Dishub DKI panggil 19 depo peti kemas usai macet parah di Cakung

15 hours ago  ·  4 min read
By Patricia Hernandez - fukushimask.com
khrisna-edit-1784784751-d78ff66a72

Dishub DKI Jakarta Mengundang 19 Pengelola Depo Peti Kemas Pasca Kemacetan Berkepanjangan di Cakung

Fukushimask.com – Jakarta — Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta telah melaksanakan panggilan resmi kepada sekitar 19 pengelola depo peti kemas yang tersebar di wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Utara. Langkah strategis ini diambil sebagai respons langsung terhadap kondisi kemacetan yang sangat parah di kawasan Simpang Kolong Cakung. Menurut Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Budi Awaluddin, panggilan tersebut dilakukan untuk membahas berbagai permasalahan logistik yang terjadi secara bersamaan.

Sebelumnya, kondisi lalu lintas di kawasan Cakung mengalami penurunan signifikan akibat antrean truk kontainer yang tidak terkendali. Para pengelola depo kini diminta hadir untuk melakukan koordinasi intensif guna menemukan solusi jangka panjang. Budi Awaluddin menjelaskan bahwa pertemuan ini akan melibatkan seluruh pihak terkait untuk memastikan tidak ada lagi penumpukan kendaraan di area strategis tersebut.

Detail Jumlah Depo yang Dipanggil

Dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Jakarta pada hari Kamis, Budi Awaluddin memberikan rincian lengkap mengenai jumlah depo yang dipanggil. Ia menyatakan bahwa total terdapat 19 depo yang akan diajak berdiskusi dalam rapat koordinasi tersebut. Dari jumlah tersebut, tujuh depo berlokasi di wilayah Jakarta Timur, sementara sisanya sebanyak 12 depo berada di Jakarta Utara.

“Iya, jadi hari ini kita akan panggil seluruh depo yang ada di sekitar sini. Ini jumlahnya ada 19. Di Jakarta Timur ada tujuh, di Utara ada 12. Kita akan rapatkan dengan para depo itu semua,” kata Budi Awaluddin.

Rapat koordinasi ini dirancang untuk mencari solusi bersama agar antrean truk kontainer yang menuju depo tidak lagi menyebabkan kemacetan panjang di sekitar kawasan Cakung. Para pengelola depo diharapkan dapat memberikan masukan terkait kapasitas operasional mereka masing-masing.

Akibat Lonjakan Peti Kemas Impor

Menurut penjelasan Budi Awaluddin, penyebab utama kemacetan adalah lonjakan peti kemas impor yang tidak sebanding dengan arus ekspor yang berjalan normal. Kondisi ini menyebabkan penumpukan peti kemas di berbagai depo yang ada saat ini. Banyak peti kemas yang datang dari luar negeri namun belum sempat diekspor kembali, sehingga menumpuk di area penyimpanan.

“Peti kemas yang datang banyak, sedangkan yang diangkut kurang. Sehingga itu jadi penumpukan. Dan ini sudah overload (kelebihan muatan), sehingga ditaruh di depo-depo yang ada saat ini,” jelas Budi.

Selain masalah penumpukan, truk-truk pengangkut juga terus berdatangan untuk mengantar maupun mengambil peti kemas kosong. Kondisi ini memperparah situasi karena para truk tersebut juga ingin masuk membawa peti kemas yang kosong ke dalam depo. Akhirnya, terjadi penumpukan kendaraan di area yang seharusnya lebih longgar.

“Nah, di satu sisi para truk ini juga ingin masuk membawa peti kemas yang kosong. Akhirnya menumpuklah di situ,” ucap Budi.

Solusi Meningkatkan Kapasitas Depo

Sebagai salah satu solusi jangka panjang, Dishub DKI akan meminta pengelola terminal peti kemas untuk meningkatkan kapasitas penumpukan peti kemas. Tujuannya adalah agar penumpukan tidak kembali terjadi di masa mendatang. Budi Awaluddin menjelaskan bahwa batas kapasitas saat ini masih relatif rendah dan perlu ditingkatkan secara signifikan.

“Ini yang kami juga akan meminta ke depannya agar batas kapasitasnya bisa ditingkatkan. Seperti itu. Kalau memang saat ini kan 65 persen, bisa 75 atau 85 persen Sehingga kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” ujar Budi.

Peningkatan kapasitas ini diharapkan dapat menampung lebih banyak peti kemas tanpa menyebabkan gangguan lalu lintas yang berarti. Para pengelola depo akan diberikan waktu untuk menyesuaikan operasional mereka sesuai dengan ketentuan baru yang akan ditetapkan.

Rekayasa Lalu Lintas dan Pengalihan Arus

Adapun Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta memberlakukan rekayasa lalu lintas dengan menutup sementara putaran Cakung di kawasan Cakung-Cilincing. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi kepadatan arus kendaraan, khususnya antrean truk kontainer yang melintas di area tersebut. Penutupan sementara ini memungkinkan arus kendaraan mengalir lebih lancar ke arah lain.

Budi Awaluddin menyebut, pihaknya mengalihkan arus kendaraan menuju kawasan Terminal Tanah Merdeka, yang dinilai lebih memadai sebagai tempat menunggu dibandingkan antre di badan jalan. Terminal Tanah Merdeka memiliki kapasitas yang cukup besar dan mampu menampung sekitar 200 truk kontainer secara bersamaan. Fasilitas ini dilengkapi dengan area istirahat yang nyaman bagi para pengemudi.

Para pengemudi dapat beristirahat maupun menunggu hingga kondisi lalu lintas kembali normal atau sampai waktu yang tepat untuk melanjutkan perjalanan. Terminal ini juga menyediakan fasilitas pendukung seperti toilet, warung makan, dan area parkir yang luas. Hal ini membantu mengurangi kelelahan para sopir truk kontainer selama masa penantian.

Budi mengimbau, truk kontainer yang hendak melakukan putar arah agar mengikuti pengalihan yang telah disiapkan petugas menuju putaran lain maupun ke Terminal Tanah Merdeka. Petugas lalu lintas ditempatkan di berbagai titik strategis untuk memastikan pengalihan berjalan sesuai rencana. Koordinasi dengan kepolisian juga dilakukan untuk memastikan keamanan lalu lintas selama masa rekayasa ini.

Kondisi kemacetan di Cakung telah menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah maupun masyarakat setempat. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi masalah ini secara komprehensif. Dengan adanya rapat koordinasi dan peningkatan kapasitas depo, diharapkan kondisi lalu lintas di kawasan Cakung akan membaik dalam waktu dekat. Masyarakat diharapkan dapat bersabar selama masa transisi ini berlangsung.

MORE FROM THIS CATEGORY