Membangun Kolaborasi Multi-Pihak untuk Perlindungan Anak dari Kekerasan
Fukushimask.com – Jakarta – Perlindungan anak dari berbagai bentuk kekerasan memerlukan pendekatan holistik yang melibatkan banyak pihak. Psikolog klinis anak dan remaja, Ocha Ananda Suherik, M.Psi., Psikolog, menyoroti pentingnya sinergi berbagai peran dalam upaya menciptakan lingkungan yang aman bagi tumbuh kembang generasi muda. Kolaborasi antara orang tua, institusi pendidikan, dan pemerintah menjadi kunci utama dalam membangun sistem perlindungan yang efektif dan berkelanjutan.
Peran Keluarga sebagai Fondasi Utama
Keluarga merupakan unit terkecil namun paling fundamental dalam pembentukan karakter anak. Ocha menjelaskan bahwa penelitian-penelitian terkini menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan dalam pola asuh penuh kekerasan cenderung memiliki risiko lebih besar mengalami gangguan kesehatan mental. Selain itu, mereka juga berpotensi menjadi korban kekerasan atau bahkan mengulang-ulang pola kekerasan tersebut ketika dewasa nanti.
“Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dalam pola pengasuhan yang penuh kekerasan memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan mental, menjadi korban kekerasan, bahkan mengulang pola kekerasan tersebut di kemudian hari,” kata Ocha saat dihubungi ANTARA di Jakarta pada hari Kamis.
Sebagai lulusan Universitas Indonesia, Ocha menambahkan bahwa dalam konteks keluarga, orang tua memegang posisi sebagai pelindung pertama. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk membangun hubungan yang hangat, terbuka, dan responsif sehingga anak merasa nyaman untuk bercerita ketika menghadapi masalah. Prinsip disiplin positif harus menjadi panduan utama dalam interaksi sehari-hari antara orang tua dan anak.
Peran Sekolah dalam Menciptakan Ruang Aman
Di luar lingkungan rumah, sekolah juga memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk ruang aman bagi anak. Guru dan tenaga kependidikan perlu dibekali dengan kemampuan untuk mengenali tanda-tanda kekerasan yang mungkin dialami anak. Selain itu, mereka harus mampu merespons laporan dengan tepat serta memahami prosedur penanganan yang berorientasi pada kepentingan terbaik anak.
Ocha menekankan bahwa sekolah perlu memiliki mekanisme pelaporan yang mudah diakses oleh semua pihak. Kerahasiaan korban harus dijaga dengan baik, dan harus ada tindak lanjut yang jelas agar anak merasa aman untuk melapor ketika mengalami atau menyaksikan kekerasan. Hal ini sejalan dengan upaya menjadikan anti-perundungan di sekolah bukan sekadar slogan, melainkan memiliki langkah-langkah konkret yang dapat diimplementasikan.
“Sehingga anti-perundungan di sekolah bukan hanya sekadar tagline, tetapi ada langkah konkretnya,” ujar Psikolog yang tergabung dalam Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) tersebut.
Kontribusi Pemerintah dalam Sistem Perlindungan Komprehensif
Pemerintah juga memiliki peran strategis dalam perlindungan anak melalui pembangunan sistem yang komprehensif. Ocha menilai bahwa setiap sekolah perlu memiliki standar perlindungan anak yang jelas sebagai bagian dari implementasi kebijakan nasional. Sistem ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pencegahan, deteksi dini, penanganan kasus, pendampingan psikologis, hingga penegakan hukum terhadap para pelaku kekerasan.
“Sistem yang komprehensif, mulai dari pencegahan, deteksi dini, penanganan kasus, pendampingan psikologis, hingga penegakan hukum terhadap pelaku,” tutur Ocha.
Hari Anak Nasional 2026: Tema dan Tujuan
Kemarin, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2026 dengan mengangkat tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”. Tema ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran seluruh elemen bangsa dalam memenuhi hak-hak anak, memberikan perlindungan dari kekerasan, serta menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif bagi semua anak Indonesia.
Melindungi anak bukanlah tugas yang hanya dibebankan kepada keluarga atau pemerintah semata. Ini merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan komitmen dan kolaborasi dari seluruh lapisan masyarakat. Dengan sinergi berbagai peran dalam upaya perlindungan yang optimal, kita dapat membangun generasi yang kuat, sehat, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Setiap pihak memiliki kontribusi unik yang saling melengkapi untuk menciptakan ekosistem perlindungan anak yang efektif.

