Meeting Results: Sitha dan Omar cerita dalami emosi film “Keluarga Suami adalah Hama
Sitha dan Omar Cerita dalam Emosi: Film “Keluarga Suami Adalah Hama” Garapan Anggy Umbara
Meeting Results – Jakarta – Dalam film terbaru yang ditunggu-tunggu, “Keluarga Suami Adalah Hama” karya sutradara Anggy Umbara, aktris Sitha Marino dan aktor Omar Daniel menceritakan perjalanan mereka dalam membangun emosi untuk peran yang diperankan. Kedua aktor ini menekankan betapa pentingnya proses persiapan mendalam untuk menciptakan karakter yang memenuhi ekspektasi sutradara serta audiens. Dalam wawancara media di Antara Heritage Center (AHC), Rabu lalu, keduanya membuka cerita tentang cara mereka mengeksplorasi emosi dalam dunia film.
Membangun Karakter yang Berbeda
Sitha, yang memerankan Bella, mengakui bahwa peran ini menjadi tantangan baru bagi dirinya. Karakter Bella, menurut Sitha, terasa lebih “menyebalkan” dibandingkan peran-peran sebelumnya yang biasanya bersifat menyenangkan atau penuh emosi. “Karakter ini seperti berbeda dari segala sesuatu yang pernah aku mainkan sebelumnya. Tapi aku justru tertarik karena bisa merasakan sesuatu yang baru,” ujarnya. Untuk membangun emosi Bella, Sitha berusaha menggali pengalaman pribadi melalui pendekatan proses reading dan berdiskusi intens dengan para pemain.
“Nanya ke Kak Putri, ‘Ti gimana ya kan aku biasanya dapat karakter yang menye-menye happy’. Dia bilang, ‘kamu punya enggak satu lagu di mana yang bikin kamu sedih banget atau kayak so super stressed out’, dengerin itu sebelum kamu take. Terus aku kayak, ‘I think I have it,’” kata Sitha.
Kunci utama dalam mengatur emosi, menurut Sitha, adalah memahami perasaan yang mendasari karakter. Ia menekankan bahwa latihan membaca skenario secara mendalam serta bertanya kepada tim kreatif membantu membentuk hubungan emosional dengan peran. “Kalau take yang berat, aku tuh enggak bisa ngobrol sama cast-cast yang lain dulu. Jadi aku harus diemin diri kayak dua jam, ngapain sendiri. Lagu-lagunya kayak I think pop ballad deh,” tambahnya.
Di sisi lain, Omar Daniel memainkan peran Damar, seorang suami yang dituntut mengurus kebutuhan keluarga. Karakter ini dinilainya cukup kompleks karena menggambarkan seseorang yang menjadi jembatan antara kebutuhan ibu, adik-adik, dan tanggungan rumah tangga. “Ini seperti sandwich generation, yang terjepit antara tanggungan dari sisi orang tua dan tanggung jawab terhadap keluarga sendiri. Tantangannya adalah mempertahankan emosi karakter selama proses syuting,” kata Omar.
Omar menjelaskan bahwa untuk mendalami emosi Damar, ia melakukan riset yang melibatkan diskusi dengan teman-teman yang sudah menikah. “Sama setiap mau masuk ke karakter, bikin playlist lagu, mengubah kebiasaan sehari-hari pastinya kan. Apalagi lebih sering lagi develop langsung sama lawan main kita sendiri ngobrol kayak, ‘ini mau kita bawa ke mana, mau kita apain’, untuk bisa nge-build chemistry ataupun si karakter itu,” imbuhnya.
Proses Persiapan yang Intens
Menurut Omar, membangun karakter memerlukan konsistensi. Ia menyebutkan bahwa kebiasaan sehari-hari harus diubah untuk sesuai dengan situasi karakter. “Kalau karakternya penuh tekanan, aku harus menenangkan diri sendiri sebelum syuting. Ini seperti menciptakan lingkungan yang memungkinkan emosi muncul alami,” jelasnya.
Kedua aktor ini sepakat bahwa komunikasi dengan tim kreatif sangat penting. Selain itu, mereka juga memanfaatkan musik sebagai alat pengingat emosi. “Kalau aku sedang berusaha membangun situasi yang gelisah, pasti memutar lagu-lagu pop ballad. Musik bisa membantu mengenang keadaan emosional yang diperlukan,” ujar Sitha.
Plot Film dan Harapan Sutradara
Film “Keluarga Suami Adalah Hama” menceritakan kisah Intan (Raihaanun), seorang menantu yang terpaksa tinggal bersama keluarga suaminya, Damar. Situasi ekonomi rumah yang sedang terpuruk menjadi pemicu utama perubahan hubungan antara Intan dan Damar. “Pertama-tama, Intan diharuskan beradaptasi dengan keadaan finansial yang memprihatinkan. Tapi tuntutan-tuntutan dari keluarga Damar justru mengubah dinamika hubungan mereka,” kata sutradara Anggy Umbara.
Kelompok keluarga dalam film ini menggambarkan konflik yang sering terjadi dalam rumah tangga. Intan perlahan merasa diperlakukan bukan sebagai bagian dari keluarga, melainkan sebagai beban. “Karakter Intan memperlihatkan perasaan tidak dihargai. Ini memperlihatkan pergeseran emosi yang dalam, dari harapan menjadi kekecewaan,” ujar Anggy.
Menurut Anggy, keduanya, Sitha dan Omar, membawa nuansa emosional yang berbeda namun saling melengkapi. “Sitha dan Omar memiliki gaya berakting yang berbeda, tapi mereka mampu menyatu dalam dinamika keluarga yang kompleks. Ini memperkaya narasi film,” tambah sutradara berpengalaman tersebut.
Dalam rangka memperkaya cerita, film ini juga menyisipkan elemen humor yang menenangkan. “Kami sengaja menambahkan momen lucu agar penonton tidak merasa terlalu tension. Ini membuat film lebih menyentuh sekaligus menghibur,” ujar Anggy. Film ini dirilis dalam waktu yang terbatas, yaitu sejak 21 Mei 2026. “Kami berharap film ini bisa menggambarkan realita rumah tangga yang banyak orang alami. Itu adalah pesan yang ingin kami sampaikan,” pungkas sutradara tersebut.
