Bisnis

Latest Program: Ekonom: Pertamax naik momentum evaluasi gaya hidup kelas menengah atas

hidup kelas menengah atas Latest Program - Dalam situasi ekonomi yang terus berubah, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamax menjadi titik perhatian

Desk Bisnis
Published June 13, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Ekonom: Pertamax naik momentum evaluasi gaya hidup kelas menengah atas

Latest Program – Dalam situasi ekonomi yang terus berubah, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamax menjadi titik perhatian utama bagi masyarakat kelas menengah atas. Pengamat ekonomi dari Universitas Mulawarman (Unmul) Kalimantan Timur, Khairil Anwar, mengungkapkan bahwa kebijakan kenaikan harga BBM ini memberikan peluang bagi konsumen untuk merevisi pola pengeluaran dan menyesuaikan kebiasaan hidup dengan kondisi ekonomi saat ini. “Pertamax, sebagai bahan bakar yang sering digunakan oleh masyarakat menengah ke atas, kini menjadi indikator penting dalam mengukur adaptasi konsumen terhadap tekanan inflasi,” ujarnya dalam wawancara di Samarinda, Jumat.

Masyarakat Siap Hadapi Kenaikan Harga

Khairil menambahkan, kenaikan harga Pertamax (RON 92) yang mencapai Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 memberikan dampak signifikan terhadap mobilitas pribadi. Namun, ia menilai masyarakat dan pelaku usaha kini lebih siap menghadapi perubahan ini dibandingkan masa lalu. “Masyarakat sudah terbiasa dengan fluktuasi harga bahan bakar, terutama setelah mengalami krisis ekonomi pada 2008, 2015, serta pandemi COVID-19,” jelas Khairil. Pergeseran ini membuat masyarakat lebih cermat dalam pengeluaran, termasuk mengurangi konsumsi yang tidak penting.

“Masyarakat kelas menengah ke atas, yang merupakan pengguna utama Pertamax, perlu mulai memikirkan kebiasaan gaya hidup yang lebih efisien,” kata Khairil Anwar.

Dalam analisisnya, Khairil menyebutkan bahwa kenaikan harga Pertamax tidak hanya mengekspos kebutuhan transportasi, tetapi juga memaksa masyarakat untuk mengoptimalkan penggunaan energi. “Penggunaan mobil yang lebih irit menjadi strategi penting, sementara itu, perubahan pola konsumsi seperti mengurangi pengeluaran untuk hiburan atau makan di luar juga diperlukan,” tambahnya. Ia menekankan bahwa kesiapan masyarakat saat ini dipengaruhi oleh pengalaman berharga dari berbagai krisis ekonomi sebelumnya, yang membantu mereka lebih cepat merespons tantangan baru.

Posisi Indonesia sebagai Importir Minyak Menjadi Faktor Utama

Khairil juga menjelaskan bahwa kebijakan kenaikan harga Pertamax adalah bagian dari upaya pemerintah dalam menghadapi keterbatasan ruang fiskal. “Pemerintah tidak punya pilihan lain selain menyesuaikan harga BBM dengan harga internasional, karena Indonesia kini bukan lagi negara eksportir minyak,” tutur Khairil. Selain itu, kondisi global yang tidak stabil, seperti kenaikan harga minyak di pasar internasional, memaksa pemerintah mengambil keputusan yang terbatas dalam mengatur anggaran subsidi.

Menurutnya, kenaikan harga Pertamax berdampak lebih langsung pada mobilitas pribadi dibandingkan dengan kenaikan harga solar. “Solar memang memengaruhi biaya logistik nasional, tetapi Pertamax lebih berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat kelas menengah,” jelas Khairil. Ia menambahkan, meskipun kenaikan harga terasa signifikan, dampaknya tidak setajam krisis sebelumnya karena masyarakat sudah memiliki mekanisme adaptasi yang lebih matang.

Edukasi Teknis dan Bantuan Sosial Jadi Solusi

Sebagai langkah penyesuaian, Khairil merekomendasikan pemerintah segera menyalurkan bantalan sosial untuk menjaga daya beli masyarakat. “Bantuan sosial seperti subsidi langsung atau insentif bagi keluarga miskin bisa meringankan beban konsumen yang terdampak langsung oleh kenaikan harga bahan bakar,” katanya. Selain itu, ia menekankan pentingnya edukasi teknis bersama bengkel-bengkel yang kompeten dalam memberikan tips penghematan biaya operasional kendaraan.

“Masyarakat perlu mengetahui cara memaksimalkan efisiensi mobil mereka, seperti penggunaan sistem transmisi yang tepat atau perawatan mesin secara berkala,” lanjut Khairil. Ia berharap program ini bisa diintegrasikan dengan kebijakan pemerintah lainnya, seperti perbaikan infrastruktur jalan atau pengembangan transportasi umum, untuk mempercepat transisi ke pola hidup lebih hemat.

Pola Hidup Hemat Menjadi Kebutuhan

Dalam konteks ini, Khairil mengingatkan bahwa kenaikan harga Pertamax menjadi tanda bahwa gaya hidup konsumtif perlu direvisi. “Konsumen kelas menengah ke atas sering kali menghabiskan dana yang besar untuk kendaraan pribadi, namun saat ini mereka harus lebih bijak dalam pengeluaran,” ujarnya. Ia mencontohkan bahwa peralihan ke mobil berbahan bakar alami atau kendaraan listrik bisa menjadi solusi jangka panjang.

Khairil juga membandingkan antara dampak kenaikan harga Pertamax dengan kenaikan harga BBM jenis lainnya. “Meskipun solar juga memengaruhi biaya produksi, Pertamax lebih bersifat sebagai penggerak ekonomi konsumen pribadi,” katanya. Ia berpendapat bahwa pemerintah perlu menyesuaikan strategi subsidi dengan kondisi pasar dan kebutuhan masyarakat yang berubah, agar tidak hanya mengejutkan tetapi juga membantu.

Kesiapan Masyarakat Dalam Masa Pandemi

Khairil mengakui bahwa krisis pandemi COVID-19 menjadi pengalaman berharga yang memperkuat kesiapan masyarakat terhadap kenaikan harga BBM. “Pandemi mengajarkan masyarakat untuk lebih mementingkan penghematan dan kemandirian finansial,” jelasnya. Ia menyoroti bahwa perilaku adaptif ini terlihat dalam peningkatan penggunaan transportasi umum dan pengurangan pengeluaran tidak penting.

Dalam pandangan Khairil, kenaikan harga Pertamax bukanlah kejutan besar bagi masyarakat. “Ini justru menjadi momentum untuk mengubah pola hidup ke arah yang lebih hemat dan berkelanjutan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa adopsi gaya hidup frugal living (hemat) mulai diterapkan oleh sebagian besar keluarga menengah atas, terutama yang memiliki penghasilan tetap dan pengeluaran fleksibel.

Khairil juga menyoroti peran institusi pendidikan dan media dalam memperkuat kesadaran masyarakat tentang pentingnya penghematan. “Kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan bengkel bisa membentuk kesadaran yang lebih luas tentang cara mengurangi pengeluaran,” katanya. Ia menekankan bahwa pendekatan ini tidak hanya membantu masyarakat tetapi juga berdampak positif pada lingkungan, karena penggunaan bahan bakar yang lebih efisien mengurangi emisi karbon.

Dengan demikian, kenaikan harga Pertamax bukan hanya tentang biaya bahan bakar, tetapi juga sebagai pengingat untuk memulai perubahan dalam gaya hidup. “Pemerintah perlu memastikan bahwa kebijakan ini tidak hanya berdampak pada kelas menengah atas, tetapi juga

Leave a Comment