integrasi AI tidak hanya terbatas pada perusahaan besar, tetapi juga dapat diakses oleh UMKM.

Di sisi pemasaran, kemampuan AI untuk menganalisis perilaku konsumen menjadi nilai tambah yang signifikan. Hal ini memungkinkan promosi bisnis menjadi lebih tepat sasaran dan efektif. Sementara dalam konteks layanan pelanggan, chatbot berbasis AI dapat meningkatkan kecepatan respons terhadap pertanyaan pelanggan tanpa harus menambah biaya tenaga kerja secara substansial. UMKM yang mengadopsi teknologi ini akan memiliki keunggulan kompetitif yang lebih kuat di pasar.

Tantangan Utama: Rendahnya Literasi Digital

Namun, rendahnya literasi digital pelaku usaha dinilai masih menjadi tantangan utama yang menghambat adopsi teknologi tersebut secara optimal. Ronny menjelaskan bahwa sebagian besar UMKM di Indonesia masih berada pada tahap digitalisasi dasar. Mereka umumnya menggunakan media sosial dan marketplace untuk keperluan pemasaran saja. Akibatnya, implementasi AI masih dianggap terlalu kompleks dan jauh dari kebutuhan sehari-hari. Latest Program ini menyoroti perlunya edukasi yang lebih masif kepada pelaku usaha.

Ronny juga menyoroti bahwa pelaku UMKM menghadapi berbagai kendala sekaligus. Kendala tersebut meliputi minimnya sumber daya manusia (SDM), keterbatasan akses teknologi, biaya implementasi yang relatif tinggi, serta rendahnya pemahaman mengenai nilai bisnis yang dapat dihasilkan dari AI. Tanpa solusi yang komprehensif, kesenjangan digital akan terus melebar di antara pelaku usaha.

Sektor Siap dan Sektor Butuh Pendampingan

Menurut Ronny, baru beberapa sektor yang siap memanfaatkan AI secara maksimal. Sektor-sektor tersebut umumnya sudah terkoneksi dengan ekosistem digital yang lebih luas. Sebaliknya, sektor seperti pertanian tradisional, manufaktur kecil, atau usaha berbasis offline masih membutuhkan pendampingan intensif. Hal ini disebabkan karena mereka belum sepenuhnya terdigitalisasi dalam operasionalnya. Latest Program ini menekankan pentingnya pendekatan yang berbeda untuk setiap sektor.

“Literasi digital yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan teknis menggunakan aplikasi, tetapi lebih dalam yaitu literasi berbasis bisnis (business-driven digital literacy). UMKM perlu memahami bagaimana AI bisa meningkatkan efisiensi, menekan biaya, atau meningkatkan penjualan,” ujarnya pula.

Kolaborasi Multi-Pihak Diperlukan

Ronny menegaskan bahwa diperlukan kolaborasi dari berbagai pihak untuk mempercepat transformasi tersebut. Pemerintah berperan menyediakan regulasi, insentif, dan infrastruktur pendukung yang memadai. Di sisi lain, platform digital diharapkan menghadirkan layanan AI yang lebih mudah digunakan dan terjangkau bagi UMKM. Sementara sektor swasta dapat berkontribusi melalui pelatihan, inkubasi, hingga akses pembiayaan yang lebih luas. Latest Program ini menunjukkan bahwa sinergi antar pemangku kepentingan sangat krusial.

Tanpa peningkatan literasi digital dan pemerataan akses teknologi, pemanfaatan AI justru berpotensi memperlebar kesenjangan antara UMKM yang telah siap bertransformasi dengan pelaku usaha yang masih tertinggal dalam proses digitalisasi. Oleh karena itu, pendekatan holistik menjadi kunci keberhasilan transformasi UMKM di era kecerdasan buatan ini. Dengan dukungan yang tepat, UMKM Indonesia dapat bersaing di kancah global.

Leave a Comment