Bisnis

New Policy: Menteri Riefky: Yogyakarta panutan pengembangan ekraf di Indonesia

Menteri Riefky: Yogyakarta Jadi Model Pengembangan Ekraf Nasional New Policy - Dalam kunjungan ke Kota Yogyakarta, Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku

Desk Bisnis
Published June 13, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Menteri Riefky: Yogyakarta Jadi Model Pengembangan Ekraf Nasional

New Policy – Dalam kunjungan ke Kota Yogyakarta, Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya mengungkapkan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi contoh yang menarik dalam pembangunan sektor ekonomi kreatif di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa Yogyakarta memiliki keunggulan berupa basis budaya yang kuat, yang berperan sebagai penggerak inovasi dan kreativitas. “Daerah dengan warisan budaya yang kaya bisa menjadi pusat inspirasi, lalu diadopsi oleh masyarakat sekitarnya dengan sentuhan teknologi dan kreativitas,” ujarnya, Sabtu.

Riefky menyoroti bahwa pengembangan ekonomi kreatif di Yogyakarta tidak hanya sekadar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mampu menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat. Ia menyebut bahwa kementerian berkomitmen untuk meningkatkan investasi di bidang ini, sekaligus memperkuat daya saing sektor ekraf nasional. “Tugas utama Kementerian Ekraf adalah bagaimana mendorong pertumbuhan sektor tersebut melalui kerja sama yang intens dengan pemerintah daerah dan pelaku usaha,” tegasnya.

“Daerah dengan budaya yang mengakar bisa menjadi hulu bagi inovasi, lalu mengalir ke berbagai wilayah dengan sentuhan teknologi dan kreativitas,” kata Riefky, Sabtu. Menurutnya, hal ini terlihat dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang menetapkan DIY sebagai salah satu pusat pengembangan ekonomi kreatif dari 15 provinsi lainnya. Tujuannya adalah memperkuat perekonomian Indonesia secara keseluruhan.

Riefky juga menekankan bahwa ekonomi kreatif di Yogyakarta telah menciptakan dampak yang signifikan, baik secara ekonomi maupun sosial. “Tidak hanya berkembang, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi yang konkret,” imbuhnya. Ia menambahkan bahwa pemerintah pusat akan terus berkolaborasi dengan daerah untuk meningkatkan jenama lokal, termasuk melalui proses kurasi yang memadukan kekuatan ekraf DIY dengan potensi daerah lain.

Dalam wawancara terpisah, Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo menjelaskan bahwa meskipun jumlah penduduk di wilayahnya tergolong sedikit, sekitar setengah juta jiwa, tetapi kunjungan pendatang yang beragam membuat populasi kota tersebut bisa mencapai satu juta jiwa. “Kota Yogyakarta tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi punya sumber daya manusia yang kreatif dan berpotensi tinggi,” kata Hasto.

“Karena itu, kita harus mengandalkan ekonomi kreatif sebagai tulang punggung pembangunan,” ujarnya. Hasto menyoroti bahwa sektor ekraf memiliki peran penting dalam meningkatkan pendapatan warga, khususnya melalui pemberdayaan kelompok masyarakat yang tidak terwakili, seperti perempuan dan lansia. “Kreativitas yang luar biasa di Yogyakarta bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan usaha lokal yang bersaing,” tambahnya.

Menurut Hasto, Yogyakarta telah menggelar berbagai acara kreatif yang digagas langsung oleh masyarakat, seperti Custom Fest dan Wayang Jogja Night Carnival (WJNC). “Event-event tersebut bukan hanya menarik wisatawan, tetapi juga menjadi sarana promosi budaya dan ekonomi kreatif di tingkat nasional,” jelasnya. Ia menyebut bahwa event seperti ini bisa menjadi penggerak utama dalam meningkatkan kunjungan wisatawan asing, yang dianggap sebagai indikator penting dari perkembangan sektor ekraf.

