Rencana Khusus: Mentan bertekad jadikan Indonesia “superpower” pangan dunia
Menteri Pertanian Ingin Indonesia Jadi Superpower Pangan Global
Jakarta – Dalam kunjungan ke Gudang Bulog Panaikang di Makassar, Sulawesi Selatan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan visinya untuk mengangkat Indonesia menjadi salah satu pemain utama dalam bidang pangan global. Ia menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam memperkuat kemandirian nasional.
“Kita ingin Republik Indonesia tetap bertahan selama ribuan tahun ke depan, dan dalam waktu singkat menjadi superpower pangan dunia,” ujarnya.
Menurut Mentan, Indonesia saat ini berada dalam posisi kuat di sektor-sektor kritis seperti air, pangan, energi, dan protein. Ia menilai negara ini memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan strategis di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang dianggap visioner.
Dalam kesempatan tersebut, ia mengingatkan adanya pihak-pihak yang tidak ingin Indonesia mandiri. Dugaan praktik mafia disebut sebagai salah satu ancaman, dengan alasan pihak tersebut mungkin berorientasi pada kepentingan negara lain.
Mentan optimistis bahwa ketersediaan pangan saat ini aman, kebutuhan protein terpenuhi, serta sektor energi menunjukkan tren positif. Kebutuhan beras tercukupi, dengan stok mencapai 4,5 juta ton. Dalam 20 hari ke depan, stok diperkirakan meningkat menjadi 5 juta ton, bahkan bisa mencapai 6 juta ton dalam dua bulan.
Menurutnya, peningkatan ini membuktikan kemajuan signifikan. Produksi beras di Sulawesi Selatan, sebagai contoh, meningkat drastis dari sekitar 300 ribu ton menjadi 761 ribu ton dalam periode terakhir. Angka ini menunjukkan kenaikan lebih dari dua kali lipat.
Ia juga mengajak masyarakat untuk bersyukur atas pencapaian tersebut. Menurut Mentan, kondisi ini adalah momentum penting dalam sejarah ketahanan pangan Indonesia. Ekspor pertanian meningkat, serta kesejahteraan petani mencapai tingkat tertinggi sejak kemerdekaan.
Menteri Pertanian meminta seluruh elemen masyarakat menjaga keberlanjutan negara. Ia menegaskan bahwa Republik Indonesia adalah milik bersama, sehingga butuh kolaborasi semua pihak. Kritik dalam demokrasi dianggap alami, tetapi setiap warga negara memiliki peluang berkontribusi lebih besar di masa depan.
