Menko Airlangga: BI Rate naik demi jaga stabilitas ekonomi
Key Strategy – Dalam upayanya memperkuat keseimbangan perekonomian nasional, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,5 persen merupakan langkah strategis yang diambil untuk menjaga stabilitas ekonomi. Menurutnya, kebijakan ini bertujuan memberikan sinyal tegas kepada pasar global dan mengurangi risiko gejolak yang terjadi di luar negeri.
“Kenaikan BI-Rate ini dilakukan karena prioritas utama pemerintah adalah menjaga kestabilan ekonomi. Dengan peningkatan suku bunga, pasar bisa melihat respons yang baik, baik dari IHSG maupun nilai tukar rupiah,” kata Airlangga di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa.
Kebijakan kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin dianggap berhasil menghasilkan respons positif dari pasar. Pasar keuangan lokal dan internasional menanggapi langkah tersebut dengan baik, terutama dalam konteks kenaikan harga saham dan penguatan mata uang rupiah. Airlangga menyoroti bahwa kenaikan suku bunga ini membantu mengurangi tekanan inflasi yang berpotensi meningkat akibat fluktuasi harga global.
Penguatan Rupiah dan IHSG
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada hari penutupan perdagangan Selasa mencatatkan kenaikan sebesar 130 poin, atau 0,71 persen, menjadi Rp18.058 per dolar AS. Ini menunjukkan perbaikan dari posisi sebelumnya, yaitu Rp18.188 per dolar AS. Penguatan rupiah ini menjadi indikator bahwa kebijakan BI Rate berdampak positif dalam menstabilkan kondisi keuangan.
Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) juga mencatatkan kenaikan signifikan. IHSG ditutup menguat 404,51 poin atau 7,57 persen ke posisi 5.746,65. Airlangga menilai kenaikan IHSG berada dalam zona hijau, yang menggambarkan kepercayaan pasar terhadap langkah pemerintah dalam menjaga kestabilan perekonomian.
Stabilitas Ekonomi dan Kinerja Makroekonomi
Kebijakan kenaikan BI Rate bukan hanya untuk menghadapi tekanan inflasi, tetapi juga untuk memastikan daya tahan ekonomi terhadap perubahan global. Airlangga menjelaskan bahwa pemerintah memfokuskan kebijakan ekonomi pada pengendalian inflasi dan penguatan nilai tukar rupiah, terlepas dari kondisi pasar yang fluktuatif. “Kita masih mempertahankan fondasi ekonomi yang kuat, baik dari sisi ekspor maupun daya beli masyarakat,” ujarnya.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan. Kinerja ini menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan dari luar, Indonesia mampu menjaga momentum pertumbuhan yang positif. Airlangga menambahkan bahwa kondisi makroekonomi yang stabil menjadi dasar kebijakan pemerintah dalam menangani perubahan eksternal.
Apresiasi Internasional dan Kebijakan Ekspor
Pasca-kenaikan BI Rate, Indonesia juga mendapatkan apresiasi dari mitra ekonomi utamanya, termasuk Singapura. Airlangga mengungkapkan bahwa negara tersebut mengakui upaya pemerintah dalam menjaga kestabilan ekonomi, khususnya melalui kebijakan ekspor yang terpadu. “Singapura menyebut bahwa fundamental Indonesia cukup kuat, terutama dalam mendukung stabilitas mata uang dan pertumbuhan ekonomi,” terangnya.
Menurut Airlangga, kebijakan ekspor satu pintu menjadi salah satu inisiatif yang mendapat dukungan dari negara-negara tetangga. Ia menilai kebijakan ini efektif dalam mengoptimalkan pertumbuhan ekspor dan memperkuat posisi Indonesia di pasar internasional. “Ekspor satu pintu membantu mengurangi risiko pengelolaan perdagangan yang tidak teratur, sehingga mempercepat pertumbuhan sektor ekonomi yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional,” imbuhnya.
Peran Indonesia dalam Rantai Pasok Global
Kenaikan BI Rate juga didukung oleh kebijakan pemerintah dalam menjaga ketahanan rantai pasok global. Airlangga menyoroti bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjaga stabilitas ekonomi, terutama di sektor pertanian dan produksi pupuk. “Dunia saat ini sangat memperhatikan ketahanan rantai pasok akibat konflik di Timur Tengah, dan Indonesia terbukti mampu merespons dengan baik,” katanya.
Menurut data terkini, Indonesia masih bisa mengekspor sekitar 1,5 juta ton urea ke negara-negara tetangga, termasuk ke Asia Tenggara. Kinerja ini menunjukkan bahwa sektor pertanian dan produksi pupuk tetap menjadi pilar penting dalam menjaga keseimbangan ekonomi. “Indonesia merupakan salah satu produsen pupuk terbesar di ASEAN, dan hal ini menjadi keuntungan besar dalam situasi global yang tidak menentu,” ucap Airlangga.
Dalam menyikapi perubahan global, Menko Airlangga menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya memperkuat fondasi ekonomi melalui kebijakan yang tepat. Ia menekankan bahwa kenaikan BI Rate adalah bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga stabilitas ekonomi, sekaligus memberi ruang bagi perekonomian domestik untuk berkembang secara berkelanjutan. “Pemerintah tidak hanya menanggapi situasi eksternal, tetapi juga mengoptimalkan peluang dalam kondisi yang dinamis,” tuturnya.
Dengan fondasi ekonomi yang kuat, Airlangga yakin Indonesia mampu menghadapi tantangan global. Ia menambahkan bahwa kebijakan yang diambil hingga saat ini telah membuktikan keberhasilan dalam mengendalikan inflasi, memperkuat rupiah, serta menumbuhkan kepercayaan investor. “Kita harus terus berinovasi, agar ekonomi bisa tetap stabil meski terjadi perubahan yang cepat di dunia internasional,” pungkasnya.
