Topics Covered: Putin tiba di Beijing, disambut meriah pemerintah China
Putin tiba di Beijing, disambut meriah pemerintah China
Topics Covered – Beijing – Pada Selasa (19/5), Presiden Rusia Vladimir Putin tiba di Bandara Internasional Ibu Kota Beijing sekitar pukul 23.50 waktu setempat. Ia langsung diterima oleh Menteri Luar Negeri China Wang Yi yang menyambutnya di bawah tangga pesawat. Pembukaan kunjungan ini dinilai sebagai tanda penting dalam hubungan bilateral Rusia-China yang terus berkembang.
Media resmi Tiongkok menyoroti kedatangan Putin dengan menyebut bahwa mantan presiden Amerika Serikat Donald Trump juga pernah mengunjungi Beijing melalui pesawat khusus Rusia. Ini menegaskan pentingnya hubungan diplomatik antara dua negara. Tidak hanya itu, sejumlah puluhan pemuda Tiongkok juga terlihat antusias mengibarkan bendera nasional dan bendera Rusia, serta pejabat pemerintahan yang ikut menyambut.
“China menyambut baik kunjungan resmi Presiden Putin ke Tiongkok. Kemitraan strategis komprehensif antara kedua negara akan terus memperkuat kerja sama di era baru,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Guo Jiakun dalam konferensi pers rutin di Beijing, Selasa (19/5).
Kunjungan Putin ini diharapkan menjadi kesempatan untuk mendiskusikan berbagai isu strategis. Guo Jiakun menambahkan bahwa dalam pertemuan kali ini, Presiden Rusia akan bertemu dengan Presiden Xi Jinping. “Kedua kepala negara akan membagi pandangan mengenai hubungan bilateral, kolaborasi di berbagai sektor, serta masalah internasional dan regional yang penting bagi kedua negara,” kata Guo Jiakun.
Dalam pernyataannya, Guo Jiakun juga menyampaikan keyakinan bahwa bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping dan Presiden Putin, persahabatan abadi China-Rusia akan mendapatkan dukungan luas dari masyarakat. “Selain itu, generasi muda dari kedua negara akan berkontribusi dalam mengisi dinamika baru ke dalam kemitraan strategis ini,” lanjutnya.
Kunjungan Putin ke Beijing tidak terlepas dari rangkaian pertemuan sebelumnya antara kedua pemimpin. Pertemuan terakhir secara langsung antara Putin dan Xi Jinping terjadi pada Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja Sama Shanghaai (SCO) di Tianjin pada 31 Agustus hingga 1 September 2025. Sebelumnya, mereka juga sempat berkomunikasi melalui video call pada 4 Februari 2026.
Kebutuhan untuk menjaga hubungan bilateral menjadi semakin mendesak dalam kondisi geopolitik yang kompleks. Dengan kehadiran Putin di Beijing, Tiongkok dan Rusia berupaya memperkuat koordinasi dalam menghadapi berbagai tantangan internasional. Pertemuan ini juga diharapkan mendorong kerja sama lebih erat dalam bidang ekonomi, energi, dan keamanan.
Kedatangan Putin ke Beijing terjadi sekitar dua minggu setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan lawatan resmi ke Tiongkok pada 13-15 Mei 2026. Perbedaan tujuan kunjungan ini mencerminkan pergeseran prioritas dalam diplomasi global. Sementara Trump fokus pada perjanjian perdagangan dan hubungan ekonomi, Putin lebih menekankan kerja sama politik dan strategis.
Wisata diplomatik Putin ke Beijing diharapkan menjadi titik balik dalam memperkuat aliansi antara kedua negara. Saat ini, ia menginap di Wisma Negara Diaoyutai yang sering menjadi tempat pertemuan penting antara Menteri Luar Negeri Wang Yi dan mitra diplomatiknya. Lokasi ini juga memiliki sejarah sebagai pusat hubungan internasional Tiongkok.
Dalam suasana yang penuh harapan, kunjungan Putin ini dianggap sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas politik dan ekonomi di kawasan Asia Timur. Menteri Luar Negeri Wang Yi memberikan sambutan hangat, menunjukkan komitmen Tiongkok dalam menjaga kemitraan bilateral.
Kegiatan selama kunjungan Presiden Rusia akan mencakup pembahasan isu-isu seperti perang dagang, pengembangan energi, serta kerja sama militer. Adapun, hubungan antara China dan Rusia dinilai sangat kritis dalam konteks perubahan politik global.
Media Tiongkok memprediksi bahwa pertemuan ini akan berdampak signifikan pada kebijakan luar negeri kedua negara. Saat ini, Tiongkok dan Rusia berupaya membangun konsensus dalam menghadapi perubahan kekuasaan di berbagai wilayah.
Kunjungan Putin ke Beijing bukan hanya sekadar pertemuan formal, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat posisi kedua negara dalam arena internasional. Dengan bantuan dari para pejabat dan pemuda, mereka berharap dapat menumbuhkan semangat kolaborasi yang lebih luas.
Dalam penutupan, Guo Jiakun menegaskan bahwa kehadiran Putin di Beijing menegaskan komitmen untuk terus mendorong hubungan bilateral. “Kemitraan ini akan menjadi fondasi penting dalam menciptakan keseimbangan global yang lebih adil,” tutupnya.
