Bisnis

Facing Challenges: PTPN IV serap 1,34 juta ton TBS sawit perkebunan rakyat

PTPN IV Serap 1,34 Juta Ton TBS Sawit Perkebunan Rakyat Facing Challenges - Jakarta, Kamis — PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV, yang dikenal dengan nama

Desk Bisnis
Published June 26, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

PTPN IV Serap 1,34 Juta Ton TBS Sawit Perkebunan Rakyat

Facing Challenges – Jakarta, Kamis — PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV, yang dikenal dengan nama PalmCo, telah menyerap 1,34 juta ton tandan buah segar (TBS) dari para petani perkebunan rakyat hingga Mei 2026. Langkah ini bertujuan untuk menjaga ketersediaan pasar yang stabil serta memberikan kontribusi nyata terhadap kesejahteraan petani sawit secara berkelanjutan. Dalam sebuah pernyataan, Direktur Utama PTPN IV, Jatmiko K. Santosa, mengungkapkan bahwa penyerapan tersebut mencerminkan upaya perusahaan dalam membangun ekosistem pertanian yang sehat dan berdaya saing.

Meningkatkan Stabilitas Ekonomi Petani

Menurut Jatmiko, volume penyerapan TBS dari para petani swadaya dan pihak ketiga naik dibandingkan periode yang sama di tahun 2025, yang hanya mencapai 1,30 juta ton. Kenaikan ini menunjukkan bahwa roda perekonomian masyarakat di sekitar kawasan perkebunan masih berjalan dinamis. “Dengan menyerap hasil panen secara konsisten, kami berharap dapat memastikan pendapatan petani tetap terjaga, bahkan di tengah fluktuasi harga pasar,” jelasnya. Dalam konteks ini, PTPN IV menganggap penyerapan TBS bukan hanya sebagai kebutuhan logistik, tetapi juga sebagai komitmen jangka panjang terhadap kesejahteraan kelompok petani.

“Penyerapan tandan buah segar dari perkebunan rakyat mencapai 1,34 juta ton hingga Mei 2026,” kata Jatmiko K. Santosa. Ia menambahkan bahwa upaya ini memberikan ruang bagi petani untuk memperoleh penghasilan yang teratur dan mengurangi risiko ketidakpastian.”

Kado dalam Peringatan Hari Krida Pertanian

Pencapaian penyerapan TBS tahun ini juga dianggap sebagai bagian dari perayaan Hari Krida Pertanian yang diperingati setiap 21 Juni. “Momen tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan pertanian tidak hanya bergantung pada produksi, tetapi juga pada keterlibatan langsung dari pelaku usaha, seperti PTPN IV,” ujarnya. Dengan demikian, kegiatan penyerapan TBS dianggap sebagai bentuk apresiasi terhadap peran petani dalam membangun industri sawit nasional.

Kebutuhan Stabilitas Pasar

Menurut Jatmiko, ketangguhan ekonomi petani sawit mitra di berbagai wilayah operasional perusahaan bergantung pada kepastian pasokan dan harga yang stabil. “Kami memastikan sistem pemesanan tetap andal, terutama saat harga sedang berubah-ubah atau menjelang musim panen puncak,” katanya. Upaya ini diharapkan bisa mengurangi dampak negatif dari ketidakstabilan pasar, sehingga petani tidak terlalu rentan terhadap fluktuasi harga.

Dalam memperkuat komitmen tersebut, PTPN IV memastikan harga beli TBS tetap kompetitif, transparan, serta sesuai dengan ketentuan harga yang ditetapkan oleh pemerintah daerah. “Intervensi positif di hilir ini bertujuan agar rantai pasok sawit dari tingkat petani tidak terganggu,” tambahnya. Dengan mekanisme harga yang jelas, perusahaan berharap mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar kawasan perkebunan.

Tantangan Produktivitas Tanaman Rakyat

Selain fokus pada pasar, Jatmiko juga mengakui bahwa dinamika perkebunan rakyat tidak hanya terkait dengan penyerapan panen. “Kian menua usia tanaman menjadi ancaman terhadap produktivitas sawit,” jelasnya. Untuk merespons hal ini, perusahaan mengambil langkah pendekatan edukasi dan pendampingan peremajaan tanaman. “Kami memberikan bimbingan teknis agar petani bisa memperbarui kebun mereka secara optimal,” tuturnya.

Pendampingan ini dilakukan dengan menyelesaikan berbagai syarat legalitas, prosedur teknis, serta memastikan adanya offtaker yang siap menerima hasil produksi. “Dengan demikian, kami mencoba mengubah pola tata kelola perkebunan rakyat menjadi lebih profesional dan berstandar,” katanya. Upaya peremajaan ini bertujuan untuk menjaga keberlanjutan produksi sawit selama bertahun-tahun, sekaligus memperkuat kualitas produk yang dihasilkan.

Edukasi Berkelanjutan untuk Produktivitas Jangka Panjang

Menurut Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV, Arya Sandhiyudha, pendampingan petani sawit menjadi bagian integral dari program kemitraan perusahaan. “Kesejahteraan petani tidak hanya ditentukan oleh volume penyerapan, tetapi juga oleh kemampuan mereka dalam meningkatkan produktivitas kebun,” ujarnya. Arya menekankan bahwa edukasi berkelanjutan perlu diterapkan agar petani mampu merawat kebun mereka selama 10 hingga 20 tahun ke depan.

“Kami menyadari bahwa keberlanjutan usaha petani rakyat membutuhkan pendekatan holistik, bukan sekadar penyerapan TBS, tetapi juga pembinaan berkelanjutan di seluruh aspek kegiatan pertanian,” kata Arya. Ia menambahkan bahwa program pendampingan ini harus berkelanjutan untuk menghasilkan dampak jangka panjang.

Pembangunan Ekosistem Pertanian

Leave a Comment