Baznas Kirim Sarana Laboratorium dan ZCoffee untuk PTS di Yogyakarta
New Policy – Dari Jakarta, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Republik Indonesia membagikan bantuan sarana laboratorium komputer kepada tiga institusi pendidikan tinggi swasta (PTS) di Yogyakarta. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas akademik serta membantu meningkatkan kemandirian mahasiswa melalui pengembangan ekonomi. Total nilai bantuan yang disalurkan mencapai Rp298,92 juta, dengan distribusi di antara Universitas AMIKOM Yogyakarta, Universitas Aisyiyah Yogyakarta (Unisa), dan Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY).
Program ZCoffee: Kemandirian Ekonomi Mahasiswa
Selain bantuan untuk meningkatkan fasilitas pendidikan, Baznas juga meluncurkan Program ZCoffee, yang merupakan paket pemberdayaan ekonomi berbasis usaha minuman kopi. Program ini diterapkan di lingkungan kampus Unisa Yogyakarta melalui dua outlet yang dikelola oleh empat mahasiswa yang tergolong mustahik. Total dana yang disediakan untuk program ini sebesar Rp80 juta.
“Fasilitas pendidikan seperti laboratorium komputer merupakan investasi sosial. Manfaatnya tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi juga akan mendukung peningkatan kapasitas dan daya saing mahasiswa di masa mendatang,” kata Rizaludin Kurniawan, Pimpinan Baznas RI Bidang Mobilisasi dan Pengumpulan, dalam keterangan di Jakarta, Jumat.
Program ZCoffee dirancang untuk memberikan peluang usaha kepada mahasiswa yang kurang mampu, sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi produktif di sekitar kampus. Rizaludin menjelaskan bahwa keberhasilan implementasi program ini bergantung pada kolaborasi yang solid antara Baznas, lembaga pendidikan, dan masyarakat. “Keberhasilan Program ZCoffee di Unisa Yogyakarta akan sangat ditentukan oleh sinergi dan peran aktif pihak kampus dalam melakukan pendampingan, pembinaan, serta penguatan kapasitas usaha,” tegasnya.
Langkah Kolaboratif untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan
Dalam wawancara terpisah, Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menyampaikan apresiasi terhadap dukungan Baznas dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui program bantuan sarana pendidikan. Menurutnya, kehadiran Baznas memberikan kontribusi signifikan dalam memperkuat kemampuan mahasiswa untuk mengikuti perkembangan teknologi.
“Bantuan ini diharapkan dapat mendukung mahasiswa menyelesaikan pendidikan dan meningkatkan kesejahteraan mereka pada masa yang akan datang,” ujar Harda.
Harda menekankan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan Baznas adalah langkah strategis dalam upaya mengurangi kesenjangan pendidikan serta membangun ekonomi lokal. “Kolaborasi antara pihak-pihak ini menjadi penting karena memungkinkan pemenuhan kebutuhan mahasiswa yang lebih luas, termasuk akses ke teknologi pendidikan,” tambahnya.
Rektor Unisa: Ketersediaan Infrastruktur Pendidikan Digital
Rektor Universitas Aisyiyah Yogyakarta, Warsiti, menyambut baik kontribusi Baznas dalam memperkuat sarana pembelajaran digital di lingkungan kampus. “Keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh semangat belajar, tetapi juga oleh ketersediaan akses dan sarana pendukung yang memadai. Kami sangat mengharapkan adanya alat komputer serta fasilitas laboratorium ini dapat dimanfaatkan secara optimal,” tuturnya.
Dalam konteks ini, Warsiti menyoroti pentingnya integrasi teknologi dalam proses pembelajaran, khususnya di tengah era digitalisasi. Ia juga meminta masyarakat untuk terus berpartisipasi dalam kegiatan zakat, karena dana yang terkumpul akan menjadi fondasi untuk program pemberdayaan lebih luas. “Masyarakat perlu memperhatikan pentingnya zakat sebagai bentuk tanggung jawab sosial,” imbuhnya.
Partisipasi Zakat sebagai Pendorong Perubahan
Rizaludin Kurniawan menambahkan bahwa partisipasi masyarakat dalam berzakat memiliki dampak jangka panjang terhadap pengembangan ekonomi dan pendidikan. Ia menyatakan, semakin besar dana zakat yang terhimpun, semakin banyak program yang dapat dijalankan untuk membantu masyarakat kurang mampu. “Zakat bukan hanya alat amal, tetapi juga wadah untuk mendorong peningkatan kesejahteraan dan mengurangi kesenjangan sosial,” jelasnya.
Program ZCoffee, kata Rizaludin, menjadi contoh nyata bagaimana zakat dapat diubah menjadi sarana pemberdayaan ekonomi. Ia berharap, melalui program ini, mahasiswa tidak hanya mampu menguasai keterampilan teknis, tetapi juga membangun usaha yang berkelanjutan. “ZCoffee bertujuan memberikan peluang kerja serta memperkuat kesadaran masyarakat tentang potensi zakat sebagai alat perubahan,” ujarnya.
Manfaat Jangka Panjang dari Program Baznas
Kebutuhan akan sarana pendidikan yang modern semakin tinggi, terutama dalam menghadapi tantangan kompetitif di dunia kerja. Rizaludin mengungkapkan bahwa laboratorium komputer menjadi bagian dari upaya Baznas untuk menyiapkan mahasiswa agar siap menghadapi era digital. “Program ini akan memberikan keuntungan jangka panjang, baik dalam meningkatkan kualitas lulusan maupun membangun ekonomi kampus,” katanya.
Di sisi lain, ZCoffee menjadi program yang memberikan peluang ekonomi kreatif bagi mahasiswa. Selain menyediakan minuman kopi, program ini juga melibatkan pengelolaan keuangan, pemasaran, dan manajemen usaha. “Dengan adanya ZCoffee, mahasiswa tidak hanya mendapatkan penghasilan tambahan, tetapi juga mengembangkan kemandirian dan keterampilan bisnis,” tutur Rizaludin.
Kolaborasi dan Dukungan Komunitas
Kemajuan pendidikan di Yogyakarta tidak terlepas dari dukungan komunitas dan lembaga keagamaan. Baznas menjalin kerja sama dengan pihak lokal untuk memastikan programnya dapat berjalan ef
