Pemkot Palangka Raya turunkan ekskavator atasi karhutla

15 hours ago  ·  4 min read
By David Garcia - fukushimask.com

Ekskavator Dikerahkan ke Petuk Katimpun, Palangka Raya Perangkar Kekeringan Parit di Musim Kemarau

Fukushimask.com – Musim kemarau yang menggigit Kalimantan Tengah tahun ini membawa konsekuensi langsung bagi warga Palangka Raya: parit-parit yang selama ini menjadi cadangan air alami untuk pemadaman kebakaran lahan kini berubah menjadi alur kering tanpa setetes pun air. Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kota Palangka Raya mengambil langkah teknis darurat dengan mengerahkan satu unit ekskavator milik Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) ke Kelurahan Petuk Katimpun. Tujuannya jelas — menggalikan kembali dan memperdalam parit agar petugas pemadam serta relawan memiliki akses air yang memadai saat api berkobar di sekitar permukiman.

Mobilisasi Alat Berat di Awal Pekan

Unit ekskavator itu mulai beroperasi pada awal pekan lalu. Tugas utamanya bukan sekadar menggali tanah, melainkan memastikan kedalaman parit cukup untuk menampung air hujan atau aliran kecil yang masih tersisa, sehingga Satgas Karhutla dan sukarelawan pemadam tidak lagi harus menempuh jarak jauh demi mencari sumber air alternatif.

“Ekskavator tersebut dikerahkan pada awal pekan kemarin untuk melakukan pengerukan dan pendalaman parit yang成为 salah satu sumber air bagi Satgas Karhutla dan relawan pemadam kebakaran dalam menangani kebakaran lahan di wilayah tersebut,” ujar Plt Kepala BPBD Kota Palangka Raya, Hendrikus Satriya Budi, saat memberikan keterangan di Palangka Raya, Sabtu.

Budi menjelaskan bahwa keputusan ini lahir dari urgensi di lapangan. Ketika parit mengering total, petugas pemadam kehilangan sumber air terdekat dan terpaksa mengalokasikan waktu berharga untuk mencari cadangan air di lokasi lain. Keterlambatan itu berisiko memperluas area terbakar, terutama ketika titik api sudah berada dalam jarak beberapa ratus meter dari rumah warga.

Prioritas di Sekitar Permukiman

Proses pengerukan tidak dilakukan secara acak. Budi menegaskan bahwa titik-titik parit yang diprioritaskan adalah mereka yang berada di sekitar permukiman warga yang paling rentan terdampak kepulan asap dan percikan api. Pengawasan langsung atas pekerjaan ini dilakukan oleh Kepala Dinas PUPR Kota Palangka Raya bersama Lurah Petuk Katimpun, memastikan bahwa pengerukan tepat sasaran dan tidak mengganggu infrastruktur lain.

“Kebakaran sudah dekat dengan perumahan warga sehingga perlu dilakukan antisipasi dan pencegahan agar kebakaran lahan tidak semakin meluas,” tegas Budi.

Di sisi lain, kapasitas personel pemadam di tingkat kelurahan juga menjadi faktor pembatas. Sebagian anggota tim masih tertahan di kelurahan-kelurahan lain di Kota Palangka Raya yang juga melaporkan titik api, sehingga kekuatan yang bisa dikerahkan ke Petuk Katimpun tidak maksimal. Kombinasi keterbatasan air dan keterbatasan personel inilah yang mendorong pemerintah kota memilih solusi teknis berupa pengerukan parit.

Angka yang Membayangi: 306 Kejadian, 264,79 Hektare Hangus

Skala kebakaran hutan dan lahan di Palangka Raya sepanjang musim kemarau tahun ini tercatat dalam data resmi BPBD kota. Selama periode 1 Juni hingga 21 Agustus 2026, tercatat sebanyak 306 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 264,79 hektare. Angka tersebut tersebar di seluruh kecamatan yang ada di wilayah kota.

Muhammad Heri Pauzi, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, merinci distribusi kejadian per kecamatan:

“Selama periode 1 Juni sampai 21 Agustus 2026, kami mencatat terjadi 306 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 264,79 hektare. Kejadian terbanyak berada di Kecamatan Jekan Raya diikuti wilayah di Kecamatan Sabangau,” kata Pauzi.

Rincian per kecamatan menunjukkan konsentrasi yang timpang. Kecamatan Jekan Raya mendominasi dengan 204 kejadian, diikuti Kecamatan Sebangau dengan 69 kejadian, Kecamatan Pahandut mencatat 25 kejadian, dan Kecamatan Bukit Batu mencatat delapan kejadian. Sementara itu, Kecamatan Rakumpit hingga batas data tersebut belum melaporkan satu pun kejadian karhutla.

Konsentrasi tinggi di Jekan Raya bukan tanpa alasan. Kecamatan ini memiliki kepadatan permukiman yang relatif tinggi sekaligus berbatasan langsung dengan lahan-lahan yang selama musim kemarau mudah terbakar. Ketika angin kering bertiup dari arah lahan kosong, percikan api dapat mencapai atap rumah dalam hitungan menit, membuat setiap tambahan menit dalam respons pemadam menjadi sangat krusial.

Status Tanggap Darurat Diperpanjang 29 Hari

Menyikapi potensi kebakaran yang masih tinggi, Pemkot Palangka Raya memutuskan memperpanjang status tanggap darurat karhutla selama 29 hari. Status yang semula dijadwalkan berakhir pada 10 Agustus 2026 kini diperpanjang hingga 8 September 2026. Perpanjangan ini memberi ruang bagi pemerintah kota untuk tetap mengaktifkan seluruh mekanisme kesiapsiagaan — mulai dari posko pemantauan, koordinasi lintas dinas, hingga pengerahan alat berat seperti ekskavator — selama ancaman api belum benar-benar mereda.

Keputusan memperpanjang status darurat juga membuka ruang bagi alokasi anggaran tanggap darurat yang biasanya tidak tersedia dalam kondisi normal. Dengan demikian, langkah-langkah preventif seperti pengerukan parit, penyediaan air cadangan, dan patroli keliling permukiman dapat terus berjalan tanpa hambatan birokrasi hingga akhir September.

Bagi warga Petuk Katimpun dan kelurahan-kelurahan lain di Palangka Raya, pesan dari pemerintah kota sederhana namun tegas: musim kemarau belum berakhir, dan setiap parit yang kembali berfungsi adalah satu lapisan tambahan perlindungan antara rumah mereka dan api yang mengintai dari lahan di seberang jalan.

Frequently Asked Questions

What is Pemkot Palangka Raya turunkan ekskavator atasi?

Pemkot Palangka Raya turunkan ekskavator atasi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Pemkot Palangka Raya turunkan ekskavator atasi matter?

Pemkot Palangka Raya turunkan ekskavator atasi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category