Dalam konteks ini, Hasto menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan pihak pusat. “Dengan dukungan yang tepat, potensi ekraf Yogyakarta bisa dikelola secara optimal, baik untuk menarik investasi maupun meningkatkan ekspor,” ujarnya. Ia juga menggarisbawahi bahwa masyarakat Kota Yogyakarta perlu terus diberdayakan melalui pelatihan, akses fasilitas, dan kebijakan yang mendukung pertumbuhan usaha kreatif.

“Kreativitas di sini tidak hanya terbatas pada seni atau budaya, tetapi bisa berkembang ke berbagai bidang seperti kuliner, perekayasaan, dan digital,” kata Hasto. Ia menambahkan bahwa beberapa kegiatan ekraf yang telah berjalan, seperti festival dan acara seni, memberikan peluang kerja bagi masyarakat setempat, sekaligus meningkatkan kualitas tenaga kerja. “Kita perlu membangun ekraf yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat,” imbuhnya.

Menteri Riefky sebelumnya juga menyinggung pentingnya inovasi teknologi dalam memperkuat ekraf Yogyakarta. “Tidak ada jalan lain selain mengintegrasikan kreativitas dengan teknologi untuk memperluas pasar dan menarik minat wisatawan,” katanya. Ia mencontohkan bahwa pendekatan ini bisa mengubah produk lokal menjadi daya tarik nasional, bahkan internasional. “Kita perlu menciptakan ekraf yang tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga mampu membangun identitas budaya yang unik,” ujarnya.

Menurut Riefky, Yogyakarta menjadi contoh yang layak diikuti karena mampu menggabungkan warisan budaya dengan inovasi modern. “Keberhasilan ini tidak hanya terjadi secara alami, tetapi juga berkat kerja sama yang baik antara pemerintah dan masyarakat,” katanya. Ia menambahkan bahwa DIY perlu terus berperan sebagai pusat kreativitas, sekaligus menjadi pelaku yang aktif dalam menyebarkan konsep ekraf ke berbagai daerah.

Sementara itu, Hasto menyebut bahwa Yogyakarta memiliki daya tarik unik yang bisa diubah menjadi peluang ekonomi. “Jika kita bisa membangun ekraf yang berbasis masyarakat, maka potensi Yogyakarta akan terus bertumbuh,” katanya. Ia berharap pemerintah pusat bisa memberikan sumber daya dan bantuan yang tepat untuk mengembangkan usaha ekraf lokal, sehingga mampu menghasilkan kontribusi lebih besar bagi perekonomian nasional.

Secara keseluruhan, Riefky dan Hasto sepakat bahwa ekonomi kreatif bukan hanya sektor yang menjanjikan, tetapi juga menjadi sarana untuk melestarikan budaya sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi daerah. “Kita harus terus berinovasi dan memperluas jaringan kerja sama untuk mencapai tujuan ini,” pungkas Riefky. Sementara Hasto menegaskan bahwa masyarakat Yogyakarta harus menjadi motor utama dalam membangun ekraf yang lebih maju dan inklusif.

Ekonomi kreatif di Yogyakarta juga menunjukkan potensi dalam meningkatkan jumlah tenaga kerja berkualitas. Hasto menuturkan bahwa banyak warga yang memiliki keterampilan seni atau kreativitas bisa dikembangkan melalui pelatihan dan pendampingan pemerintah. “Ini bisa menjadi jalan untuk mengurangi ketergantungan pada sektor lain,” katanya. Riefky menambahkan bahwa Kementerian Ekraf akan terus mendukung pengembangan ini dengan membangun ekosistem yang memadukan inovasi, teknologi, dan budaya lokal.

Dengan kebijakan yang tepat dan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, serta pelaku usaha, Yogyakarta diharapkan bisa menjadi pusat ekraf yang berpengaruh. Riefky menilai bahwa DIY memiliki potensi besar untuk menjadi contoh pengembangan ekraf yang berkelanjutan, sekaligus menginspirasi daerah lain di Indonesia. “Kita harus memastikan bahwa setiap usaha kreatif bisa memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang maksimal,” katanya, menutup pernyataannya.

Sebagai daerah dengan keterbatasan sumber daya alam, Yogyakarta harus membangun identitas berbasis budaya

Leave a Comment