BNPB: Kebakaran Hutan dan Lahan di Situbondo Tuntas, Status Siaga Darurat Berlaku Hingga Oktober 2026
BNPB – Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan konfirmasi resmi bahwa kejadian kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di berbagai lokasi Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, telah berhasil ditangani hingga tuntas. Berdasarkan pernyataan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, yang disampaikan di Jakarta pada hari Jumat, kondisi kobaran api di wilayah tersebut kini sudah dapat dikendalikan sepenuhnya. Hal ini tidak terlepas dari respons cepat yang diberikan oleh tim penanganan darurat yang bekerja di lapangan.
Kebakaran yang pertama kali dilaporkan pada hari Rabu tanggal 8 Juli tersebut telah membakar lahan dengan estimasi luas mencapai sekitar dua hektare. Abdul Muhari menjelaskan bahwa titik-titik api tersebar di wilayah Kelurahan Mimbaan serta Desa Juglangan yang keduanya berada di bawah naungan Kecamatan Panji. Melalui serangkaian upaya pemadaman yang dilakukan secara intensif oleh tim tanggap darurat gabungan, amukan api yang membakar vegetasi di kedua desa tersebut akhirnya dipastikan padam total pada hari Kamis tanggal 9 Juli.
Perpanjangan Status Siaga Darurat untuk Antisipasi Kebakaran Susulan
Direktorat Pengendalian Operasi BNPB melaporkan bahwa Kabupaten Situbondo saat ini masih memberlakukan status Siaga Darurat Bencana Karhutla. Langkah ini diambil sebagai upaya antisipasi terhadap potensi ancaman kebakaran susulan yang dapat terjadi di tengah musim kemarau yang sedang berlangsung. Kesiapsiagaan penuh ini secara legalitas berlaku selama masa rentang waktu yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat, yaitu sejak tanggal 26 Mei hingga 6 Oktober 2026.
Perpanjangan status siaga darurat ini mencerminkan kehati-hatian pemerintah daerah dalam menghadapi kondisi cuaca yang masih berpotensi memicu kebakaran baru. Situbondo, sebagai wilayah yang terletak di pesisir utara Jawa Timur, memiliki karakteristik geografis yang membuatnya rentan terhadap kejadian kebakaran, terutama saat curah hujan rendah dan suhu udara meningkat drastis. Vegetasi kering di area pertanian dan hutan kecil menjadi bahan bakar potensial yang dapat menyebarkan api dengan cepat.
Koordinasi Multisektor dalam Penanganan Darurat
Keberhasilan pemadaman karhutla di Situbondo tidak lepas dari koordinasi yang solid antara berbagai instansi dan lembaga terkait. Abdul Muhari menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap respons cepat yang diberikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Manggala Agni, pemadam kebakaran, relawan, serta seluruh unsur terkait lainnya. Sinergi ini memungkinkan kedua kejadian kebakaran dapat segera dikendalikan tanpa menimbulkan kerugian yang lebih besar.
“BNPB mengapresiasi respons cepat BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, pemadam kebakaran, relawan, serta seluruh unsur terkait dalam melakukan penanganan sehingga kedua kejadian tersebut dapat segera dikendalikan,” cetusnya.
Tim gabungan yang terdiri dari berbagai komponen tersebut bekerja secara bergiliran untuk memastikan bahwa api tidak sempat membesar kembali. Penggunaan alat-alat pemadam modern serta strategi penyemprotan air dari berbagai titik strategis membantu mempercepat proses pemadaman. Selain itu, pemantauan udara melalui helikopter juga dilakukan untuk mengidentifikasi titik-titik panas yang masih berpotensi menyala.
Dampak dan Langkah Preventif ke Depan
Kebakaran yang terjadi di Situbondo meskipun hanya membakar lahan sekitar dua hektare, namun memberikan dampak signifikan terhadap kualitas udara di wilayah tersebut. Asap yang dihasilkan dari pembakaran vegetasi menyebabkan visibilitas menurun dan berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat serta transportasi. Pemerintah daerah telah menginstruksikan seluruh perangkat desa untuk meningkatkan patroli rutin di area rawan kebakaran.
Masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan dan melaporkan setiap temuan titik api kepada petugas terdekat. Sosialisasi mengenai bahaya kebakaran dan cara pencegahannya terus dilakukan melalui berbagai media komunikasi. Dengan status siaga darurat yang masih berlaku hingga Oktober 2026, diharapkan kewaspadaan masyarakat dan petugas tidak akan menurun meskipun musim kemarau belum berakhir sepenuhnya.
BNPB juga berencana melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penanganan karhutla di Situbondo sebagai bahan pembelajaran untuk wilayah lain yang memiliki karakteristik serupa. Pengalaman di Situbondo diharapkan dapat menjadi model terbaik dalam menangani kebakaran hutan dan lahan dengan pendekatan yang lebih terintegrasi dan responsif terhadap kondisi lapangan.
