Pengasuhan Aman Jadi Sorotan Usai Dugaan Kekerasan Anak di Malaysia
Fukushimask.com – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menegaskan bahwa setiap anak berhak tumbuh dalam pengasuhan yang aman, penuh kasih, serta terbebas dari tindakan kekerasan. Penegasan itu disampaikan di Jakarta pada Senin, menyusul perhatian publik terhadap dugaan kekerasan fisik terhadap seorang anak oleh Warga Negara Indonesia di sebuah hotel di Alor Setar, Malaysia.
Peristiwa tersebut terekam kamera pengawas atau CCTV. Dalam menanggapi kasus itu, Arifah Fauzi mengingatkan bahwa tekanan dalam mengasuh anak tidak boleh menjadi alasan untuk melakukan tindakan yang menyakiti.
“Mengasuh anak memang memiliki tantangan tersendiri. Orang tua bisa mengalami kelelahan, tekanan, atau menghadapi situasi yang memicu emosi. Namun apapun kondisinya, kekerasan tidak dapat dibenarkan sebagai bentuk pendisiplinan anak. Orang tua perlu belajar mengenali emosinya, menenangkan diri ketika mulai kehilangan kendali, dan memilih respons yang tidak melukai anak,” kata Menteri PPPA Arifah Fauzi.
Disiplin Tidak Harus Berupa Kekerasan
Pengasuhan merupakan proses yang kerap menguji kesabaran, khususnya ketika anak sedang sulit diarahkan, berebut barang, atau terlibat pertengkaran. Meski demikian, anak tetap membutuhkan respons orang dewasa yang terkendali. Kekerasan fisik, bentakan, dan tindakan yang mempermalukan anak bukanlah jalan untuk membangun disiplin.
Arifah Fauzi menekankan bahwa aturan tetap dapat ditegakkan melalui cara yang lebih sehat. Anak perlu dibantu untuk memahami batasan, mengenali perasaannya, dan belajar menyelesaikan persoalan tanpa melukai orang lain. Dalam proses itu, orang tua memegang peran penting sebagai teladan dalam mengelola emosi dan menghadapi konflik.
“Ketika anak bertengkar, berebut barang, atau sulit mengikuti arahan, orang tua perlu merespons dengan tenang, mendengarkan kebutuhan anak, dan memberikan batasan yang jelas sesuai usianya. Disiplin tetap dapat diterapkan tanpa memukul, membentak, atau mempermalukan anak,” kata Arifah Fauzi.
Pendekatan yang tenang bukan berarti membiarkan perilaku anak tanpa arahan. Orang tua tetap dapat menyampaikan konsekuensi yang sesuai usia, menjelaskan alasan sebuah aturan, dan memberi waktu kepada anak untuk menenangkan diri. Cara ini membantu anak memahami bahwa perilaku memiliki dampak, tanpa membuatnya merasa takut atau terancam.
Komunikasi Keluarga untuk Mencegah Respons Spontan
Komunikasi di dalam keluarga menjadi bagian penting dalam mencegah terjadinya kekerasan. Ketika orang tua terbiasa berbicara mengenai kebutuhan anak, pembagian peran, dan kondisi emosional masing-masing, situasi yang berpotensi memicu ledakan emosi dapat lebih cepat diantisipasi.
Arifah Fauzi juga mengingatkan pentingnya kerja sama antara kedua orang tua dalam menjalankan pengasuhan. Seseorang yang merasa mulai kehilangan kendali tidak perlu memaksakan diri untuk terus menghadapi anak dalam keadaan emosi memuncak. Mengambil jeda dapat menjadi pilihan yang lebih aman bagi semua pihak.
“Orang tua perlu membangun komunikasi dan komitmen bersama dalam mengasuh anak. Ketika salah satu orang tua merasa emosinya mulai sulit dikendalikan, jangan memaksakan diri untuk terus menghadapi situasi tersebut. Berikan kesempatan kepada pasangan untuk mengambil alih pengasuhan sementara dengan tenang. Langkah sederhana ini dapat membantu mencegah respons spontan yang berisiko menyakiti anak,” kata Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi.
Pembagian peran tersebut dapat diterapkan dalam berbagai keadaan sehari-hari. Saat salah satu orang tua sedang lelah, tertekan, atau mudah terpancing emosi, pasangan dapat mengambil alih pendampingan anak untuk sementara. Setelah suasana lebih stabil, persoalan dapat dibicarakan kembali dengan kepala dingin.
Hak Anak Harus Menjadi Pertimbangan Utama
Anak berada pada tahap perkembangan yang membuat mereka masih belajar memahami emosi, aturan, dan konsekuensi dari tindakan mereka. Karena itu, perilaku yang dianggap sulit oleh orang dewasa sering kali membutuhkan pendampingan, bukan hukuman yang menyakitkan. Kebutuhan anak untuk didengar tidak menghilangkan kebutuhan akan batasan, tetapi keduanya perlu berjalan bersama.
Kasus dugaan kekerasan yang menjadi perhatian ini kembali menyoroti pentingnya pengasuhan yang melindungi martabat anak. Lingkungan keluarga semestinya menjadi tempat pertama bagi anak untuk merasa aman, memperoleh arahan, dan belajar menghadapi masalah dengan cara yang sehat.
Dalam situasi yang memicu emosi, orang tua dapat berhenti sejenak sebelum merespons, memastikan anak berada dalam kondisi aman, lalu memilih kata-kata dan tindakan yang tidak menambah luka. Langkah sederhana seperti menarik napas, bergantian menjaga anak, atau menunda pembicaraan hingga emosi reda dapat membantu mencegah keputusan impulsif.
Pesan utama dari Menteri PPPA adalah bahwa tantangan pengasuhan perlu dihadapi dengan kesadaran, komunikasi, dan komitmen bersama. Anak membutuhkan ketegasan yang penuh hormat, bukan kekerasan. Dengan respons yang terukur dan batasan yang jelas, keluarga dapat menjadi ruang belajar yang aman bagi anak untuk bertumbuh.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Menteri PPPA tanggai kekerasan anak di lift?
Menteri PPPA tanggai kekerasan anak di lift is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Menteri PPPA tanggai kekerasan anak di lift matter?
Menteri PPPA tanggai kekerasan anak di lift matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

