Bene Dion angkat pariwisata Sumut lewat medlei film “Pulang Kampung”

7 hours ago  ·  4 min read
By Jessica Martin - fukushimask.com
IMG_20261007_163932

Film “Pulang Kampung” Jadikan Sumatera Utara Panggung Musikal

Fukushimask.com – Keindahan alam, ruang budaya, dan keragaman masyarakat Sumatera Utara menjadi bagian penting dalam film musikal “Pulang Kampung”. Sutradara Bene Dion Rajagukguk memanfaatkan sebuah adegan medlei untuk membawa penonton menyusuri sejumlah lokasi wisata sekaligus menampilkan nuansa kehidupan lokal di provinsi tersebut.

Adegan itu tidak hanya dirancang sebagai selingan musik. Bagi Bene Dion, medlei menjadi cara untuk memperlihatkan daya tarik Sumatera Utara melalui gambar, lagu, serta suasana yang dekat dengan identitas masyarakat Batak.

“Kita mau tunjukkan pariwisata dan keindahan Sumatera Utara melalui adegan ‘medley’ ini,” kata Bene Dion Rajagukguk.

Pengambilan gambar dilakukan di beberapa destinasi yang dikenal luas dan memiliki keterkaitan dengan kekayaan budaya Batak. Dengan pendekatan musikal, lokasi-lokasi tersebut dihadirkan sebagai bagian dari perjalanan cerita, bukan sekadar latar visual. Penonton nantinya dapat melihat bagaimana unsur lanskap, aktivitas warga, dan musik daerah dipadukan dalam satu rangkaian adegan.

Syuting 26 Hari, Mayoritas Berlangsung di Sumatera Utara

Produser Ernest Prakasa menyampaikan bahwa proses produksi keseluruhan film berlangsung selama 26 hari. Dari jumlah itu, 21 hari digunakan untuk bekerja di Sumatera Utara, sementara lima hari lainnya dijalani di Jakarta.

Porsi waktu tersebut menunjukkan besarnya perhatian produksi terhadap lokasi utama film. Khusus untuk adegan medlei, tim membutuhkan empat hari pengambilan gambar. Durasi itu digunakan untuk menangkap perpindahan suasana, lokasi, dan penampilan para pemain dalam format musikal yang membutuhkan persiapan lebih rinci dibanding adegan dialog biasa.

Film musikal memiliki tuntutan tersendiri karena gerak pemain, pengambilan gambar, lagu, serta aransemen perlu menyatu. Dalam “Pulang Kampung”, adegan medlei juga memikul peran tambahan: mengenalkan warna budaya dari sejumlah kelompok etnis di Sumatera Utara melalui pengalaman sinematik yang ringan dan mudah dinikmati.

Figuran Disesuaikan dengan Karakter Tiap Lokasi

Produser Dipa Andika menjelaskan bahwa keaslian suasana di setiap titik syuting menjadi perhatian tim. Karena itu, produksi tidak memakai kelompok figuran yang sama untuk berpindah-pindah lokasi. Pemilihan warga yang terlibat disesuaikan dengan demografi dan kebiasaan sosial di tempat adegan direkam.

Contohnya, saat kamera bekerja di kawasan lapo, tim melibatkan kelompok bapak-bapak setempat. Pada lokasi lain yang lebih banyak memperlihatkan perempuan, usia para peserta juga diatur agar cocok dengan suasana lingkungan tersebut. Kelompok ibu-ibu dari rentang usia 30 hingga 60 tahun dilibatkan sesuai kebutuhan adegan, sedangkan anak muda dihadirkan pada lokasi seperti Danau Toba dan kawasan wisata air mancur.

“Kalau misalnya Bene melihat, ‘Oh di sini biasanya dominannya ibu-ibu. Di sini kita pindah ibu-ibu, tapi umurnya mungkin 30 sampai 40 (tahun), di sana 50 (tahun), di tempat lain 60 (tahun). ‘That’s why’ di setiap tempat kami enggak pakai ‘extras’ yang sama. ‘Extras’-nya kami ganti di setiap tempat,” kata Dipa Andika.

Pendekatan ini membantu film membangun suasana yang lebih meyakinkan. Kehadiran warga dengan profil yang selaras dengan lokasi membuat setiap tempat memiliki karakter sendiri, alih-alih terlihat seperti set yang dipenuhi orang-orang yang sama. Dalam film yang membawa tema pulang dan kedekatan dengan daerah asal, detail semacam ini dapat memperkuat rasa akrab yang ingin disampaikan kepada penonton.

Medlei Merangkum Warna Musik Etnis Sumatera Utara

Komposer Viky Sianipar menyiapkan aransemen medlei yang merangkum unsur musik dari berbagai rumpun etnis di Sumatera Utara. Komposisinya mencakup tradisi Batak Toba, Karo, Simalungun, dan Pakpak.

Unsur Batak Toba mengambil porsi paling besar, sekitar 80 persen dari materi musik. Meski demikian, struktur medlei tetap memberi ruang bagi warna musik etnis lain agar gagasan keberagaman budaya daerah tetap terasa dalam keseluruhan nomor musikal tersebut.

“Semua lengkap sih, karena pada dasarnya 80 persen ini Batak Toba ya. Tapi kenyataannya ada medlei itu yang mau menunjukkan unsur etnis,” ujar Viky Sianipar.

Pilihan format medlei memungkinkan beberapa karakter musik muncul dalam satu rangkaian tanpa harus memisahkannya menjadi lagu-lagu tersendiri. Bagi penonton yang belum akrab dengan ragam tradisi Sumatera Utara, pendekatan ini dapat menjadi pintu masuk untuk mengenali bahwa identitas budaya daerah tersebut tidak berdiri pada satu warna saja.

Viky juga menilai pengerjaan film musikal dengan standar produksi besar dapat membutuhkan biaya jauh lebih tinggi. Ia memberi gambaran bahwa skala anggaran untuk musikal yang mengarah pada standar internasional, seperti film pemenang Oscar “La La Land”, dapat mencapai tiga kali biaya produksi film biasa.

“Bisa tiga kali film biasa,” kata Viky Sianipar.

Sembilan Lagu dan Empat Judul yang Sudah Diperkenalkan

“Pulang Kampung” akan memuat total sembilan lagu. Cuplikan film yang telah diperkenalkan turut menampilkan empat nomor musik, yaitu “Jamila”, “Pulo Samosir”, “Tortorhon Ma”, dan “Tirismo Lae Bangkuang”.

Tiga lagu, yakni “Jamila”, “Tortorhon Ma”, serta “Tirismo Lae Bangkuang”, mulai dirilis melalui akun Instagram, YouTube, dan TikTok @imajinari.id. Kehadiran lagu-lagu tersebut memberi gambaran awal mengenai warna musikal yang akan dibawa film ke layar lebar.

Film “Pulang Kampung” dijadwalkan hadir serentak di seluruh jaringan bioskop Indonesia pada 26 November 2026. Dengan perpaduan cerita, sembilan lagu, serta lanskap Sumatera Utara, film ini menempatkan perjalanan pulang sebagai pengalaman yang turut membuka ruang bagi musik dan pariwisata daerah.

Frequently Asked Questions

What is Bene Dion angkat pariwisata Sumut lewat?

Bene Dion angkat pariwisata Sumut lewat is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Bene Dion angkat pariwisata Sumut lewat matter?

Bene Dion angkat pariwisata Sumut lewat matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *