Latest Program: Proyek PSEL Bali Mulai Pengolahan Sampah Modern
Latest Program – Sebagai bagian dari Latest Program nasional, Indonesia kini memulai era baru pengelolaan limbah perkotaan melalui pembangunan fasilitas Waste-to-Energy (WtE) di Pulau Bali. Proyek strategis ini tidak hanya membangun pembangkit listrik, tetapi juga menciptakan ekosistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Setelah melalui proses teknis panjang, peninjauan investasi, serta seleksi teknologi ketat, Bali ditetapkan sebagai lokasi pertama implementasi sistem modern tersebut dalam kerangka Latest Program pemerintah.
Menurut Fadli Rahman, Chief Executive Officer PT Daya Energi Bersih Nusantara atau Danera, visi proyek ini melampaui sekadar menghasilkan energi. Fokus utamanya adalah memastikan setiap ton sampah residu yang selama ini menjadi beban lingkungan dapat diolah dengan tanggung jawab penuh. Inisiatif ini merupakan bagian penting dari Latest Program yang bertujuan mengubah paradigma pengelolaan sampah di Indonesia.
“Kami ingin memastikan sampah residu yang selama ini menjadi beban lingkungan dapat diolah secara bertanggung jawab dan memberikan manfaat nyata melalui penyediaan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan,” jelas Fadli dalam pernyataannya di Jakarta pada hari Jumat.
Lokasi dan Kapasitas Fasilitas
Fasilitas WtE ini akan didirikan di kawasan Pedungan, Denpasar Selatan. Dengan kapasitas pengolahan yang mencapai 1.500 ton sampah setiap harinya, fasilitas tersebut setara dengan kemampuan menangani sekitar 500 truk pengangkut sampah dalam satu hari. Target penyelesaian konstruksi dan operasional bertahap ditetapkan pada semester pertama tahun 2028. Proyek ini menjadi salah satu pilar utama Latest Program energi terbarukan berbasis sampah.
Perjalanan panjang proyek ini bermula sejak dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 pada Oktober 2025. Dokumen regulasi tersebut menjadi landasan hukum yang kuat bagi pengembangan proyek strategis nasional di bidang energi terbarukan berbasis sampah. Implementasi Latest Program ini diharapkan dapat menjadi model bagi daerah lain.
Teknologi dan Proses Pengolahan
PSEL Bali mengadopsi teknologi moving grate incinerator yang telah terbukti efektif di 75 hingga 80 persen fasilitas WtE di seluruh dunia. Sistem ini mengacu pada standar European Industrial Emissions Directive (EU IED) yang jauh lebih ketat dibandingkan insinerator generasi sebelumnya. Teknologi ini menjadi kunci keberhasilan Latest Program dalam mengurangi emisi dan meningkatkan efisiensi pengolahan.
Dalam operasionalnya, sampah campuran akan mengalami proses pengeringan selama lima hingga tujuh hari untuk menurunkan kadar air secara signifikan. Setelah itu, sampah dibakar pada suhu melebihi 850 derajat Celsius untuk mengurai senyawa berbahaya. Panas yang dihasilkan dari pembakaran akan menciptakan uap bertekanan tinggi yang menggerakkan turbin, menghasilkan listrik yang kemudian disalurkan ke jaringan PLN.
Salah satu keunggulan sistem ini adalah pemanfaatan residu. Air lindi yang dihasilkan akan diolah menjadi air bersih, sementara bottom ash dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan batako dan material konstruksi lainnya. Inovasi ini sejalan dengan prinsip-prinsip Latest Program yang mengedepankan ekonomi sirkular.
Dampak Lingkungan dan Ekonomi
Dengan teknologi yang diterapkan, emisi yang dihasilkan per ton sampah dapat ditekan hingga 80 persen dibandingkan metode penumpukan konvensional di tempat pemrosesan akhir (TPA). Selain manfaat lingkungan, proyek ini diproyeksikan mampu mengolah sekitar 44 persen dari total timbulan sampah di Pulau Bali. Pencapaian ini menjadi indikator keberhasilan Latest Program dalam menangani masalah sampah perkotaan.
Dampak sosial yang diharapkan juga signifikan. Proyek ini diperkirakan akan membuka hingga 1.200 lapangan kerja hijau dengan mengutamakan tenaga kerja lokal. Dari perspektif energi, fasilitas tersebut ditargetkan menghasilkan listrik yang setara dengan kebutuhan sekitar 100.000 rumah tangga setiap tahunnya. Kontribusi ini memperkuat posisi Latest Program sebagai inisiatif strategis nasional.
Listrik yang dihasilkan akan diserap oleh PLN melalui Power Purchase Agreement (PPA) jangka panjang. Tarif yang berlaku mengacu pada Perpres Nomor 109 Tahun 2025 sebesar 0,20 dolar Amerika Serikat per kilowatt-jam. Skema ini diharapkan dapat meningkatkan kelayakan pembiayaan proyek sehingga lebih menarik minat investor. Model bisnis ini menjadi salah satu keunggulan Latest Program dalam menarik pendanaan.
Konteks Nasional dan Investasi
Pembangunan PSEL Bali juga melibatkan mitra teknologi internasional yang dipilih melalui proses seleksi yang ketat. Sebelumnya, pemerintah telah meresmikan pembangunan fasilitas WtE tahap pertama di Bali pada awal pekan ini. Peresmian tersebut menandai dimulainya pengembangan proyek PSEL di tiga wilayah strategis, yaitu Denpasar Raya, Kota Bekasi, dan Kota Bogor. Ketiga lokasi ini menjadi fokus utama Latest Program pengembangan energi sampah.
Ketiga proyek tersebut merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional berdasarkan Perpres Nomor 109 Tahun 2025 dan berada di bawah koordinasi PT Daya Energi Bersih Nusantara (Danera) yang dibentuk oleh Danantara Indonesia. Bali dipilih sebagai lokasi pertama karena menghadapi persoalan sampah yang semakin mendesak seiring terbatasnya kapasitas tempat pemrosesan akhir yang ada. Pemilihan Bali ini mencerminkan prioritas Latest Program dalam menangani wilayah dengan tantangan sampah tertinggi.
Dengan nilai investasi sekitar Rp3 triliun atau setara 170,4 juta dolar AS, Bali menjadi pionir dalam transformasi pengelolaan sampah nasional. Keberhasilan proyek ini diharapkan dapat menjadi model bagi pengembangan fasilitas serupa di berbagai kota besar lainnya. Melalui Latest Program, Indonesia berkomitmen untuk mencapai target pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
