Hasil Pertemuan: Indonesia kembali minta DK PBB usut insiden UNIFIL di Lebanon
Indonesia kembali minta DK PBB usut insiden UNIFIL di Lebanon
Jakarta – Tiga anggota pasukan perdamaian Indonesia yang bertugas di UNIFIL, Lebanon, terluka akibat ledakan yang terjadi di El Addaiseh, Selatan Lebanon, pada Jumat (3/4). Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mengeluarkan pernyataan resmi di Jakarta, Sabtu, menyampaikan kekhawatiran serius terhadap insiden tersebut.
Pemerintah Indonesia kembali menuntut tindakan investigasi menyeluruh dan segera dilakukan oleh Dewan Keamanan PBB. Mereka juga meminta pertemuan antara negara-negara penyumbang pasukan UNIFIL guna meninjau dan meningkatkan perlindungan bagi personel yang bertugas, sebut pernyataan resmi Kemlu.
Insiden ini menjadi yang ketiga dalam sepekan terakhir yang melibatkan anggota penjaga perdamaian Indonesia di UNIFIL. Kemlu menegaskan bahwa serangan berulang kali terhadap pasukan tersebut tidak bisa dibiarkan, terlepas dari penyebabnya, dan mendorong perlindungan yang lebih kuat saat konflik semakin intens.
“Keselamatan peacekeepers PBB adalah prioritas utama. Setiap ancaman terhadap mereka merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional yang harus bertanggung jawab,” tulis pernyataan itu.
Indonesia menyerukan penyelidikan transparan untuk mengungkap kronologi dan pihak yang bersalah. Pernyataan tersebut dikeluarkan di tengah operasi militer Israel yang terus berjalan, termasuk pernyataan untuk mempertahankan keberadaan pasukan Israel di Lebanon.
Sebelumnya, pada Minggu (29/3), satu prajurit TNI gugur akibat tembakan artileri di sekitar pos UNIFIL Indonesia di Adchit Al Qusayr. Hari Senin (30/3), dua anggota lainnya tewas saat konvoi yang mereka kawal diserang.
Personel yang terluka terdiri dari Letnan Satu Infanteri Sulthan Wirdean Maulana, Prajurit Kepala Deni Rianto, Praka Rico Pramudia, Praka Bayu Prakoso, dan Praka Arif Kurniawan. Dengan tambahan tiga korban cedera, total prajurit TNI yang terkena dampak insiden mencapai delapan orang.
