Pemprov Sulteng mendapat 16 unit X-ray untuk perluas skrining TB

16 hours ago  ·  4 min read
By Sandra Jones - fukushimask.com

Perluasan Deteksi Dini TB di Sulawesi Tengah: 16 Unit Rontgen Portabel Siap Diterjunkan ke Seluruh Kabupaten

Fukushimask.com – Upaya menekan angka tuberkulosis di wilayah timur Indonesia mendapat dorongan signifikan dengan rencana penempatan 16 unit rontgen portabel di setiap kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah. Perangkat yang dialokasikan Kementerian Kesehatan RI ini dijadwalkan tiba pada September 2026 dan akan menjadi tulang punggung skrining TB di tingkat daerah, termasuk di kawasan yang selama ini sulit dijangkau layanan kesehatan formal.

Keputusan ini lahir dari kenyataan bahwa banyak kasus TB baru teridentifikasi ketika gejala sudah tampak jelas pada individu yang sakit. Sementara itu, anggota keluarga atau kontak erat yang berisiko tinggi tertular kerap luput dari jangkauan terapi pencegahan. Akibatnya, rantai penularan terus berlanjut dari satu siklus ke siklus berikutnya tanpa terputus.

Alat Rontgen Portabel untuk Menjangkau Setiap Sudut Wilayah

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, Syahriar, mengonfirmasi rencana penempatan perangkat tersebut saat berbicara di Palu pada Selasa. Ia menegaskan bahwa setiap kabupaten dan kota akan menerima satu unit rontgen portabel sebagai instrumen utama deteksi dini.

“Insya Allah kami akan mendapatkan 16 X-ray yang akan kami tempatkan di setiap kabupaten dan kota.”

Penempatan alat di tingkat kabupaten dinilai krusial karena jarak tempuh dari wilayah pedalaman ke fasilitas kesehatan rujukan kerap memakan waktu berhari-hari. Dengan rontgen portabel, tenaga kesehatan dapat melakukan pemeriksaan langsung di puskesmas, posyandu, atau titik layanan keliling tanpa harus merujuk pasien ke rumah sakit kota.

Near Point of Care: Pendamping Rontgen untuk Daerah Terpencil

Di samping rontgen portabel, Sulawesi Tengah juga akan menerima perangkat Near Point of Care (NPOC). Alat ini berfungsi mirip Tes Cepat Molekuler (TCM) dalam mendeteksi bakteri Mycobacterium tuberculosis, namun dirancang agar lebih ringan dan mudah dipindahkan ke lokasi-lokasi yang tidak memiliki infrastruktur laboratorium.

“Bisa kita tempatkan pada lokasi-lokasi perifer dari kabupaten/kota yang ada di provinsi, agar masyarakat yang betul-betul di daerah perifer ini dapat terdeteksi dan terlayani.”

Kombinasi rontgen dan NPOC menciptakan lapisan skrining berlapis: rontgen mendeteksi gambaran radiologis paru, sementara NPOC mengonfirmasi keberadaan bakteri secara molekuler di titik yang sama. Dengan demikian, pasien tidak perlu menunggu hasil dari laboratorium pusat di kota besar.

Masalah TB Laten: Mengapa Mengobati yang Sudah Sakit Saja Tidak Cukup

Syahriar menekankan bahwa bakteri penyebab TB dapat bersembunyi dalam kondisi laten di dalam tubuh selama bertahun-tahun tanpa menimbulkan gejala. Pada fase ini, penderitanya tampak sehat namun tetap berpotensi mengaktifkan infeksi dan menularkan ke orang sekitar. Jika hanya individu yang sudah bergejala yang ditangani, maka reservoir penularan di lingkungan terdekat—keluarga, tetangga, rekan kerja—tetap menjadi sumber kasus baru.

“Kasus yang ditemukan sementara yang diobati hanya orang sakitnya. Tapi di sekitarnya, kelompok keluarga atau kontak erat yang mempunyai risiko tinggi belum tertangani.”

Kondisi ini menjelaskan mengapa kasus TB di Indonesia, termasuk di Sulawesi Tengah, terus muncul setiap tahun meskipun program pengobatan sudah berjalan. Penurunan angka penyakit hanya dapat dicapai ketika terapi pencegahan diberikan secara masif kepada kontak erat, bukan sekadar menyembuhkan pasien aktif.

“Tujuannya bagaimana kita menurunkan angka TB dan bagaimana meningkatkan penemuan kasus serta meningkatkan terapi pencegahan tuberkulosis agar kasus atau prevalensi penyakit TB ini semakin turun dari tahun ke tahun.”

Capaian Deteksi Kasus Sulawesi Tengah pada 2025

Data Kementerian Kesehatan menempatkan Sulawesi Tengah di antara enam provinsi dengan capaian penemuan kasus TB tertinggi secara nasional sepanjang 2025. Dari estimasi beban kasus sebesar 10.066, daerah ini berhasil mengidentifikasi 8.419 kasus, setara dengan 83,6 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa sistem surveilans di provinsi ini sudah relatif kuat dalam mendeteksi penderita.

Capaian deteksi tersebut juga diiringi tingkat pengobatan yang tinggi. Sekitar 90 persen dari kasus yang ditemukan berhasil menjalani regimen terapi hingga tuntas. Rasio pengobatan terhadap deteksi yang mendekati satu ini penting karena setiap kasus yang tidak diobati hingga selesai berpotensi menjadi sumber penularan ulang bagi komunitas sekitar.

Keberhasilan deteksi dan pengobatan, bagaimanapun, belum menyelesaikan persoalan utama: pencegahan penularan pada kontak erat. Di sinilah peran 16 unit rontgen portabel dan perangkat NPOC menjadi strategis. Dengan memperluas jangkauan skrining ke tingkat kabupaten dan wilayah perifer, Sulawesi Tengah berharap dapat memutus mata rantai transmisi TB lebih awal, sebelum infeksi laten berkembang menjadi penyakit aktif yang menular.

Frequently Asked Questions

What is Pemprov Sulteng mendapat 16 unit X ray?

Pemprov Sulteng mendapat 16 unit X ray is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Pemprov Sulteng mendapat 16 unit X ray matter?

Pemprov Sulteng mendapat 16 unit X ray matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category