Dunia

Hizbullah: Pelucutan senjata kelompoknya akan buat pendudukan Lebanon

Hizbullah: Pelucutan Senjata Kelompoknya Ancam Pendudukan Lebanon Hizbullah - Pada hari Minggu (24 Mei), Naim Qassem, tokoh utama Hizbullah, menyatakan bahwa

Desk Dunia
Published May 25, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Hizbullah: Pelucutan Senjata Kelompoknya Ancam Pendudukan Lebanon

Hizbullah – Pada hari Minggu (24 Mei), Naim Qassem, tokoh utama Hizbullah, menyatakan bahwa usaha melucuti senjata organisasi mereka akan menyebabkan “pemusnahan” Hizbullah dan ancaman terhadap pendudukan Lebanon secara bertahap. Qassem juga menegaskan komitmen kelompok perlawanan tersebut untuk terus berperang melawan Israel. Dalam pidatonya yang disiarkan melalui stasiun televisi lokal Al-Manar, ia menyampaikan bahwa keberadaan Hizbullah terancam, dan kelompok tersebut siap mempertahankan diri hingga muncul salah satu dari dua kemungkinan: kemenangan atau syahid.

Ancaman terhadap Keberadaan Hizbullah

Qassem menyoroti upaya Israel untuk menghancurkan perlawanan dan memperluas kekuasaan hingga mencakup seluruh wilayah Lebanon sebagai bagian dari proyek “Israel Raya” (Greater Israel). Ia menekankan bahwa langkah-langkah ini tidak hanya berdampak pada keamanan Hizbullah, tetapi juga mengancam integritas nasional Lebanon. Menurut Qassem, pelucutan senjata akan menjadi pemicu utama bagi pendudukan Israel, yang dianggap sebagai strategi untuk mengendalikan Lebanon secara total.

“Keberadaan kami diancam, dan kami akan membela diri hingga muncul salah satu dari dua hasil: kemenangan atau syahid,” kata Qassem dalam pidatonya.

Strategi Perlawanan dan Dukungan Politik

Kelompok perlawanan ini menegaskan bahwa kehancuran dan korban jiwa yang diakibatkan oleh konflik tidak akan membuat mereka mundur. Sebaliknya, Qassem mengklaim bahwa Hizbullah tetap siap berjuang hingga keberadaannya diakui sebagai ancaman terhadap rencana Israel. Ia menambahkan bahwa proyek “Greater Israel” bertujuan menggeser batas-batas negara dan memastikan dominasi militer, politik, serta sosial di wilayah yang sebelumnya dianggap sebagai daerah teritorial Lebanon.

Dalam pidatonya, Qassem juga memperingatkan pemerintah Lebanon untuk tidak mengambil sikap yang menentang kelompok perlawanan. Ia menilai keputusan pemerintah untuk mendekati Israel secara langsung bisa mengurangi kemampuan Hizbullah dalam melindungi rakyat dari ancaman pendudukan. “Mendekati Israel secara langsung berarti mengorbankan perlawanan yang menjadi tulang punggung kemerdekaan Lebanon,” ujarnya.

Kebutuhan Perundingan Indirek

Dalam upaya memperkuat posisi, Qassem mendesak pemerintah Lebanon untuk menempuh perundingan tidak langsung dengan Israel. Ia menekankan bahwa pendekatan ini lebih aman dan strategis, karena memungkinkan negosiasi tanpa mengorbankan kekuatan Hizbullah. “Jika pemerintah mengambil keputusan yang menguntungkan Israel, maka akan menjadi konsesi terhadap Amerika Serikat dan kekuatan imperialistik lainnya,” tambahnya.

Kebijakan perundingan langsung, menurut Qassem, berisiko melemahkan keberadaan Hizbullah dan mempercepat proses pendudukan. Ia berharap pemerintah Lebanon bisa menjaga keseimbangan antara kebutuhan keamanan nasional dan dukungan politik dari kelompok perlawanan. Dengan demikian, Lebanon bisa mempertahankan posisinya sebagai negara yang berdiri sendiri, tanpa menjadi bagian dari kekuasaan asing.

Konteks Sejarah dan Kekuatan Hizbullah

Sebagai organisasi yang memiliki akar sejarah panjang di Lebanon, Hizbullah terus menjadi pilar penting dalam menghadapi ancaman dari Israel. Kelompok ini didirikan pada tahun 1982 sebagai bentuk perlawanan terhadap kehadiran militer Israel di wilayah Timur Lebanon, yang dianggap sebagai penjajahan berkepanjangan. Dengan pelucutan senjata, Qassem mengkhawatirkan bahwa Hizbullah akan kehilangan kemampuannya untuk melindungi rakyat dan menghalangi kebijakan pendudukan.

Menurut laporan media lokal, Hizbullah memiliki lebih dari 100.000 anggota, terdiri dari militer, gerakan politik, dan kader pemuda. Kekuatan ini tidak hanya berupa senjata, tetapi juga dukungan luas dari masyarakat Lebanon yang menganggap kelompok perlawanan tersebut sebagai perlindungan terhadap ancaman dari negara tetangga. Qassem menilai, jika senjata mereka diambil, maka Lebanon akan kehilangan salah satu alat utamanya dalam mempertahankan kemerdekaan.

Dampak Pelucutan Senjata pada Kehidupan Rakyat

Qassem juga menyebutkan bahwa pelucutan senjata tidak hanya mengancam Hizbullah, tetapi juga menimbulkan dampak langsung pada kehidupan rakyat Lebanon. Ia menyoroti bahwa kehancuran yang terjadi akibat perang tidak bisa diabaikan, namun ini justru memperkuat tekad Hizbullah untuk melanjutkan perjuangan. “Rakyat Lebanon telah kehilangan banyak, tetapi mereka tetap bersemangat untuk melawan pendudukan,” ujarnya.

Menurut Qassem, senjata dan kemampuan militer Hizbullah menjadi benteng terakhir bagi Lebanon. Jika dikendalikan oleh Israel, maka perlawanan terhadap pendudukan akan kehilangan momentum. Ia juga membandingkan situasi saat ini dengan masa lalu, saat Israel menginvasi Lebanon pada tahun 1975-1990, yang menimbulkan kerusakan besar dan korban jiwa ribuan. Dengan demikian, pelucutan senjata dianggap sebagai langkah yang memicu kembali ancaman pendudukan.

Konsesi Terhadap Amerika Serikat dan Israel

Dalam pidatonya, Qassem juga memperingatkan bahwa perundingan langsung dengan Israel bisa dianggap sebagai konsesi terhadap kekuatan asing. Ia menilai bahwa Amerika Serikat, sebagai pendukung utama Israel, akan memanfaatkan situasi ini untuk mengurangi pengaruh Hizbullah di kawasan Timur Tengah. “Jika Lebanon menyetujui perundingan dengan Israel, maka Amerika Serikat akan semakin memperkuat posisinya dalam membentuk kebijakan regional,” katanya.

Qassem menekankan bahwa Hizbullah tidak hanya berperan sebagai kelompok militer, tetapi juga sebagai pihak politik yang memiliki pengaruh

Leave a Comment